Penjelasan Matan Abi Syuja’ (*)

Redaksi matan :

كتاب الطهارة

Kitaab At Thahaarah

 

Penjelasan :

(Kitab)

Secara bahasa “kitaab” berasal dari kata “kataba”, yang berarti “jama’a” (mengumpulkan) dan “dhamma” (melingkupi atau memuat).

Sebuah buku diistilahkan dengan nama “kitaab” karena sebuah buku menghimpun atau mengumpulkan beberapa informasi.

Dalam tradisi penulisan para ulama, kitab adalah kumpulan bahasan yang memuat topik yang sama dan saling melengkapi. Contohnya adalah “kitab thahaarah” dalam kitab ini akan dibahas berbagai persoalan terkait dengan hukum-hukum seputar thaharah.

Bila ada sub bahasan yang hendak disendirikan dalam kitab tertentu, maka dibuatlah bab. Misalnya “bab adab masuk tempat buang air dan adab ketika buang hajat”, “bab siwak”, dan seterusnya.

Dan bila ada lagi cabang bahasan yang hendak disendirikan dalam sebuah bab, maka dibuatlah “fashl”. Kemudian bila ternyata masih ada lagi cabang bahasan yang hendak disendirikan dalam sebuah “fashl”, maka dibuatlah “mas-alah”.

Demikianlah sistimatika penulisan yang biasa digunakan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka ;

*) Dimulai dari “kitab” (كتاب) yang merupakan kumpulan dari beberapa “bab”

*) “Bab” (باب) yang merupakan kumpulan dari beberapa “fashl”

*) “Fashl” (فصل) yang merupakan kumpulan dari beberapa “mas-alah” (مسألة).

(Thaharah)

Secara bahasa, “thaharah” berarti kebersihan. Dalam sebuah ungkapan yang sangat terkenal dikatakan;

الطهارة من الإيمان

“Kebersihan itu adalah bagian dari iman.”.

Adapun secara istilah, maka defenisi “thaharah” adalah ;

ارتفاع الحدث وزوال النجس

“Terangkatnya hadats dan lenyapnya najis.”.

Yang dimaksud dengan hadats adalah sifat yang lekat pada diri seseorang karena sebab tertentu, dimana jika sifat itu lekat pada diri orang tersebut, maka akan batallah shalatnya.

Yang dimaksud dengan najis adalah benda atau zat kotor yang keberadaannya pada diri, pakaian atau tempat orang yang melaksanakan shalat akan menyebabkan batalnya shalat orang tersebut (dengan perincian lanjutan yang in sya Allah akan dipelajari bersama pada ulasan-ulasan selanjutnya).

Contoh :

Seorang buang air kecil;

– Dengan melakukan kegiatan itu, secara otomatis akan lekat sifat “hadats” pada diri orang yang melakukannya.

– Air seni yang keluar adalah benda kotor yang masuk dalam kategori benda najis.

Perlu diingat bahwa penentuan dari sebab lekatnya sifat hadats (contoh; kegiatan buang air kecil) dan penentuan keberadaan sebuah benda sebagai benda najis (contoh; air seni) harus ditetapkan berdasarkan dalil-dalil agama secara benar.

Selanjutnya, hal yang juga perlu diperhatikan bahwa secara umum, thaharah dalam lingkup yang lebih luas terbagi menjadi dua kategori;

1. Thaharah hissiyyah

2. Thaharah maknawiyyah

Thaharah hissiyyah, jenis thaharah yang telah dibahas dalam uraian sebelumnya. Jenis thaharah inilah yang dibahas dalam ulasan-ulasan fiqh.

Thaharah maknawiyyah adalah bersihnya hati dari segala peyakitnya, termasuk dan bahkan yang paling utama adalah bersihnya hati dari penyakit syirik dan kufur.

Jika thaharah hissiyyah adalah satu diantara syarat sahnya ibadah shalat, maka thaharah maknawiyyah berupa bersihnya hati dari penyakit syirik adalah syarat sahnya seluruh jenis ibadah, termasuk shalat. Olehnya itu maka pembahasan tentang thaharah maknawiyyah, pun adalah hal yang sangat penting. Namun pembahasannya dibawakan dalam kajian disiplin ilmu tersendiri, yaitu ilmu aqidah atau tauhid.

Redaksi matan :

المياه التي يجوز التطهير بها سبع مياه: ماء السماء, وماء البحر, وماء النهر, وماء البئر, وماء العين, وماء الثلج, وماء البرد

Air yang boleh digunakan untuk berthaharah (wudhu atau mandi besar) ada tujuh, yaitu: air yang berasal dari langit, air laut, air sungai, air sumur, mata air, air salju dan air embun.”.

 

Penjelasan :

Secara umum dinyatakan bahwa air yang boleh digunakan untuk berthaharah adalah seluruh jenis air yang berasal dari langit dan seluruh jenis air yang berasal dari tanah. Beberapa dalil dari ketentuan ini adalah;

1. Firman Allah :

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

“Dialah Allah Yang telah menurunkan hujan bagi kalian untuk mensucikan kalian dengan hujan tersebut.”. (Al Anfaal; 11)

2. Hadits tentang sahabat yang datang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang penggunaan air laut untuk bersuci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الحِلُّ مَيْتَتُه. رواه الخمسة، وقال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح

“Laut itu suci airnya, dan halal bangkainya (untuk dikonsumsi).”. (HR. Tirmidzi)

3. Hadits tentang diantara redaksi doa iftitah. Dalam redaksi doa itu dinyatakan;

اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ

“Ya Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan menggunakan air, salju dan embun.”. (HR. Bukhari)

Dari ketiga hadits ini diantaranya, maka ulama berkesimpulan bahwa air yang boleh digunakan untuk berthaharah adalah seluruh jenis air yang berasal dari langit dan seluruh jenis air yang berasal dari tanah. Air jenis ini oleh ulama diistilahkan dengan sebutan “air mutlak”.

Redaksi matan :

ثم المياه على أربعة أقسام

طاهر مطهر غير مكروه وهو الماء المطلق

وطاهر مطهر مكروه وهو الماء المشمس

وطاهر غير مطهر وهو الماء المستعمل والمتغير بما خالطه من الطاهرات

وماء نجس وهو الذي حلت فيه نجاسة، وهو دون القلتين ، أو كان قلتين فتغير. والقلتان خمسمائة رطل بغدادي تقريباً في الأصح

Jenis air ada empat macam, yaitu ;

Air suci dan bisa digunakan bersuci (wudhu dan mandi besar), serta tidak makruh. Air jenis ini dinamakan air mutlak.

Air suci tetapi makruh digunakan bersuci, yaitu; air yang berada dalam wadah logam atau semacamnya dan dijemur atau diletakkan di terik matahari (air musyammasy).

Air suci tetapi tidak bisa digunakan untuk bersuci, yaitu air yang sebelumnya telah digunakan oleh orang lain untuk bersuci dari hadats kecil atau besar (air musta’mal), dan air yang bercampur dengan benda suci hingga air tersebut mengalami perubahan (lenyap sifat mutlaknya)

Air najis, yaitu air sejumlah dua kullah atau kurang dari itu yang bercampur dengan najis, atau air sejumlah lebih dari dua kullah dan bercampur najis hingga merubah satu dari tiga sifat air; merubah rasa, bau dan warnanya. Dua kullah, menurut pendapat yang lebih tepat, kadarnya kurang lebih sama dengan 500 ritl Baghdad. Konversi ke liter, kurang lebih sebanyak 190 lt.

 

Penjelasan :

Dalam uraian ini, Penulis matan membagi jenis air menurut tinjauan boleh tidaknya digunakan untuk berthaharah menjadi tiga jenis, yaitu;

1. Air yang boleh digunakan untuk berthaharah (air muthlak)

2. Air yang makruh digunakan untuk berthaharah (air musyammasy)

3. Air yang tidak boleh digunakan untuk berthaharah.

Air jenis ketiga ini ada tiga macam, yaitu;

*) Air suci yang bercampur dengan benda suci hingga menghilangkan sifat mutlak air

*) Air musta’mal

*) Air najis

Dari ketiga jenis air ini ada jenis yang telah disepakati hukumnya dan ada juga yang masih diperselisihkan. Hal yang telah disepakati adalah :

1. Air muthlak boleh digunakan berthaharah

2. Air suci yang bercampur dengan benda suci namun tidak menghilangkan kemutlakan air tersebut masuk ke dalam kategori air mutlak, boleh digunakan berthaharah.

3. Air yang bercampur dengan benda najis hingga merubah satu dari sifat air tersebut adalah air najis dan tidak boleh digunakan; baik untuk bersuci dari hadats atau membersihkan sesuatu yang terkena najis.

Adapun hal yang masuk dalam wilayah khilaf adalah :

1. Hukum air musyammasy

2. Apakah air dengan kadar kurang dari dua kullah yang bercampur dengan najis akan serta merta menjadi najis, meski tidak berubah satu dari tiga sifatnya ?

3. Hukum air musta’mal

Bagaimana rincian penjelasannya ?. Mari kita simak,

 

Landasan Perkara Yang Telah Disepakati

Berkenaan dengan air untuk bertharah (bersuci), maka telah disebutkan sebelumnya tentang beberapa hal yang telah disepakati oleh ulama, yaitu :

1. Air muthlak boleh digunakan berthaharah

2. Air suci yang bercampur dengan benda suci namun tidak menghilangkan kemutlakan air tersebut masuk ke dalam kategori air mutlak, boleh digunakan berthaharah.

3. Air yang bercampur dengan benda najis hingga merubah satu dari sifat air tersebut adalah air najis dan tidak boleh digunakan; baik untuk bersuci dari hadats atau membersihkan sesuatu yang terkena najis.

Adapun landasan dari lahirnya kesepakatan itu diantaranya adalah :

1. Air muthlak boleh digunakan untuk berthaharah

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

الْمَاءُ طَهُورٌ، لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

“Air itu suci dan boleh digunakan bersuci, tidak satupun yang akan menjadikannya najis -kecuali jika sifat mutlaknya hilang-.”. (HR. Ahmad)

2. Air muthlak yang bercampur dengan benda suci namun tidak lenyap darinya sifat mutlaknya, tetap dapat digunakan untuk bersuci.

Diantara landasan ketentuan ini adalah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita yang memandikan jasad anak wanita beliau (Zainab) yang telah wafat agar mencampur air basuhan terakhirnya dengan kapur barus.

Air yang boleh digunakan untuk memandikan jenazah adalah air yang boleh digunakan untuk berthaharah. Olehnya, perintah tersebut menunjukkan bahwa selama percampuran air mutlak dengan benda suci tidak bersifat dominan hingga menghilangkan sifat kemutlakannya, maka air tersebut tetap dapat digunakan untuk bersuci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ، بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي الآخِرَةِ كَافُورًا

“Mandikanlah ia (Zainab) dengan menggunakan air yang dicampur dengan daun bidara sebanyak tiga atau lima kali atau lebih dari itu, yaitu jika kalian memandang perlu hal tersebut. Dan campurlah dengan kapur barus pada air bilasan terakhirnya.”. (HR. Bukhari)

3. Jika air mutlak bercampur dengan benda najis hingga merubah satu dari sifat air tersebut, maka air tersebut tidak lagi boleh digunakan; baik untuk bersuci dari hadats atau membersihkan sesuatu yang terkena najis.

Olehnya itu maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang membuang hajat di air yang tergenang (tidak mengalir). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ

“Jangan sekalipun salah seorang dari kalian buang air kecil pada air yang tergenang kemudian ia mandi dari air tersebut.”. (HR. Muslim)

 

Jika ditanyakan, apa indicator hilangnya sifat muthlak yang dimiliki air setelah bercampur dengan benda suci ?

Jawabannya adalah bahwa satu diantara indicator hilangnya kemutlakan air karena percampuran air itu dengan benda suci adalah lekatnya nama dari benda lain yang mencampurinya setelah terjadi percampuran. Contohnya; air teh, air susu, air kelapa dan yang semacamnya. Air jenis ini meski suci, namun tidak boleh digunakan untuk berthaharah.

 

Air Kurang Dari Dua Qullah dan Bercampur Najis ?

Sebelumnya telah disebutkan bahwa air yang boleh digunakan untuk berthaharah adalah air muthlak, dan air yang tidak boleh digunakan untuk berthaharah adalah air yang telah kehilangan sifat muthlaknya. Maka satu diantara hal yang menyebabkan hilangnya kemutlakan air adalah ketika air itu bercampur dengan benda najis, dan pencampuran tersebut menyebabkan berubahnya satu dari sifat air; warna, rasa dan baunya.

Jika sifat air tidak berubah dengan pencampuran tersebut, maka keadaannya tidak lepas dari dua hal, yaitu;

1. Kadar air itu lebih dari dua qullah (kurang lebih 190 lt -sebagaimana telah disebutkan sebelumnya-), maka air itu tetap boleh digunakan untuk bersuci.

2. Kadar air itu sama atau kurang dari dua qullah, maka sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa air itu secara ototmatis akan menjadi air najis; yaitu jika bercampur dengan najis, meski tidak ada perubahan pada sifat air.

Dalil pendapat kedua ini adalah makna tersirat (mafhum) dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ;

 إِذَا كَانَ الْمَاءُ قَدْرَ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ

“Apabila kadar air sebanyak dua qullah, maka air itu tidaklah membawa najis.”. (HR. Ahmad). Makna tersirat dari hadits ini bahwa jika air itu memiliki kadar kurang dari dua qullah, maka secara mutlak air tersebut akan menjadi najis jika bercampur dengan benda najis.

Pendapat ini adalah pendapat yang dipilih oleh Penulis matan. Beliau berkata tentang air najis -lihat redaksi matan- : “Air najis, yaitu air sejumlah dua kullah atau kurang dari itu yang bercampur dengan najis, atau air sejumlah lebih dari dua kullah dan bercampur najjis hingga merubah satu dari tiga sifat air; merubah rasa, bau dan warnanya.”.

Namun sebagian ulama menyatakan bahwa pendapat tersebut adalah pendapat yang kurang tepat karena pendalilan dengan menggunakan makna tersirat (mafhuum) sebuah dalil akan menjadi lemah jika bertolak belakang dengan makna tersurat (manthuuq) dalil yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

الماءُ طَهورٌ لا يُنجِّسُهُ شيءٌ

“Air itu suci tidak menjadi najis jika bercampur dengan sesuatupun.” (HR. Abu Daud).  Hadits ini secara tekstul atau tersurat (manthuuq) menyebutkan bahwa tidak ada satupun yang bisa menjadikan sebuah air itu menjadi najis, yaitu selama air itu tidak mengalami perubahan pada salah satu sifatnya baik kadar air itu kurang atau lebih dari dua qullah. Tentu keumuman ini dibatasi dengan ijma’ (konsesus) ulama yang menyatakan bahwa jika satu dari tiga sifat air itu berubah dengan adanya benda najis yang mencapurinya, maka air itu adalah air najis; baik kadarnya kurang dari dua qullah ataupun kadarnya lebih dari itu.

Kesimpulannya bahwa barometer perubahan air mutlak menjadi air najis terletak pada adanya perubahan itu sendiri dan bukan pada kadar atau banyaknya volume air.

 

Selanjutnya,

Dari penjelasan ini diketahui bahwa penetapan air mutlak sebagai air najis timbul karena adanya sebab (‘illah). ‘Illah itu adalah wujudnya najis pada air tersebut, yang ditandai dengan timbulnya perubahan pada salah satu sifat air karena najis yang mencampurinya. Maka jika wujud najis itu lenyap atau dapat dihilangkan dari air tersebut, dengan itu status air tersebut akan kembali kepada asalnya, yaitu air muthlak. Contoh;

1. Jika air muthlak yang berubah menjadi air najis ditambahkan air dengan volume yang banyak hingga menghilangkan perubahan yang ditimbulkan oleh najis tadi, maka status air itu akan kembali menjadi air muthlak.

2. Jika air muthlak yang berubah menjadi air najis, dilakukan tindakan pada air tersebut dengan memberi zat kimia tertentu yang dapat menghilangkan perubahan yang ditimbulkan oleh najis tadi, dengan itu maka status air akan kembali menjadi air muthlak.

 

Air Musyammasy

Dalam uraian sebelumnya, telah dijelaskan bahwa Penulis matan membagi jenis air menurut tinjauan boleh tidaknya digunakan untuk berthaharah menjadi tiga jenis, yaitu;

1. Air yang boleh digunakan untuk berthaharah (air muthlak)

2. Air yang makruh digunakan untuk berthaharah (air musyammasy)

3. Air yang tidak boleh digunakan untuk berthaharah.

Selanjutnya, air jenis ketiga ini ada tiga macam, yaitu;

*) Air suci yang bercampur dengan benda suci hingga menghilangkan sifat mutlak air

*) Air musta’mal

*) Air najis

Alhamdulillah beberapa bahasan telah diulas pada penjelasan sebelumnya, yaitu;

*) Kapan kemutlakan air dinyatakan hilang (berubah)

*) Jika kadar air sejumlah kurang atau sama dengan dua qullah bercampur najis namun tidak menyebabkan terjadinya perubahan pada satu dari tiga sifat air; adakah air tersebut secara otomatis berubah menjadi air najis ?

 

Masalah selanjutnya adalah air musyammasy. Bagaimana hukum menggunakannya untuk bersuci ?.

Air musyammasy adalah :

المسخن في إناء من معدن بحَر الشمس

“Air yang berada dalam wadah logam atau semacamnya dan dijemur atau diletakkan di terik matahari.”.

Jenis air ini, oleh Penulis matan dinyatakan sebagai :

طاهر مطهر مكروه

“Air suci tetapi makruh digunakan bersuci.”. Tentang sebab makruhnya, maka diantara ulama ada yang berkata;

وكراهته لما قيل: من أنه يسبب مرض البرص أو يزيده

“Jenis air ini akan menyebabkan penyakit kulit.”. Imam Syafi’ie berkata;

وَلَا أَكْرَهُ الْمَاءَ الْمُشَمَّسَ إلَّا مِنْ جِهَةِ الطِّبِّ

“Tidaklah saya memakruhkan air musyammasy kecuali karena alasan kesehatan.”.

Bila demikian, maka diketahui bahwa hukum jenis air ini pada asalnya adalah hukum air muthlaq. Namun menjadi makruh karena adanya faktor lain, yaitu alasan kesehatan. Hanya saja, alasan ini -ternyata- bukanlah alasan yang disepakati oleh para pakar dibidangnya. Imam Nawawi -rahimahullah- berkata;

أَنَّ الْمُشَمَّسَ لَا أَصْلَ لِكَرَاهَتِهِ وَلَمْ يَثْبُتْ عن الاطباء فيه شيء

“Tidak ada keterangan agama yang valid menyatakan makruhnya menggunakan air musyammasy untuk bersuci, dan juga tidak ada keterangan dari para ahli kesehatan menyatakan adanya dampak negatif yang akan timbul akibat menggunakan air musyammasy untuk membersihkan tubuh.”.

Atas dasar keterangan ini, maka pendapat yang lebih tepat in sya Allah adalah pendapat yang menyatakan bahwa hukum menggunakan air musyammasy untuk bersuci adalah boleh dan tidak makruh. Namun jika ada air muthlak selainnya, maka lebih utama menggunakannya.

 

Air Musta’mal

Telah dibahas pada uraian terdahulu bahwa satu diantara jenis air yang oleh Penulis dinyatakan sebagai air yang tidak sah digunakan untuk bersuci adalah air musta’mal.

Tentang pengertiannya, maka ulama berkata bahwa air musta’mal adalah air bekas bersucinya seseorang dari hadats besar atau hadats kecil. Adakah air tersebut, bila tertampung dalam sebuah wadah atau bercampur dengan air di dalam ember, tetap sah digunakan untuk berthaharah oleh orang selainnya ?

Sekali lagi, Penulis menyatakan bahwa air tersebut tidak sah digunakan untuk bersuci. Diantara alasan mereka adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi larangan bagi seorang yang junub untuk mandi dengan berendam di air yang tergenang. Menurut mereka bahwa larangan tersebut disebabkan karena air yang dipakai berendam oleh orang junub akan menyebabkan hilangnya kemutlakan air itu; baik karena air itu telah menjadi air najis, maupun karena air tersebut statusnya telah menjadi air suci yang tidak lagi sah digunakan untuk bertharah (mandi besar atau wudhu).

Namun pendapat ini menjadi lemah karena adanya keterangan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi junub dari satu wadah bersama ‘Aisyah yang juga tengah junub. Ketika mereka mandi bersama maka tentu air yang berada pada wadah / ember yang mereka gunakan itu tidaklah akan bebas dari percikan-percikan / air sisa mereka. Maka jika saja air musta’mal itu betul akan menghilangkan kemutlakan air atau menjadikannya najis, tentulah Rasulullah tidak akan mandi junub dari wadah yang digunakan oleh Aisyah untuk mandi junub; sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentunya akan melarang Aisyah mandi junub dari wadah yang juga beliau gunakan untuk mandi junub.

Adapun hadits yang berisi larangan bagi orang junub untuk mandi dengan berendam di air yang tergenang, tidaklah mutlak dipahami karena hal itu akan menjadikan air tersebut hilang kemutlakannya. Bisa jadi sebab pelarangan itu adalah karena hal itu berpotensi untuk menjadikan air tersebut hilang kemutlakannya; atau berpotensi untuk mengotori air tersebut; atau berpotensi membuat orang lain merasa enggan (jijik) untuk bertharah dari air tersebut; atau bisa jadi larangan tersebut bersifat ta’abbudiyyah (hanya Allah yang mengetahui sebab pelarangannya).

Adanya kemungkinan-kemungkinan tersebut tentu tidak seharusnya dijadikan dalil untuk membatalkan kebolehan menggunakan air musta’mal sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah yang ketika itu mandi junub dari satu wadah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang juga tengah junub.

Maka sebagai kesimpulan bahwa pendapat yang lebih tepat berkenaan dengan status air musta’mal adalah sah digunakan untuk bersuci. Olehnya, seorang tidak diperbolehkan bertayammum jika ia masih mendapatkan air, bahkan meski itu adalah air musta’mal.

——————————

(*) Tulisan ini adalah materi berlanjut kajian albinaamenyapa, “ngaji kitab fiqh matan Abi Syuja”. Setiap ada tambahan rubrik, in sya Allah akan diupdate di link ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *