Pelajaran Dari Surah An Nuur

Diantara fenomena masyarakat di era digital saat ini adalah fenomena share informasi yang sangat massif. Bila saja informasi yang dishare itu bermanfaat, maka tentu hal tersebut adalah sesuatu yang baik. Namun hal yang miris, manakala informasi yang dishare itu dan selanjutnya menjadi viral ternyata adalah informasi hoax, yang rupanya –setelah diusut- pada asalnya ditujukan untuk meruntuhkan harga diri seseorang dan merusak hubungan keluarganya.
Fenomena seperti ini mengingatkan kita pada peristiwa (fitnah) yang pernah terjadi dan menimpa Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- berkenaan dengan kehormatan Beliau dan keutuhan rumah tangganya (peristiwa ifk). Ketika itu, Allah berpesan;

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”. (An Nuur; 11)

Pesan dari penggalan ayat ini bahwa segala bentuk fitnah atau konspirasi yang ditujukan untuk menjatuhkan harga diri seseorang, insya Allah tidaklah akan berakhir buruk bagi mereka yang terfitnah, justru akan bermuara pada kebaikan, jika mereka bersabar dan menyikapi fitnah tersebut secara benar, sesuai dengan tuntunan syari’at.

Diantara pesan dari penggalan ayat di atas bahwa para penebar fitnah dan penggagas konspirasi, kelak mereka akan mempertanggungjawabkan perbuatan hina yang mereka lakukan tersebut di hadapan Allah. Allah berfirman;

وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”. (An Nuur; 11)
Lantas bagaimana sikap yang benar menghadapi fenomena seperti ini ?. Allah berfirman;

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa mereka tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”. (An Nuur; 12)

وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

“Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.”. (An Nuur; 16)

Dalam dua penggalan ayat ini, Allah berpesan bahwa sikap yang benar dari orang-orang beriman menanggapi isu yang belum jelas kebenarannya adalah bersangka baik dan tidak terprovokasi, karena persangkaan baik seorang kepada saudaranya adalah sama dengan persangkaan baiknya kepada dirinya sendiri (asas praduga tak bersalah).

Hal yang harus diingat bahwa perbuatan menebar fitnah (isu miring berkenaan dengan kehormatan saudara seiman) bukanlah perkara ringan di sisi Allah. Sifat ini (gemar menebar fitnah dan isu-isu miring) adalah satu diantara sifat orang-orang munafik, namun miris bahwa sebagian orang menganggap perbuatan hina tersebut adalah hal yang biasa-biasa saja. Allah berfirman;

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”. (An Nuur; 15)

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.”. (An Nuur; 19)

Olehnya, hendaknya mereka yang pernah melakukan dan terlibat dalam kejahatan jenis ini –baik secara sengaja atau tidak disadarinya- segera bertaubat kepada Allah dan bertekad untuk tidak lagi mengulang kejahatan yang sama untuk kedua kalinya. Allah berfirman;

يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (17) وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Demikianlah Allah menasehati kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. (17) dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”.

Demikianlah nasehat Allah kepada orang-orang beriman. Semoga Allah selalu menuntun kita untuk terus berada di atas jalan kebenaran.

 

✍️ Penulis : Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc
Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

One Reply to “Pelajaran Dari Surah An Nuur”

  1. Terimakasih sharingnya, InsyaAllah bermanfaat.
    Bagaimana seharusnya kita menyikapi berita yang belum tentu kebenarannya?
    Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *