Penjelasan Umdatul Ahkaam (*)

Muqaddimah 

Peserta kajian albinaamenyapa yang sama dirahmati Allah, mulai edisi ini dan selanjutnya, in sya Allah diantara materi rubrik yang disampaikan akan memuat bahasan berlanjut yang diambil dari kumpulan hadits dalam buku “Umdatul Ahkaam Min Kalaami Khairil Anaam”.

Buku “Umdatul Ahkaam” ini adalah kitab yang dikarang oleh Syaikh Taqiyuddin Abu Muhammad Abdul Ghaniy Ibnu Abdil Waahid ibni Aliy al Maqdisiy al Hambali rahimahullah. Beliau lahir tahun 541 H, dan wafat tahu 600 H.

Tentang Beliau, imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata;

رحم الله الحافظ عبد الغني فقد كان نادراً في زمانه في الحديث وأسماء الرجال

“Semoga Allah merahmati al Hafidzh Abdul Ghaniy. Beliau adalah tokoh yang sangat mumpuni dalam bidang hadits dan perawinya. Jarang didapati tokoh sezamannya yang memiliki tingkat kredibilitas sama dengan Beliau.”.

Buku “Umdatul Ahkaam” ini adalah buku yang memuat hadits-hadits inti dalam masalah-masalah hukum fiqh. Hadits-hadits pilihan tersebut –sebagian besarnya- diambil dari hadits-hadits yang telah disepakati oleh imam Bukhari dan imam Muslim (Muttafaq ‘alaih. Selebihnya adalah hadits-hadits yang diriwayatkan secara bersendiri oleh imam Bukhari atau imam Muslim saja.

Karena muatannya yang berisi hadits-hadits inti yang shahih dan mencakup seluruh bahasan fiqh, maka kitab ini adalah satu dari kitab referensi yang sangat penting dan sangat istimewa. Belum lagi ditambah dengan pelajaran-pelajaran tarbawi yang in sya Allah akan didapatkan dari hadits-hadits tersebut berdasarkan penjelasan para ulama yang secara khusus mencurahkan potensinya untuk menjelaskan buku “Umdatul ahkaam ini”. Olehnya itu, maka jika seorang membaca kitab “Ad Dhaw al Laamie li ahli al Qarn at Taasi’e “, maka ia akan mendapati hampir seluruh ulama yang hidup pada masa itu (abad ke-9 H) menghafal Umdatul Ahkaam[4].

Perlu diketahui bahwa imam Abdul Ghaniy rahimahullah telah menulis dua buku “Umdatul ahkaam”; yang pertama “Umdatul ahkaam as shugra (kecil)” –yang tengah dibahas saat ini-, dan yang kedua adalah “Umdatul ahkaam al-kubra (besar)”.  “Umdatul ahkaam as shugra”  terdiri dari 420 hadits, yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim. Sedangkan kitab “Umdatul ahkaam al-kubra” terdiri dari 949 hadits, yang diriwayatkan tidak saja oleh imam Bukhari dan imam Muslim.

 

Video Penjelasan Hadits I

 

Hadits I

عن عمر بن الخطاب – رضي الله عنه – قال: سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: ((إنما الأعمال بالنيات – وفي رواية: بالنية – وإنما لكلِّ امرئ ما نوى؛ فمَن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرتُه إلى الله ورسوله، ومَن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوَّجها فهجرته إلى ما هاجَر إليه))

Dari Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu, Beliau berkata; saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Semua amalan itu ada karena niat. Dan setiap orang akan mendapat balasan dari perbuatannya sesuai dengan niatnya masing-masing. Maka barangsiapa hijrah karena Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya itu akan dinilai sebagai sebuah ketaatan kepada Allah dan Rasul Nya. Dan barangsiapa hijrah karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka ia akan mendapat sesuai yang diniatkannya saja.”.

 

Perawi Hadits

Hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disampaikan oleh sahabat bernama Umar bin al Khatthaab radhiyallahu ‘anhu. Kunyah Beliau adalah Abu Hafshin, sedang laqab Beliau adalah al Faaruuq.

Beliau memeluk Islam pada tahun ke-5 atau tahun ke-6 setelah diangkatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi. Maka dengan keislaman Beliau –yang terkenal dengan keberaniannya- bertambah kokoh dan kuatlah barisan Islam.

Beliau adalah khalifah kedua setelah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dengan penunjukan langsung dari Abu Bakar –khalifah pertama- sebelum wafatnya.

Beliau melaksanakan tugas kekhalifahannya secara baik, hingga akhirnya Beliau ditikam pada saat memimpin shalat subuh sebanyak 4 kali oleh seorang budak Majusi. Kejadian itu berlangsung pada 4 hari terakhir dari bulan Dzulhijjah.

Beliau sempat dirawat selama 3 hari. Dan pada akhirnya wafat pada tahun ke-23 H. Kemudian Beliau dikubur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di bilik Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Disebutkan dalam shahih Bukhari, menjelang wafatnya, seorang pemuda datang menjenguknya dan berkata;

أَبْشِرْ يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ بِبُشْرَى اللَّهِ لَكَ، مِنْ صُحْبَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدَمٍ فِي الإِسْلاَمِ مَا قَدْ عَلِمْتَ، ثُمَّ وَلِيتَ فَعَدَلْتَ، ثُمَّ شَهَادَةٌ

“Bergembiralah wahai Amirul mukimin dengan janji Allah kepadamu; karena Engkau telah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memeluk Islam di awal-awal dakwah Beliau, telah menjadi pemimpin yang adil, dan kemudian meraih syahid.”. Setelah itu, Sang pemuda berlalu. Namun sebelum berlalu ternyata Umar radhiyallahu ‘anhu  sempat melihat pakaian Sang pemuda yang menjulur hingga ke bawah mata kaki. Saat itu, Beliau segera meminta orang-orang yang berada di dekatnya untuk memanggil Sang pemuda. Setelah datang, Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Sang pemuda;

يَا ابْنَ أَخِي ارْفَعْ ثَوْبَكَ، فَإِنَّهُ أَبْقَى لِثَوْبِكَ، وَأَتْقَى لِرَبِّكَ

“Wahai anak muda, angkatlah pakaianmu (ke atas mata kaki) !. Sesungguhnya itu lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih menunjukkan ketakwaan kepada Rabb mu.”.

Demikianlah Umar bin Khtthaab t, tidak sedikitpun celah kebaikan yang bisa dilakukannya, melainkan Beliau akan berusaha melakukannya. Bahkan meski dalam masa-masa kritis Beliau, menjelang wafatnya. Semoga Allah senantiasa merahmati Beliau dan menguatkan kita untuk dapat meneladaninya t .

 

Urgensi Hadits

Hadits ini adalah satu diantara hadits yang memuat inti dari seluruh ajaran Islam. Sebagian ulama ada yang berkata bahwa inti dari keseluruhan syari’at Islam itu ada pada dua hadits, yaitu; hadits ini dan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha , dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ;

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa mengamalkan sebuah pekerjaan ibadah yang tidak dicontohkan, maka sungguh amalannya tersebut akanlah tertolak.”. Bila hadits pertama mewakili perkara-perkara bathin (hati), maka hadits kedua adalah landasan bagi perkara-perkara yang sifatnya dzhahir (nampak). Olehnya, maka sebagian ulama menyatakan bahwa inti dari keseluruhan agama ini terletak pada dua hadits tersebut.

Ada juga yang menyatakan bahwa hadits ini sepertiga agama atau seperempat agama. Dalam sebuah pernyataan yang disandarkan kepada Imam Syafi’ie, Beliau rahimahullah berkata;

هَذَا الْحَدِيث ثُلُث الْعِلْمِ، وَيَدْخُلُ فِي سَبْعِينَ بَابًا مِنَ الْفِقْه

“Hadits ini adalah sepertiga ilmu dan masuk ke 70 bab dalam pembahasan fiqh.”. Ishaq bin Rahawayh rahimahullah berkata; “Empat hadits yang memuat inti agama adalah, … kemudian Beliau menyebutkan hadits ini sebagai satu diantara keempat hadits tersebut.”.

Namun apapun yang dinyatakan oleh para ulama berkenaan dengan hadits ini, pesan utama yang hendak disampaikan bahwa hadits ini adalah satu diantara hadits inti yang seharusnya diketahui oleh setiap muslim.

 

Jalur Riwayat Hadits

Hadits ini (selanjutnya diistilahkan dengan sebutan hadits niat) adalah satu diantara contoh hadits “gharib”. Perlu diketahui bahwa hadits ditinjau dari banyaknya jumlah perawi yang meriwayatkannya pada setiap thabaqah (tingkatan periwayatannya), secara umum dibagi menjadi 2 bagian, yaitu;

  1. Hadits mutawaatir, yaitu hadits tentang perkara yang terdengar atau terlihat (mahsuus), dan diriwayatkan oleh banyak perawi pada setiap tingkatan periwayatannya, hingga secara logika akan mustahil mereka bersepakat dalam kedustaan.
  2. Hadits ahad, yaitu hadits yang jumlah periwayatnya pada setiap tingkatan periwayatannya tidak mencapai jumlah mutawatir.

Selanjutnya, oleh para ulama, hadits ahad dibagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu;

  1. Hadits gharib, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh hanya satu orang perawi pada satu atau lebih dari tingkatan periwayatannya.
  2. Hadits aziz, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh hanya dua orang perawi pada satu atau lebih dari tingkatan periwayatannya.
  3. Hadits masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh hanya tiga orang perawi pada satu atau lebih dari tingkatan periwayatannya.

Hadits niat ini, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khatthab. Dari Umar bin Khatthab hanya diriwayatkan oleh ‘Alqamah bin Waqqash. Dari ‘Alqamah hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim at Taymiy. Dan dari Muhammad bin Ibrahim hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id al Anshari. Barulah pada tingkatan (thabaqah) ini, hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak perawi, dari Yahya bin Sa’id al Anshari. Ada yang menyatakan bahwa jumlah perawi yang meriwayatkan hadits ini dari Yahya mencapai 70 orang, bahkan ada yang menyatakan lebih dari 200 orang.

Namun meski hadits ini adalah hadits gharib dari Rasulullah hingga Yahya bin Sa’id, ulama telah sepakat tentang validitasnya bahkan menjadikannya sebagai satu diantara hadits yang memuat pilar-pilar inti keberagamaan –sebagaimana telah dijelaskan pada rubrik sebelumnya-.

 

Tidak Ada Amal Tanpa Niat

Mengawali hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إنما الأعمال بالنيات – وفي رواية: بالنية

“Semua amalan itu ada karena niat.”. Tentu jika orang yang melakukan amalan tersebut melakukannya dalam keadaan sadar. Terhadap merekalah dinyatakan bahwa “tidak ada amal tanpa niat” atau “setiap amal / pekerjaan pasti diiringi dengan niat pelakunya”.

Dari potongan hadits ini diketahui bahwa niat itu adalah pekerjaan hati dan bukan pekerjaan lisan.

Seorang yang dipaksa mengatakan perkataan kufur tidaklah akan dinyatakan kafir selama ia tidak meniatkannya. Sebaliknya, meski seorang munafik bersyahadat dihadapan ribuan orang, tetaplah ia akan dinyatakan kafir karena niatnya yang tidak tulus.

Olehnya itu, maka maksud dari pernyataan para ulama “niat adalah syarat sahnya shalat atau ibadah yang lainnya” adalah niat yang timbul dari hati mengawali sebuah ibadah. Bukan niat yang diucapkan dengan lisan.

 

Mendulang Pahala Dengan Niat

Niat adalah kehendak hati untuk melakukan atau mengatakan sesuatu. Meski belum melakukan atau mengatakannya, seorang akan mendapat balasan dengan niatnya. Karena itu maka ulama berkata; “niat seorang mukmin lebih baik dari amalannya.”. Imam Baihaqi rahimahullah berkata;

النِّيَّةُ دُونَ الْعَمَلِ قَدْ تَكُونُ طَاعَةً، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً “، قَالُوا: وَالْعَمَلُ دُونَ النِّيَّةِ لَا يَكُونُ طَاعَة

“Niat yang tidak dibarengi dengan amal mungkin saja menjadi sebuah ketaatan. Rasulullah bersabda; “Barangsiapa yang hendak melakukan kebaikan dan belum sempat melaksanakannya, maka akan dicatat baginya satu kebaikan.”. Adapun amal, jika tidak dibarengi dengan niat, maka tidaklah akan menjadi sebuah ketaatan.”.

Dalam kelanjutan hadits niat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

وإنما لكلِّ امرئ ما نوى

“Dan setiap orang akan mendapat balasan dari perbuatannya sesuai dengan niatnya masing-masing.”. Maksudnya bahwa jika seorang meniatkan yang baik dari amalannya, maka ia akan mendapat kebaikan dan pahala. Tetapi jika ia meniatkan keburukan dari amalannya, maka ia akan mendapat keburukan. Maka dari itu, seorang mukmin yang baik tentu akan berusaha memanfaatkan usianya untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya. Satu diantara caranya adalah dengan senantiasa menjaga niat dalam seluruh amalan yang dilakukannya, bahkan meski amalan itu adalah amalan yang mubah. Ibnu al Mubaarak berkata;

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Betapa banyak amal yang sederhana menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niat pelakunya.”.

Dalam kelanjutan hadits niat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

فمَن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرتُه إلى الله ورسوله، ومَن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوَّجها فهجرته إلى ما هاجَر إليه

“Barangsiapa hijrah karena Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya itu akan dinilai sebagai sebuah ketaatan kepada Allah dan Rasul Nya. Dan barangsiapa hijrah karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka ia akan mendapat sesuai yang diniatkannya saja.”. Maka bertolak dari hadits ini, hendaknya dibuat sebuah kerangka umum kehidupan;

*) Barangsiapa shalat untuk Allah

*) Barangsiapa belajar untuk ibadah kepada Allah

*) Barangsiapa berikhtiar untuk memuluskan jalannya beribadah kepada Allah

*) Barangsiapa makan, minum dan tidur untuk mempekuat dirinya melakukan ketaatan ; … maka seluruh amalannya itu akan dinilai sebagai ibadah dan mendapat pahala dari Allah. Namun,

*) Barangsiapa shalat untuk mendapat pujian orang

*) Barangsiapa belajar hanya untuk menjadi cerdas

*) Barangsiapa berikhtiar untuk mendapat penghasilan yang lebih

*) Barangsiapa makan, minum dan tidur agar kenyang, dahaga terobati dan rasa kantuk teratasi ; … maka -jika beruntung- ia hanya akan mendapat sebatas yang diniatkannya itu. Dan jika Allah menghendakinya tidak mendapatkan niatannya itu, maka dunia meleset dan pahala pun sirna darinya.  Wallahul musta’an

 

Fungsi Niat

Niat adalah satu diantara jenis ibadah. Fungsi niat ada dua yaitu;

  1. Untuk membedakan antara kebiasaan dan ibadah
  2. Untuk membedakan satu jenis ibadah dengan jenis ibadah yang lain.

Di hari senin, ada dua orang berpuasa; satu diantaranya berpuasa untuk diet dan yang lain berpuasa sunnah. Apa yang membedakannya ?.

Di hari yang sama, ada dua orang lain yang juga berpuasa; satu diantaranya berpuasa sunnah dan yang lain berpuasa qadha Ramadhan yang telah ditinggalkannya karena sakit. Apa yang membedakannya ?.

Jawaban dari keduanya adalah niat. Demikianlah fungsi niat, selain bahwa niat adalah syarat sahnya sebuah amalan sebagai ibadah kepada Allah; fungsi niat juga adalah untuk membedakan satu jenis ibadah dengan jenis ibadah yang lain.

 

Tips Mengajar

Dalam hadits niat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi tips cerdas kepada ummat dalam mengajar. Ketika menjelaskan urgensi niat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai dengan penjelasan yang bersifat global, yang berfungsi untuk membentuk dasar pijakan dan landasan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

  1. Tidak ada amal tanpa niat
  2. Setiap orang akan diberi balasan dari amalannya sesuai dengan niatnya.

Demikian dua landasan dasar yang hendak dipahamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummatnya. Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memperkuatnya dengan memaparkan sebuah contoh, yang tentunya diharapkan akan dapat diterapkan dalam berbagai permasalahan yang serupa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

فمَن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرتُه إلى الله ورسوله، ومَن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوَّجها فهجرته إلى ما هاجَر إليه

“Barangsiapa hijrah karena Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya itu akan dinilai sebagai sebuah ketaatan kepada Allah dan Rasul Nya. Dan barangsiapa hijrah karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka ia akan mendapat sesuai yang diniatkannya saja.”.

“Mulailah dengan memperkuat pemahaman dasar sebelum mulai merinci dan mempeluas masalah”, demikian ini tips cerdas yang hendak diajarkan Rasulullah lewat hadits yang mulia ini. Dari sinilah diketahui kesalahan mendasar yang menjadi fenomena pada sebagian penuntut ilmu; mereka mulai proses belajarnya dengan menelaah berbagai masalah rumit yang diperdebatkan, dan mereka enggan serta tidak sabar untuk memperkuat dasar keilmuwannya. Hingga pada akhirnya mereka akan dibuat bingung dengan berbagai dalil yang secara kasat mata bertentangan, hal mana keadaan itu tidak akan mereka alami jika seandainya landasan keilmuwan mereka baik dan kuat.

 

Hijrah dan Perubahan

Hijrah yang disebutkan dalam hadits ini adalah satu diantara jenis ibadah. Orang yang berhijrah tentu akan berpindah dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain. Ketika berpindah, tentu ada saja berbagai perubahan yang secara kasat mata dapat dirasakan dan diamati. Olehnya, hijrah dan perubahan adalah dua hal yang akan selalu identik dan bersinergi.

Dalam kacamata Islam, hijrah itu ada dua, yaitu;

  1. Berpindah dari suatu tempat yang tidak memberi keleluasaan bagi seorang untuk beribadah kepada Allah menuju suatu tempat yang lebih memberi keleluasaan untuk beribadah kepada Allah.
  2. Berpindah dan meninggalkan sebuah kebiasaan buruk dan beralih kepada perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji.

Maksud dari kedua jenis hijrah ini adalah agar terjadi perubahan positif atas diri seseorang dalam keberagamaannya. Karena itu, maka landasan dasar dalam melakukannya hendaknya untuk mendapatkan ridha Allah. Bila ia salah dalam meletakkan landasan dasar ini, maka tentu akan rapuhlah bangunan yang dibuatnya, bahkan mungkin akan ambruk dan menjadi debu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

فمَن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرتُه إلى الله ورسوله، ومَن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوَّجها فهجرته إلى ما هاجَر إليه

“Barangsiapa hijrah karena Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya itu akan dinilai sebagai sebuah ketaatan kepada Allah dan Rasul Nya. Dan barangsiapa hijrah karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka ia akan mendapat sesuai yang diniatkannya saja.”.

 

Dunia Oh Dunia …

Dunia adalah tempat yang Allah jadikan bagi hamba untuk menguji mereka; siapa diantara mereka yang terbaik amalannya. Selayaknya, semakin tua usia sesuatu, maka akan semakin sedikit yang menggemarinya. Namun ternyata, hal ini tidak berlaku untuk dunia. Justru semakin dekat hari kehancurannya, semakin itu pula orang-orang bertambah rakus untuk meraihnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda ketika ditanya tentang tanda-tanda hari kiamat;

أَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ

“Engkau melihat orang-orang yang tadinya sangat miskin, pengembala kambing, tidak mengenakan baju dan tidak berpengalas kaki, -ketika itu- mereka berlomba-lomba memegahkan bangunan-bangunannya.”.

Dunia adalah fitnah. Banyak orang mengeluh ketika kemiskinan menghampiri mereka, bahkan tidak sedikit diantaranya yang mungkin menilainya sebagai musibah terbesar dalam hidupnya. Hanya mereka lupa atau mungkin tidak tahu bahwa ternyata fitnah yang ditakuti oleh Rasulullah  menimpa ummatnya bukanlah kemiskinan, tetapi justru ketika kemegahan dunia telah menghiasi kehidupan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda;

وَاللَّهِ لاَ الفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah tidaklah aku khawatir akan kemiskinan yang menimpamu. Namun yang aku khawatirkan adalah ketika dunia dibentangkan atas kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Lantas kalian pun berlomba-lomba untuk meraihnya, sebagaimana orang-orang sebelum kalian berlomba-lomba untuk meraihnya. Kemudian kalian pun hancur karenanya, sebagaimana merekapun hancur karenanya.”.

Dunia, meskipun sangat menggiurkan, namun ternyata tidaklah ia memiliki nilai yang luar biasa di dalam agama. Olehnya, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan balasan yang akan didapatkan oleh orang yang berhijrah karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, tidaklah Beliau mengatakan; “maka ia akan mendapatkan dunia yang hendak diraihnya itu atau mendapatkan wanita yang hendak dinikahinya itu.”. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya bersabda; “maka ia akan mendapat sesuai yang diniatkannya saja.”. Tidak diulanginya penyebutan dunia dan wanita dalam jawaban tadi memberi isyarat bahwa keduanya bukanlah hal yang penting untuk disebutkan. Berbeda ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan balasan yang akan diperoleh oleh mereka yang berhijrah karena Allah dan Rasul Nya, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Maka hijrahnya itu akan dinilai sebagai sebuah ketaatan kepada Allah dan Rasul Nya.”. Pengulangan kata Allah dan RasulNya dalam jawaban tadi mengisyaratkan kemuliaan yang dimiliki oleh keduanya.

Akhirnya, semoga Allah memberi taufiq Nya kepada kita agar tetap dapat lurus dalam niat-niat kita; dan semoga Ia senantiasa menjaga kita dari segala fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Wa laa hawla wa laa quwwata illa billahil Aziizil Hamiid. Walhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin.

 

Hadits ke-2

عَنْ أبي هريرة رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا يَقْبَلُ الله صَلاةَ أحَدكُمْ إذَا أحْدَثَ حَتَى يَتَوضًأ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Allah tidak akan menerima shalat salah seorang dari kalian hingga ia berwudhu.”.

 

Shalat adalah media yang Allah jadikan bagi seorang hamba untuk berkomunikasi dengan Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلاَتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ

“Ketika berdiri di dalam shalat, sesungguhnya orang tersebut tengah bermunajat kepada Rabb nya.”. (HR. Bukhari)

Menyadari hal tersebut, maka sudah sepantasnya bagi seorang muslim menyiapkan keadaan dirinya semaksimal mungkin untuk menghadap Rabb Nya. Olehnya itu, agama menetapkan bahwa satu diantara syarat sahnya shalat adalah suci dari hadats dan suci dari najis.

Apa yang dimaksud dengan hadats dan apa pula yang dimaksud dengan najis ?. Alhamdulillah telah kita bahas pada rubrik sebelumnya.

Selanjutnya, hadats terbagi menjadi dua jenis, yaitu; hadats kecil dan hadats besar. Untuk mensucikan diri dari hadats kecil, maka dapat dilakukan dengan berwudhu. Sedangkan untuk mensucikan diri dari hadats besar, maka wajib dilakukan dengan mandi besar. Demikian secara umum cara bersuci dari hadats bagi seorang yang mampu menggunakan air.

Contoh hadats kecil adalah buang air kecil dan buang air besar. Ketika seorang melakukan aktivitas tersebut, maka secara otomatis lekat pada dirinya sifat hadats kecil.

Contoh hadats besar adalah keluar mani. Ketika seorang keluar mani, maka secara otomatis lekat pada dirinya sifat hadats besar.

Dalam hadits yang tengah dalam bahasan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa syarat diterimanya shalat seorang yang berhadats kecil adalah ketika ia telah berwudhu.

 

Hadits ke-3

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَعَائِشَةَ رضي الله عنهم قَالُوا: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – : وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash, Abu Hurairah dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Celakalah bagi orang-orang yang tidak membasahi tumit-tumitnya ketika wudhu, kelak mereka akan dimasukkan ke dalam neraka.”.

 

Hadits ini berisi penjelasan tentang satu diantara ketentuan umum dalam berwudhu, yaitu ; wajib membasuh seluruh anggota wudhu dengan air.

Ketentuan demikian adalah ketentuan yang wajib dijalankan dan merupakan satu diantara syarat sahnya wudhu;

Bila seorang dengan sengaja tidak membasuh wajahnya dengan air ketika wudhu, maka wudhunya tidak sah,

Bila seorang dengan sengaja tidak membasuh tangan hingga siku dengan air ketika wudhu, maka wudhunya tidak sah,

Bila seorang dengan sengaja tidak mengusap kepalanya dengan air ketika wudhu, maka wudhunya tidak sah,

Bila seorang dengan sengaja tidak membasuh kaki hingga mata kakinya dengan air ketika wudhu, maka wudhunya tidak sah,

Jika demikian, maka masuk pula dalam ketentuan ini seorang yang dengan sengaja tidak membasuh tumitnya; pun wudhunya dinyatakan tidak sah.

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tumit secara khusus, mewakili anggota wudhu yang lainnya -wallahu a’lam- karena orang-orang biasanya lalai, tidak memperhatikan atau menyepelekannya.

 

Hadits ke-4 :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه -: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قال: ((إذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ مَاءً , ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ , وَمَنْ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ , وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا فِي الإِنَاءِ ثَلاثاً، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Apabila salah seorang dari kalian berwudhu, maka hendaklah dia memasukkan air ke dalam hidungnya untuk membersihkannya (istinsyaaq) kemudian dia kembali mengeluarkannya (istntsaar). Barangsiapa yang beristijmar (membersihkan najis setelah buah hajat), maka hendaknya dilakukan dalam kelipatan ganjil. Dan jika salah seorang dari kalian bangun dari tidur, maka hendaklah ia mencuci kedua tangannya sebanyak tiga kali sebelum ia masukkan keduanya ke dalam wadah penyimpanan air, karena sesungguhnya tidaklah salah seorang dari kalian mengetahui di mana semalam tangannya berada.

 

Secara umum hadits ini ingin menjelaskan tiga hal, yaitu ;

  1. Perintah istinsyaq dan istintsaar
  2. Aturan dalam beristijmar
  3. Perintah mencuci tangan bagi yang baru bangun tidur sebelum memasukkannya ke dalam wadah penyimpanan air.

 

  1. Istinsyaaq dan istintsaar

Istinsyaaq adalah satu diantara pekerjaan wudhu berupa memasukkan air ke dalam hidung untuk membersihkannya. Adapun istintsaar, maka juga termasuk satu diantara pekerjaan wudhu berupa mengeluarkan kembali air yang telah dimasukkan ke dalam hidung tersebut setelah membersihkannya.

Secara umum hadits ini menjelaskan bahwa istinsyaaq ketika wudhu adalah hal yang diperintahkan.

Sebagian ulama berpendapat bahwa istinsyaaq ketika wudhu hukumnya wajib. Diantara alasannya :

  • Adanya perintah beristinsyaaq dalam hadits ini. Asal dari penunjukan makna sebuah perintah adalah wajib. Olehnya, maka beristinsyaaq hukumnya adalah wajib.
  • Wajah adalah satu diantara anggota tubuh yang wajib dibasuh (terkena air) ketika berwudhu. Maka karena hidung termasuk bagian dari wajah, hukum membasuhnya pun adalah wajib. Dan membasuhnya dilakukan dengan beristinsyaaq
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

“Dan masukkanlah air ke bagian yang dalam dari hidungmu (istinsyaaq) ketika berwudhu kecuali jika engkau sedang berpuasa.”. (HR. Abu Daud). Dalam hadits ini ada penegasan yang sangat kuat tentang perintah beristinsyaaq itu. Andai saja hukum beristinsyaaq itu adalah sunnah, maka akan lebih aman jika tidak melakukannya saat berpuasa sebagai upaya untuk menutup sekecil apapun hal yang diprediksi dapat membatalkan puasa. Namun faktanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkannya. Hal mana menunjukkan bahwa sifat perintah itu tidak saja sunnah, tetapi lebih dari itu.

Sucinya diri dari hadats dan najis adalah adalah satu diantara syarat sahnya shalat.

Hadats terbagi menjadi dua, yaitu :

  1. Hadats kecil, bersuci darinya dilakukan dengan berwudhu.
  2. Hadats besar, bersuci darinya dilakukan dengan mandi.

Adapun najis, maka bersuci darinya setelah buang air dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu :

  1. Istinja, yaitu; membersihkan najis setelah buang hajat dengan menggunakan air.
  2. Istijmar, yaitu; membersihkan najis setelah buang hajat dengan menggunakan batu atau yang semisalnya.
  3. Menggabungkan antara kedua cara yang telah disebutkan, yaitu dengan beristijmar terlebih dahulu, dan setelahnya dilanjutkan dengan istinja.

Dari ketiga cara ini, maka yang paling utama adalah cara yang ketiga, karena tentu akan lebih baik dalam membersihkan najis.

 

Bagaimana aturan beristijmar ?

Dalam hadits ini dijelaskan sebagian dari aturan itu, yaitu:beristijmar dengan menggunakan batu atau yang semisalnya dengan kelipatan ganjil untuk membersihkan najis yang keluar setelah buang hajat.

Perincian dari cara tersebut adalah ;

  1. Istijmar wajib dilakukan paling sedikit dengan menggunakan 3 buah batu atau yang semisalnya.
  2. Bila pada basuhan batu ketiga, tempat keluarnya najis belum juga bersih secara sempurna, maka wajib menambah jumlah batu hingga najis yang lekat betul-betul hilang.
  3. Disunnahkan menambah jumlah batu hingga keseluruhan jumlah batu yang digunakan dalam istijmar itu adalah ganjil. Demikianlah makna dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang tengah dalam bahasan ini, “Barangsiapa yang beristijmar (membersihkan najis setelah buah hajat), maka hendaknya dilakukan dalam kelipatan ganjil.”, maksudnya setelah menggunakan tiga buah batu dan ternyata najisnya belum juga hilang secara baik.
  4. Tidak boleh beristijmar dengan menggunakan kotoran (najis yang telah) kering dan tidak juga boleh beristijmar dengan menggunakan tulang.

Demikian beberapa ketentuan yang hendaknya diperhatikan berkenaan dengan istijmar.

 

Diantara hal yang dijelaskan dalam hadits ini adalah larangan mencelupkan tangan ke dalam wadah penyimpanan air bagi seorang yang baru terbangun dari tidur sebelum mencucinya sebanyak tiga kali.

Dari keterangan ini para ulama menyatakan bahwa meski mencuci tangan hingga ke pergelangan tangan ketika wudhu hukumnya adalah sunnah, namun akan menjadi wajib bagi mereka yang berwudhu ketika baru bangun dari tidur, karena adanya larangan sebagaimana petunjuk hadits ini.

Bila ditanyakan, mengapa agama melarang seorang yang baru bangun tidur untuk langsung memasukkan tangannya ke wadah penyimpanan air, dan mewajibkan mereka untuk terlebih dahulu mencucinya sebanyak tiga kali ?.

Jawabannya adalah sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tengah dalam bahasan ini; “Karena sesungguhnya tidaklah salah seorang dari kalian mengetahui di mana semalam tangannya berada.”. Dari pernyataan itu diketahui bahwa larangan tersebut bertujuan untuk menjaga kelayakan, kebersihan dan kesucian air yang salah satu pemanfaatannya adalah untuk berwudhu. Dan olehnya itu dinyatakan bahwa menjaga kesucian air yang akan digunakan untuk berwudhu adalah hal yang diwajibkan dalam agama ini.

 

Hadits ke-5 :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه -: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: ((لا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لا يَجْرِي , ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ)) وَلِمُسْلِمٍ: ((لا يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ))

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Jangan sekalipun salah seorang dari kalian buang air kecil di air yang tergenang, tidak mengalir, kemudian ia mandi dari air tersebut.”. Dalam redaksi imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Janganlah salah seorang dari kalian mandi dengan berendam di air tergenang, sedang ia dalam keadaan junub.”.

 

Beberapa pelajaran dari hadits ini :
  1. Larangan membuang hajat di air yang tergenang dan larangan mandi bagi seorang yang tengah junub dengan berendam di air yang tergenang.
  2. Kewajiban menjaga kebersihan dan kesucian air, yang salah satu fungsinya adalah digunakan untuk berthaharah.
  3. Larangan melakukan hal-hal yang dapat merugikan orang lain, seperti buang hajat di air yang tergenang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

«اتَّقُوا الْمَلاعِنَ الثَّلاثَ» قِيلَ: مَا الْمَلاعِنُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَنْ يَقْعُدَ أَحَدُكُمْ فِي ظِلٍّ يُسْتَظَلُّ فِيهِ، أَوْ فِي طَرِيقٍ، أَوْ فِي نَقْعِ مَاءٍ»

“Takutlah kalian terhadap tiga hal yang mengundang laknat !.”. Para sahabat bertanya; Apakah tiga hal yang mengundang laknat itu ?. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Buang hajat di tempat berteduhnya orang-orang atau di jalan-jalan (umum) atau di saluran air mereka (yang digunakan untuk keperluan minum atau hajat hidup mereka yang lainnya).”. (HR. Ahmad)

 

Hadits ke-6 dan ke-7

6 – عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه -، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : إذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِي إنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعاً. وَلِمُسْلِمٍ: أُولاهُنَّ بِالتُّرَاب  

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Apabila seekor anjing menjilat (sesuatu) pada bejana salah seorang dari kalian, maka hendaknya ia mencucinya sebanyak tujuh kali.”. Dalam redaksi muslim dikatakan; “Hendaknya basuhan pertama dengan menggunakan tanah.”.

7 – وَلَهُ فِي حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: إذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي الإِناءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعاً وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ بِالتُّرَابِ 

Dalam redaksi imam Muslim yang lainnya, dari hadits Abdullah bin Mughaffal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Apabila seekor anjing menjilat sesuatu dari wadah kalian, maka hendaklah ia ia cuci atau sucikan bagian dari wadah yang terkena jilatan anjing tersebut; cucilah sebanyak tujuh kali dan basuhlah dengan tanah pada kali yang kedelapan.

 

Beberapa pelajaran dari hadits ini diantaranya adalah;

1. Wajibnya menjaga kesucian wadah penyimpanan air dari najis yang mengotorinya.

2. Liur anjing adalah satu diantara jenis najis.

3. Air dengan kadar kurang dari dua qullah yang terkena liur anjing atau lebih dari dua qullah dan berubah satu dari tiga sifatnya akan menjadi air najis. Olehnya itu dalam redaksi lain hadits yang tengah dalam bahasan ini ada juga perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menumpahkan air atau makanan bekas jilatan anjing yang ada di dalam bejana tersebut. Dalam redaksi hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

فَلْيُرِقْهُ

“Maka hendaklah dia membuang air atau makanan bekas jilatan anjing tersebut.”.     

4. Membersihkan atau mensucikan bejana atau wadah yang terkena air liur anjing dilakukan dengan membasuhkan tanah sebanyak sekali ke bagian yang terkena air liur anjing dan setelah itu mencucinya dengan air sebanyak tujuh kali.

Hadits ke-8 dan ke-9

8- عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رضي اللهُ عنهما: ((أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ , فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إنَائِهِ , فَغَسَلَهُمَا ثَلاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ , ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاثاً , وَيَدَيْهِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاثًا , ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ , ثُمَّ غَسَلَ كِلْتَا رِجْلَيْهِ ثَلاثًا , ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، وَقَالَ: ((مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا , ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ , لا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ))

 

Dari Humran, bekas budak Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhuma, pernah beliau melihat ‘Utsman meminta air wudhu. Ketika air wudhu sudah siap, maka beliau tuangkan air dari wadah tersebut dan mencuci tangannya sebanyak 3 kali (di luar wadah). Kemudian beliau memasukkan tangan kanannya ke wadah tersebut; beliau berkumur-kumur, istinsyaq (memasukkan air ke hidung untuk membersihkannya) dan istintsaar (mengeluarkannya kembali). Kemudian beliau mencuci wajahnya sebanyak 3 kali. Kemudian mencuci tangan hingga sikunya sebanyak 3 kali. Kemudian beliau membasuh kepalanya. Kemudian beliau mencuci kedua kakinya sebanyak 3 kali. Kemudian beliau berkata; saya telah melihat Rasulullah berwudhu seperti wudhu yang saya lakukan ini. Beliau bersabda; barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, lantas ia shalat sunnah dua rakaat dengan khusyu; maka akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.”.

عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: ((شَهِدْتُ عَمْرَو بْنَ أَبِي حَسَنٍ سَأَلَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ زَيْدٍ عَنْ وُضُوءِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم -؟ فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ , فَتَوَضَّأَ لَهُمْ وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَكْفَأَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ التَّوْرِ , فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلاثاً , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاثاً بِثَلاثِ غَرْفَاتٍ , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاثاً , ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ , فَمَسَحَ رَأْسَهُ , فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ)) . وَفِي رِوَايَةٍ: ((بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ , حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إلَى قَفَاهُ , ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ)) . وَفِي رِوَايَةٍ ((أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْرَجْنَا لَهُ مَاءً فِي تَوْرٍ مِنْ صُفْرٍ)) .

 

Dari ‘Amr bin Yahya Al Maazini, dari ayahnya, beliau berkata; saya pernah melihat ‘Amr bin Abi Hasan bertanya kepada Abdulullah bin Zaid tentang wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Abdullah bin Zaid meminta air wudhu (dan mencontohkan ke mereka cara wudhu Rasulullah). Di awal wudhunya, Beliau menuangkan air ke kedua tangannya dan mencucinya (di luar wadah) sebanyak 3 kali. Kemudian beliau masukkan tangannya ke wadah air; beliau berkumur-kumur, beristinsyaaq dan beristintsaar sebanyak 3 kali dengan tiga kali cidukan air (disatukan antara berkumur-kumur, istinsyaaq dan istintsaar, tidak dipisahkan). Kemudian beliau masukkan tangannya ke wadah air dan mencuci wajahnya sebanyak 3 kali. Kemudian beliau masukkan tangannya ke wadah dan mencucinya hingga siku sebanyak 2 kali. Kemudian beliau masukkan tangannya ke wadah dan membasuh kepalanya. Ketika membasuh kepalanya, beliau mulai dengan membasuh bagian depan kepalanya hingga ke tengkuk dan membalikkan basuhannya itu hingga ke bagian awal ia mulai membasuhnya.  

 

Pelajaran Hadits

Hadits ini berisi penjelasan tentang tata cara wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits pertama diistilahkan dengan sebutan hadits ‘Utsman dan hadits ke dua diistilahkan dengan sebutan hadits Abdullah bin Zaid.

Kesimpulan dari kedua hadits itu berkenaan dengan tata cara wudhu adalah ;

1. Mencuci tangan hingga pergelangan tangan di luar wadah sebanyak tiga kali, dan tidak langsung mencelupkannya ke dalam wadah penyimpanan air.

 2. Memasukkan tangan ke wadah penyimpanan air dan menciduk air dari wadah tersebut, dan selanjutnya digunakan untuk berkumur-kumur, beristinsyaq, dan beristintsaar sebanyak tiga kali.

Berkumur-kumur, beristinsyaaq dan beristinsaar dilakukan sekaligus dan tidak terpisah sebanyak tiga kali.

3. Kemudian kembali memasukkan tangan ke wadah penyimpanan air dan mengambil air dari wadah tersebut, dan selanjutnya mencuci wajah sebanyak tiga kali.

4. Kemudian kembali memasukkan tangan ke wadah penyimpanan air dan mengambil air dari wadah tersebut, dan selanjutnya mencuci tangan hingga siku sebanyak tiga kali (dalam hadits ‘Utsman) dan boleh juga sebanyak 2 kali (dalam hadits Abdullah bin Zaid).

5. Kemudian kembali memasukkan tangan ke wadah penyimpanan air dan mengambil air dari wadah tersebut, dan selanjutnya membasuh kepala serta telinga sebanyak satu kali.

6. Kemudian mencuci kaki hingga mata kaki sebanyak tiga kali.

Demikianlah tata cara wudhu Rasulullah secara lengkap yang disimpulkan dari dua hadits tersebut.

In sya Allah pada rubrik selanjutnya akan dimuat penjelasan tambahan berkenaan dengan masalah ini.

_______________

(*) Tulisan ini adalah materi berlanjut kajian albinaamenyapa, “ngaji kitab Umdatul Ahkaam”. Setiap ada tambahan rubrik, in sya Allah akan diupdate di link ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *