Zakat Fithri

Taqdim

Bulan Ramadhan adalah bulan bertabur berkah. Salah satu keberkahannya bahwa di bulan itu Allah membelenggu para pembesar syaithan hingga mereka tidak akan seleluasa waktu-waktu lain dalam menggoda dan menggelincirkan manusia. Namun demikian, tidak berarti bahwa manusia dapat aman secara sempurna dari gangguan dan godaannya. Bahkan ternyata tidak sedikit dari kaum muslimin yang masih saja –disadari atau tidak- melakukan hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaan nilai puasanya di sisi Allah. Maka untuk menutupi kekurangan tersebut, yang sekaligus kembali menunjukkan berkah Allah di bulan mulia ini, adalah ketika Allah syari’atkan zakat fithri sebagai bagian dari puasa Ramadhan untuk menyempurnakan dan memperbaiki kualitas puasa hamba di sisi Allah.

Asal Penamaan

Jenis zakat ini dinamakan zakat fithri sebagai bentuk penisbahan kepada waktu wajib dikeluarkannya zakat tersebut, yaitu ketika matahari telah tenggelam di akhir bulan Ramadhan, pada waktu dimana orang-orang telah berifthar (berbuka puasa, mengawali masuknya tanggal satu, bulan syawwal) [Iyqaadzh al afhaam syarhu umdati al ahkaam”, (3/107); dan “Subul as salaam”, (3/244)]. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

 زَكَاةُ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Zakat fithri dari Ramadhan.”.[HR. Abu Daud, 2 /26], maksudnya bahwa zakat fithri itu wajib ketika tiba waktu berbuka (fithri) di akhir bulan Ramadhan.”. [Fiqhu as Sunnah”, (1/412)].

Selain itu ada juga yang menamakannya zakat fithrah. Fithrah sendiri berarti asal penciptaan (jiwa). Ibnu Qutaibah -rahimahullah- berkata;

المراد بصدقة الفطر صدقة النفوس مأخوذ من الفطرة التي هي أصل الخلقة

“Yang dimaksud dengan zakat fithri adalah zakat jiwa, al-fithri diambil dari asal kata al-fithrah yang maknanya adalah asal penciptaan manusia.”. [Umdatu al Qaari’e syarhu sahih al Bukhari, 14/137]. Maksud penamaan ini untuk mengisyaratkan bahwa jenis zakat ini adalah zakat jiwa (badan), wajib dikeluarkan oleh setiap jiwa / setiap orang yang memenuhi syarat wajibnya –sebagaimana akan disebutkan-, dan tidak berkaitan dengan harta (nominal harta tertentu bukan merupakan syarat wajibnya).

Pengertian

Secara terminologi zakat fitrah adalah shodaqoh wajib yang dikeluarkan saat (berbuka) di hari terakhir bulan Ramadhan. 

Hukum zakat fitrah

Zakat fitrah hukumnya wajib bagi setiap muslim sebagaimana hadist dari ibnu ‘umar radiyallahu ‘anhuma, Beliau berkata :

فَرَضَ رَسُوْلُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الِفِطْرِ صَاعًا مِنَ تَمرٍ أَوصَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَلأُنْثَى ، وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ.

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah 1 sha’ dari kurma atau 1 sha’ dari gandum kepada para hamba sahaya dan orang-orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan dewasa dari kaum muslimin. Dan Rasulullah memerintahkan untuk menunaikan zakat fitah tersebut sebelum keluarnya manusia menuju tempat shalatn I’ed.”. ( HR Bukhari no 1503 dan Muslim no 984).

Syarat wajib zakat fitrah

Sebagaimana zakat maal, maka zakat fitrah juga mempunya syarat wajib. Syarat-syarat itu adalah sebagai berikut :

1. Muslim

Karena zakat fitrah adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah yang diantara fungsinya adalah untuk mensucikan orang yang berpuasa. Dan sebuah ibadah tidak akan diterima melainkan dari seorang muslim.

2. Nishab 

Nishab zakat fitrah berbeda dengan zakat maal (harta). Adapun zakat fitrah, maka nishabnya adalah bila seseorang telah memiliki makanan untuk dirinya dan juga makanan untuk orang yang menjadi tanggungannya pada malam ‘ied dan pada hari ‘ied nya, maka wajib baginya mengeluarkan zakat fitrah. Ini adalah pendapat jumhur ‘ulama dari al malikiyyah, assyafi’iyyah, dan al hanabilah.( Al Mughni jilid 3 halaman 402).

Siapakah yang harus mengeluarkan zakat fitrah?

Para ‘ulama mengatakan berdasarkan atsar Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhuma bahwa Beliau mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya, keluarga, dan mantan budaknya Nafi’. Maka siapapun yang wajib memberi nafkah, dialah yang wajib mengeluarkan zakat fitrah dari orang-orang yang wajib dinafkahinya.

Ukuran wajib zakat fitrah

Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata :

كُنَّا نخْرجُ زَكَاةَ الْفِطْرِإِذْ كَانَ فِيْنَا رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم صَاعًا مِن تَمْرٍ ، أَو صاعا مِن زَبِيْبٍ أو صَاعا مِن أقط

“Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam masih bersama kami, maka kami mengeluarkan (untuk zakat fithri) satu sha’ dari makanan kami berupa kurma, kismis, dan susu yang dikeringkan.”. ( HR Bukhari no 1505).

Terdapat perbedaan ulama tentang ukuran satu sha’  nabawi. Diantara mereka ada yang mengambil ukuran rata-rata satu sha’ dari telapak tangan Rasulullah, maka ini lebih sedikit dari ukuran zaid bin tsabit, yaitu sekitar 3,25 liter. Dan bila dikonversi ke dalam ukuran berat maka kurang lebih 2,5 kg.

Bolehkah mengeluarkan zaktanya berupa uang dan bukan makanan pokok?

Bila kita mengeluarkan dengan uang kemudian kita meminta kepada yang mewakilkan atau pihak yang mengumpulkan zakat agar dibelikan beras, maka tidak ada perbedaan para ulama bahwa hal itu boleh.

Akan tetapi, ulama berbeda pendapat jika uang itu dibayarkan langsung kepada fakir miskin sebagai pengganti makanan pokok;

Pendapat pertama, tetap sah zakatnya walaupun dengan uang.

Dalil pendapat pertama, bahwa tujuan zakat fitrah adalah untuk kemaslahatan bagi fakir miskin, dan bila mereka menerima uang maka mungkin kemaslahatannya akan lebih besar bagi mereka.

Pendapat kedua, tidak boleh dengan uang dan zakatnya tidak sah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari mazhab syafi’iyyah, malikiyyan , dan al hanabilah.

Dalil pendapat kedua, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkan zakat 1 sha’ berupa makanan pokok dan Beliau dan para sahabat tidak pernah sekalipun mengeluarkan zakat fitrahnya berupa uang.

Wallahu Ta’ala a’lam pendapt kedua adalah lebih kuat dan lebih hati-hati.

Waktu wajib mengeluarkan zakat fitrah

Berdasarkan hadist dari ibnu umar bahwa Rasulullah shalallaju ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithrah ini saat berbuka, dihari terakhir bulan ramadhan, yang bertepatan dengan terbenamnya matahari ketika itu, maka diketahui bahwa waktu wajibnya mengeluarkan zakat fithri adalah sebagaimana yang disebutkan.

Olehnya, barangsiapa mendapati Ramadhan walau sesaat dan tetap hidup hingga masuknya awal bulan syawwal, ketika matahari telah terbenam di akhir bulan Ramadhan; maka wajiblah atasnya mengeluarkan zakat fithri.

Namun barangsiapa meninggal beberapa menit sebelum terbenamnya matahari diakhir bulan Ramadhan, maka tidaklah wajib atasnya zakat fithri.

Zakat fithri juga wajib atas orang yang baru masuk Islam beberapa saat sebelum Maghrib, akhir Ramadhan. Tetapi jika ia masuk Islam setelah maghrib, akhir bulan Ramadhan, maka tidak wajib atasnya mengeluarkan zakat fithri.

Imam Ibnul Mundzir menukilkan dalam Al-Ijma’ bahwasannya tidak ada kewajiban zakat atas janin yang belum lahir (janin yang telah ditiupkan ruh padanya) [al Ijma’, hal. 46]. Namun jika dikeluarkan zakatnya, maka hal itu adalah sesuatu yang baik dan bernilai sedekah. Terlebih bahwa hal ini telah dicontohkan oleh Utsman bin ‘Affan -radhiyallahu ‘anhu, Beliau mengeluarkan zakat fithri untuk janin [Lihat “al Mughni”, 2/713].

Lantas bagaimana jika zakat tersebut dikeluarkan sebelum waktu yang disebutkan ?.

Dibolehkan mengeluarkannya sehari atau dua hari sebelum waktu wajibnya, sebagaimana perbuatan Ibnu Umar, yang disampaikan oleh Nafi’, Beliau berkata :

كان ابن عمر يُعطيها الذين يقبلونها ، وكانوا يعطون قبل الفطر بيوم أو يَومَين

Dahulu ibnu umar memberikan zakat fitrahnya kepada yang berhak menerimanya, dan Beliau mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari raya i’edul fithri. (HR Bukhari no 1511).

Batas akhir pembayaran zakat fithri

Adapun waktu berakhirnya yaitu ketika didirikannya shalat idul fithri, sebagaimana hadist dari ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Siapa yang membayar zakat fitrah sebelum shalat ied maka diterima oleh Allah dan barang siapa yang membayarnya setelah shalat ied maka dia hanya sedekah biasa.”. (HR Abu Dawud no 1609  dihasankan oleh syekh albani).

Namun bagi yang terlambat menyalurkan zakat fithrinya, meski Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa yang dikeluarkannya itu tidak ubahnya sedekah biasa, akan tetapi tetap dia wajib mengeluarkan zakat fitrah tersebut dan tidak gugur kewajibannya meskipun telah lewat waktunya.

Dimana zakat fitrah diberikan?

Zakat fitrah disalurkan mengikuti keberadaan orang yang mengeluarkan zakat fitrah pada waktu wajibnya. Maka dimanapun keberadaan seorang muslim pada hari wajibnya tersebut, disanalah tempat yang lebih utama untuk mengeluarkan zakat fitrah.

Meski demikian, dibolehkan bila ada kemaslahatan/kebutuhan untuk kaum muslimin menyalurkan zakat fitrah tersebut ke tempat lain.

Orang yang berhak menerima zakat fitrah

Para ulama berbeda pendapat tentang siapakah yang berhak menerima zakat fitrah :

Pendapat pertama, yang berhak menerima zakat fitrah adalah mereka yang masuk pada delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagaimana firman Allah dalam surah At Taubah, ayat 60. Ini adalah pendapat jumhur ulama al hanafiah, as syafiiyyah, dan al hanabilah.

Pendapat kedua, hanyalah fakir miskin saja yang berhak menerima. Ini adalah pendapat mazhab al malikiyyah. Mereka berdalil dengan hadist dari ibnu Abbas, bahwasannya Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai pensucian bagi orang yang berpuasa dan untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi fakir-miskin di hari itu (hari raya). (HR Abu Dawud, no 1609 dihasankan oleh Albani).

Dari kedua pendapat yang dikemukakan, maka pendapat yang paling kuat adalah pendapat kedua sesuai makna dzahir yang dipahami dari hadist Ibnu Abbas. Demikian ini adalah pendapat Ibnu Taimiyyah dan mazhab malikiyyah. (shahih fiqih sunnah jilid 2 halaman 76)

 

Wallahu a’lam bis shawaab

 

️ Penulis : Ustadz Mukhtar, Lc

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *