Sempurna Dalam Memaafkan

Dalam surat Yusuf ayat ke 100, Allah berfirman tentang tulus dan sempurnanya maaf Nabi Yusuf kepada saudara -saudaranya. Dia berfirman :

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan Yusuf menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana”. [Surat Yusuf ayat 100]

Sifat pemaaf sangat didorong di dalam agama Islam,  agama kasih sayang.  Sebesar apapun kesalahan seseorang kepada kita,  kalau dia datang untuk meminta maaf maka pintu maaf harus selalu terbuka.  Itulah sifat hamba yang saleh,  yang kuat hubungannya dengan Allah dan baik pula hubungannya kepada sesama,  diantaranya dengan selalu menyediakan maaf dalam berinteraksi dengan orang lain.

Sifat pemaaf adakah sifat yang sangat luhur dan mulia.  Para Nabi senantiasa menghiasi diri dengan sifat mulia ini.  Perhatikanlah bagaimana Nabi Allah Yusuf Alaihissalam sebagaimana ayat di atas,  tetap memaafkan dengan maaf yang sempurna terhadap perlakuan jahat saudara-saudaranya. 

Di kala Yusuf menjadi pembesar dan memiliki kekuatan serta kesempatan untuk bisa melampiaskan dendamnya, beliau mendahulukan sifat memaafkan daripada pelampiasan.  Dan maaf beliau adalah maaf yang sempurna dengan tidak menyebut-nyebut kesalahan dan perlakuan buruk dari saudara-saudaranya.

 Beliau hanya mengatakan :

وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي

“Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kalian dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku”.

Beliau hanya menyebutkan kondisi beliau ketika di penjara, beliau tidak menyinggung dan mengingat -ingat perlakuan buruk saudara – saudara beliau sampai di lempar ke dalam sumur.  Beliau sebagai pembesar yang memiliki apa yang diminta oleh saudara-saudara beliau,  tidak menyinggung bahwa mereka datang karena kelaparan dan paceklik,  tapi beliau katakan bahwa itu adalah kebaikan dari Allah, bahwa Allahlah yang membawa mereka kepada beliau.

Beliau juga tidak tidak menyandarkan keburukan kepada saudara -saudaranya,  bahwa yang beliau dapatkan berupa perlakuan buruk dari saudaranya adalah karena “setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku”

Itulah pintu maaf yang terbuka lebar dan sempurna tanpa mengungkit kembali sedikitpun keburukan orang yang meminta maaf.  Ya Allah jadikanlah kami orang yang suka memaafkan dengan maaf yang sempurna.

 

️ Penulis : Ustadz Abdusshomad Rifai, Lc.

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *