Sengsara Membawa Nikmat

Allah Subhanahu wata’ala berfirman menceritakan tentang Yusuf ‘alaihissalam:

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana” [Surat Yusuf ayat 100]

 Pada ayat tersebut,  Yusuf berkata :

 إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ

“Sungguh, Tuhanku Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki” (Surat Yusuf ayat 100)

Inilah pemahaman yang sangat dalam dari seorang Nabi Yusuf.  Setelah melalui berbagai fase kesulitan dan cobaan dalan hidup beliau,  Beliau mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi. Dan beliau dengan penuh keyakinan tanpa ragu menyatakan bahwa itu semua adalah berasal dari luthf (kelembutan) Allah Subhaanahu wata’ala.  Bahwa kesengsaraan yang ia jalani selama ini adalah untuk meninggikan derajat dan memuliakan nilai Beliau di sisi Allah dan di sisi makhlukNya.

Haruslah kita juga mencontoh  Nabi Yusuf.  Sebagai seorang hamba yang beriman kepada Allah,  hendaknya selalu berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala. Termasuk pada kondisi di mana seorang hamba harus berada pada beberapa dimensi kehidupan,  diterpa berbagai ujian dan cobaan dari Allah Azza wajalla. Dalam kondisi turun cobaan berat,  ada kesempitan dan dihinggapi berbagai problematika kehidupan,  tetaplah kita berbaik sangka kepada Allah Dzat yang Maha Bijaksana. Bisa jadi musibah,  cobaan dan kesempitan tersebut adalah tangga menuju kemuliaan yang akan Allah berikan kepada kita.  Allah dengan kelembutan dan kasih sayangNya bisa menjadikan tetesan darah dan air mata menjadi tetesan kemuliaan. 

Inilah di antara makna “kemahalembutan” Allah kepada hambanya.  Allah jadikan segala cobaan dunia kepada hambaNya adalah untuk memuliakannya.  Wallahu A’lam

 

 ️ Penulis : Ustadz Abdusshomad Rifai, Lc

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *