Selayang Pandang

Selayang Pandang
Berdirinya Ma’had ‘Aliy (MA) Al Binaa Program Pengkaderan Para Dai dan Imam

Berlokasi di Jl Pebayuran, Kertasari, Pebayuran, Bekasi, Jawa Barat, berdirilah Ma’had ‘Aliy (MA) Al Binaa Program Pengkaderan Para Dai dan Imam. Diresmikan alhamdulillah pada tanggal 27 April 2017.

Tujuan pokok dari pendirian Ma’had ‘Aliy (MA) Al Binaa Program Pengkaderan Para Dai dan Imam ini adalah mencetak kader yang memiliki kompetensi yang baik sebagai dai dan imam –secara khusus- dan -secara umum- diharapkan menjadi ulama masa depan yang berkualitas yang dapat menjadi pelopor dakwah Islam dan pemandu umat menuju kebangkitannya sebagaimana visi dan orientasi perjuangan dakwah Pondok Pesantren Al Binaa.

Sebetulnya program pendidikan para dai dan imam setingkat perguruan tinggi ini bukanlah hal
baru di Indonesia. Namun karena adanya keinginan yang kuat untuk turut andil dalam proyek besar mencetak generasi-generasi tangguh dan mumpuni dalam dakwah fi sabilillah, maka Pondok Pesantren Al Binaa –tentu- tidak ingin ketinggalan dalam proyek kebaikan tersebut. Keinginan untuk mendirikan institusi pendidikan tinggi ini sebenarnya telah lama terpendam, dan alhamdulillah dengan rahmat serta izin Allah baru dapat terealisasi pada tanggal 27 April 2017.

Secara historis eksistensi ma’had ‘aliy di Indonesia pada awalnya muncul dari beberapa pesantren -terutama di Jawa- sebagai upaya pengembangan dari program takhasshush yang merupakan jenjang pendidikan tingkat tinggi dalam tradisi pendidikan pondok pesantren, khususnya yang mempertahankan sistem klasik dengan orientasi pengkaderan ulama. Melalui jenjang takhasshush inilah dibina para kader ulama yang memiliki kompetensi tertentu sesuai dengan bidang spesialisasi keilmuan yang diprogramkan. Secara umum, meskipun institusi takhasshush ini bersifat non formal dan tidak pernah pengelolanya berurusan dengan pemerintah untuk mendapat pengakuan dan penyetaraan secara formal, namun dari segi efektifitas dapat dikatakan berhasil dan kualitas lulusannya dapat diunggulkan. Bisa ditebak dengan mudah, siapa yang lebih mendalam penguasaan ilmu-ilmu fiqih beserta segenap ilmu-ilmu alatnya (bahasa arab, ilmu tafsir, musthalah hadis, dsb) antara seorang alumni takhasshush fiqih dari sebuah pondok pesantren misalnya, dengan seorang luluasan S1 dari fakultas syari’ah suatu perguruan tinggi agama Islam yang formal di negeri ini baik negeri maupun swasta. Padahal, rumusan misi dan tujuan kedua lembaga di atas bisa dipastikan sama atau -paling tidak- hampir sama atau mirip-mirip.

Mengapa hal itu bisa terjadi?. Banyak faktor yang terkait; namun yang paling mendasar adalah persoalan penerjemahan orientasi pendidikan dalam tataran operasionalnya, yang bila lebih dijabarkan akan tercakup dengan sendirinya persoalan kurikulum, metodologi, pendidik/pengajar, anak didik/anak ajar, lingkungan dan sebagainya.

Memperhatikan efektifitas program takhasshush atau ma’had ‘aliy di satu sisi dalam upaya mencapai misi pendidikannya, dan menyadari fenomena dis-orientasi yang terjadi secara umum pada PTAI pada sisi yang lain, DEPAG RI melalui Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren (Ditpekepontren) secara serius memelopori upaya pengembangan ma’had ‘aliy yang ada di pesantren, menjadikannya sebagai suatu institusi formal dan menyetarakannya dengan perguruan tinggi Islam (PTAI) yang ada, akan tetapi pola pendidikan dan tradisi kesarjanaan kepesantrenan tetap dipertahankan, orientasinya jelas ialah menghasilkan para ulama yang selain memiliki potensi karismatik dan kepemimpinan tentu berbekal penguasaan ilmu-ilmu Islam yang memadai dan secara khusus memiliki satu bidang spesialisasi yang menjadi area kompetensi keilmuannya.

Adanya konsep ma’had ‘aliy yang tengah dikembangkan oleh DEPAG RI sebagai perguruan tinggi khas untuk kaderisasi ulama (bukan cendekiawan) inilah yang kemudian dipandang oleh para pimpinan pesantren Al Binaa dan kalangan asatidzah sangat relevan dengan plat-form gerakan dakwah Al Binaa yang didasari oleh manhaj Salaf yang salah satu prinsipnya adalah “al-‘ilm qabla al-qaul wa al-’amal” (berilmu sebelum berkata dan berbuat).

Dalam konteks gerakan dakwah, prinsip tersebut mengharuskan keberadaan orang-orang yang memiliki penguasaan ilmu (syar’i) yang mendalam (minimal memadai) sebagai ikon utama dalam usaha dakwah menuju pencapaian tujuan-tujuannya. Demikian inilah kiranya hal yang menjadi sebuah stimulus bagi para pimpinan Pesantren dan asatizah Al Binaa untuk merintis berdirinya sebuah Ma’had Aly, hingga akhirnya –dengan segala keterbatasannya- lahirlah MA Al Binaa Program Pengkaderan Para Dai dan Imam.

Demikianlah sekilas tentang latar belakang berdirinya Ma’had ‘Aliy (MA) Al Binaa Program Pengkaderan Para Dai dan Imam. Tentu di usianya yang masih sangat dini ini, sangat banyak yang harus dibenahi dari hal-hal yang sifatnya internal maupun eksternal.

Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan kepada kami, segenap pengelolah Ma’had Aly Al Binaa ini; mengaruniakan keikhlasan dan keistiqamahan untuk memberi yang terbaik bagi agama yang mulia ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *