Shalat Dengan Rambut Menutupi Tempat Sujud

Pertanyaan :

Mas mau tanya lagi.kalau solat kan Kepala harus dibuka (maksufah), bahkan satu rambut  ada yg menghalangi sujud bisa menjadikn shalat tidak sah. Lalu bagaimana andai ada org sholat pakai kaos kaki.  sholatnya sah apa tdak. Nuwun.

Jawaban :

Satu diantara kewajiban shalat adalah menempelkan dahi ke tempat sujud, tanpa ada penghalang antara tempat sujudnya itu dengan dahinya.

Adapun jika penghalang itu adalah rambut orang yang sujud itu sendiri, maka hal tersebut tidaklah mengapa, karena rambut itu adalah bagian yang secara asal bersambung dengan dahi seseorang.

Berkaitan dengan jenis penghalang tersebut, ulama merincikannya sebagai berikut :

  1. Penghalang yang berasal dari sesuatu yang terpisah dari orang tersebut, misalnya ; sejadah, kain atau selainnya.

Menggunakan jenis ini di dalam shalat adalah mubah. Maimunah radhiyallahu ‘anha berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat dengan tikar yang dibentangkan (untuk sujud).”. (HR. Bukhari dan Muslim). Mengomentari hadits ini, Imam Syaukaani rahimahullah berkata;

وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لا بَأْسَ بِالصَّلاةِ عَلَى السَّجَّادَةِ

“Hadits ini menunjukkan bolehnya shalat menggunakan sejadah.”. (Nailul Authaar, 2/150)

  1. Penghalang yang berasal dari sesuatu yang menempel pada tubuhnya, seperti kain bajunya, bagian dari kopiah atau serbannya, dan yang semisalnya.

Menjadikan jenis ini sebagai alas ketika sujud adalah makruh kecuali jika ada hajat. Olehnya, suatu ketika masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diguyur hujan. Setelah shalat, Abu Sa’ied berkata;

فَأَبْصَرَتْ عَيْنَايَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ وَعَلَى جَبْهَتِهِ وَأَنْفِهِ أَثَرُ الْمَاءِ وَالطِّينِ

“Ketika itu saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beranjak (dari tempatnya) sedang di dahi dan hidungnya ada bekas air dan tanah.”. (HR. Malik). Hadits ini menunjukkan bahwa meletakkan dahi secara langsung ke tempat sujud adalah hal yang sangat ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan meski dalam keadaan seperti yang disebutkan dalam keterangan tersebut. Hanya saja, jika benar-benar ada hajat untuk menggunakannya, maka ketika itu tidak mengapa menggunakannya. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata;

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ، فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ جَبْهَتَهُ مِنَ الْأَرْضِ، بَسَطَ ثَوْبَهُ، فَسَجَدَ عَلَيْهِ

“Kami pernah shalat bersama Rasulullah pada saat matahari sangat terik. Ketika itu, apabila salah seorang kami tidak sanggup menempelkan dahinya ke tanah, maka ketika sujud, ia bentangkan (bagian dari) pakaiannya untuk tempat sujudnya.”. (HR. Muslim)

  1. Penghalang yang –juga- merupakan anggota sujudnya, misalnya seorang menjadikan telapak tangannya sebagai tempat sujudnya.

Jenis penghalang demikian adalah tidak boleh; sujud orang itu tidak sah dan oleh karena itu maka shalatnya pun batal.

Adapun shalat dengan menggunakan kaos kaki atau sepatu, maka ulama telah sepakat menyatakannya boleh, pembahasannya dapat dilihat pada bab al mashu ‘alal khuf pada kitab thaharah, dalam buku-buku fiqh.

Baarakallahu fiekum

 

✍ Penulis : Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *