Sepuluh Wasia Allah (bag. 1)

Allah ta’ala menurunkan agama yang mulia ini untuk mengeluarkan manusia dari jalan yang gelap gulita dan menuntun mereka ke jalan yang terang benderang. Untuk tujuan itu pula, maka Allah menurunkan kitab-Nya yang mulia sebagai pedoman dan tuntunan hidup bagi mereka.

 Maka untuk meraih hidup yang lebih berarti dan bermanfaat, manusia haruslah berpegang teguh dengan ajaran agama yang mulia ini. Tidak ada jalan yang mungkin mereka tempuh untuk meraih kebahagiaan hidup ini melainkan dengan berkomitmen terhadap agama Allah.

Pada hakikatnya, seluruh bagian dari agama Allah adalah wasiat Allah kepada manusia. Wajib bagi mereka mengamalkan wasiat itu, jika mereka ingin mendapatkan kemuliaan dari Allah. Allah ta’ala berfirman menyatakan bahwa seluruh bagian dari agama ini adalah wasiat-Nya; 

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ [الشورى/13]

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.”. (as Syuura; 13)

Namun demikian, diantara ayat Allah ada beberapa ayat yang dikhususkan dengan disebutkannya ayat-ayat itu sebagai wasiat Allah. Pengkhususan ini tentunya memberi isyarat akan urgennya kandungan ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat yang dimaksud adalah tiga ayat dari surah al An’am,  ayat 151-153, yang dikenal dengan istilah “al Washaaya al ‘Asyr” (sepuluh wasiat Allah). 

Sepuluh wasiat tersebut adalah wasiat Allah yang abadi, yang telah diberikan kepada nabi dan Rasul sebelum Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan tidak pernah dinaskh (dihapuskan) dalam syari’at manapun hingga syari’at Rasulullah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam-.  Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي عَلَيْهَا خَاتَمُهُ، فَلْيَقْرَأْ :  ” قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ  ”  إِلَى قَوْلِهِ  ” لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “

“Barang siapa yang ingin melihat wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tertera diatasnya cincin stempel milik Beliau, maka hendaklah ia membaca firman AllahTa’ala:…(surah Al-An’am151-153). Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- berkata;

هذه الآيات المحكمات التي ذكرها الله في سورة ” الأنعام ” أجمعت عليها شرائع الخلق, ولم تنسخ قط في ملة.

“Ayat-ayat muhkam (jelas) yang disebutkan Allah dalam surat “al An’aam” ini, adalah ayat-ayat yang disepakati dalam seluruh syari’at, dan ayat-ayat tersebut tidaklah dihapus (mansukh)”. ‘Ubadah bin Ash-shaamit -radhiyallahu ‘anhu- berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

أيكم يبايعني على ثلاث ثم تلا رسول الله صلى الله عليه وسلم ؛ “قل تعالوا أتل ما حرم ربكم عليكم” حتى فرغ من هذه الآيات فمن وفى فأجره على الله ومن انتقص منهن شيئا فأدركه الله به في الدنيا كانت عقوبته ومن أخر إلى الآخرة فأمره إلى الله إن شاء عذبه وإن شاء عفا عنه

“Siapakah yang ingin membai’atku atas 3 ayat ini, kemudian Beliau membaca 3 ayat dalam surat Al-an’am (151-153). Setelah usai membaca ke-3 ayat tersebut, Beliau bersabda; barangsiapa yang melaksanakan seluruh wasiat yang terkandung dalam ke-3 ayat tersebut, niscaya Allah -ta’ala- lah yang akan memberinya pahala. Namun barangsiapa yang melanggar salah satu dari wasiat tersebut, kemudian Allah –ta’ala- mengadzabnya di dunia, maka yang demikian itulah hukuman atasnya. Dan barangsiapa yang hukumannya diakhirkan oleh Allah -ta’ala- hingga hari kiamat, maka perkaranya kembali kepada Allah -ta’ala-; jika Ia kehendaki, Ia akan mengazabnya; dan jika Ia kehendaki, Ia akan mengampuninya”.

Demikianlah beberapa keterangan yang menginformasikan kepada kita akan keutamaan dari tiga ayat yang telah disebutkan, sekaligus menginformasikan tentang sebab penamaan ayat-ayat tersebut dengan “al washaaya al ‘asyr” (sepuluh wasiat Allah).

Dan disamping sebab yang telah disebutkan, sebab lain –wallahu a’lam- adalah karena pada setiap akhir dari tiga ayat tersebut, Allah ta’ala berfirman;

ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِه  

“Demikian itu yang diwasiatkan kepadamu … “. Allah ta’ala mengulangi firman-Nya ini pada setiap akhir dari tiga ayat tersebut. Olehnya itu –wallahu a’lam-, ayat-ayat ini dikhususkan dengan istilah “sepuluh wasiat Allah”. 

📒 10  Wasiat  dalam 3 ayat ini;

  1. Tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia.
  2. Berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa.
  3. Tidak membunuh anak-anak karena takut kemiskinan.
  4. Tidak mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi.
  5. Tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.
  6. Tidak mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfa`at, hingga ia dewasa.
  7. Menyempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.
  8. Berlaku adil kepada setiap orang.
  9. Memenuhi janji kepada Allah -ta’ala-.
  10. Mengikuti jalan Allah -ta’ala- yang lurus.

(Bersambung  in sya Allah)

  

Penulis : Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *