Waktu, Modal Utama untuk Tidak Merugi

Kaitan antara waktu dan kerugian dalam kehidupan seorang muslim sangatlah erat. Ini sebagaimana diisyaratkan oleh Allah Subhanahu wata’aala :

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi”. (Surah Al-Ashr ayat 1-2)

Waktu adalah kesempatan bagi setiap hamba untuk menghamba kepada Allah. Dan setiap hamba telah diberikan modal oleh Allah Subhanahu wata’aala agar digunakan untuk menghamba kepadaNya.

Ada yang diberikan modal harta, ada yang diberikan modal kecerdasan lebih, kekuatan fisik di atas rata-rata dan modal-modal lainnya.

Namun modal-modal tersebut sifatnya adalah sekunder dan pelengkap karena yang paling primer dan terpenting adalah waktu, yang mana waktu sejatinya adalah umur kita sendiri.

Seorang anak manusia masih bisa menambah amal sholehnya walaupun tidak punya modal harta, modal kesehatan, modal kecerdasan lebih,  dan tidak memiliki modal sekunder lainnya. Namun dengan hilangnya modal waktu, hilang pula semua kesempatan  untuk menambah pundi-pundi amal shaleh.

Dengan berakhirnya umur, kesempatan mengganti  kekufuran dengan keimanan hilang, tidak mungkin lagi merubah maksiat menjadi amal taat. Bertambahnya bekal menuju akhiratpun menjadi terputus.

Bencana besar jikalau modal waktu disia-siakan. Lihatlah bagaimana si kafir sangat menyesal pada hari Kiamat dengan kekufurannya dan dia ingin kembali mendapatkan modal utama itu, tetapi apalah daya, waktu takkan pernah kembali. Allah Subhanahu wata’aala berfirman tentang mereka :

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan jika kamu melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan)”. (Surat Al-An’am ayat 27)

Jika waktu habis dan kematian datang, orang yang acuh tak acuh dan kurang perhatian  dalam amal sholeh pun menyesal. Diapun berharap bisa kembali ke dunia barang sebentar saja, agar bisa bersedekah dan beramal sholeh. Allah berfirman :

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”. (Surat Al-Munafiqun ayat 10)

Olehnya, janganlah kita menjadi orang yang pada hari penyesalan (hari kiamat) termasuk orang-orang yang menyesal. Yang mana penyesalan di hari itu tidaklah bermanfaat sedikit pun. Ingatlah peringatan dari Allah :

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman”. (Surat Maryam ayat 27). Jangan sekali-kali termasuk manusia yang dikatakan oleh Allah :

أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِين

“Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah)”. ( Surat Azzumar ayat 56)

 Mari gunakan modal utama ini dengan semaksimal mungkin agar kita tidak termasuk orang-orang yang merugi.

 Wallahu A’lam

 

 ️ Penulis : Ustadz Abdusshomad Rifai, Lc

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *