Pelajaran dari Nabi Ya’kub dan Yusuf

Kisah Nabi Yusuf adalah kisah yang sangat indah. Di dalamnya banyak sekali nasihat dan pelajaran hidup yang bisa dipetik.

Di awal kisah Al- Qur’an tentang perjalanan hidup Nabi Yusuf Alaihissalam, Allah berfirman tentang mimpi Yusuf :

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ . قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Ingatlah, ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.” (Surat Yusuf ayat 4-5)

Ayat ini adalah tentang mimpi Nabi Yusuf yang menjadi start awal dari kemuliaan yang akan beliau raih. Dan bahwa Nabi Yusuf akan menjalani fase-fase kehidupan penuh warna dan cobaan yang akhirnya menjadikan beliau sebagai hamba berderajat tinggi, mulia di sisi Allah, baik di dunia ataupun akhirat.

Dari dua ayat ini, banyak sekali pelajaran teoritis praktis untuk kehidupan. Diantara pelajaran tersebut adalah :

1. Berlemah lembut dalam berdialog dan berinteraksi dengan anak. Ya’kub sang ayah berkata kepada Yusuf dengan panggilan : “Wahai anakku” yang menunjukkan lembutnya sang ayah kepada sang anak. Ini juga menunjukkan dekatnya hubungan sang anak dengan orang tua.

2. Perintah untuk selalu waspada dan hati-hati dan tidak lengah dalam segala hal. Nabi Ya’kub yang meminta Yusuf menyembunyikan mimpi adalah wujud kehati-hatian agar tidak terjadi apa yang tidak diinginkan.

3. Petunjuk bagi orang tua untuk tidak membiarkan benih-benih hasad muncul di antara anak-anak. Ya’kub meminta Yusuf untuk menyembunyikan mimpi dan tidak menceritakannya kepada saudara-saudaranya, karena khawatir munculnya hasad lalu mereka mencelakakan Yusuf.

4. Sifat hasad dan iri tidak hanya terjadi pada usia dewasa, tapi sudah ada pada anak-anak. Maka penting bagi orang tua untuk mengerti perasaan anak-anak agar dapat lebih dini bertindak preventif atau mencari solusi bila ada masalah.

5. Orang yang bermimpi dan meyakini mimpinya memiiliki makna, hendaknya tidak menceritakan mimpinya kecuali kepada orang yang dipercaya dan jauh dari sifat hasad, seperti anak menceritakan kepada ayahnya.

6. Orang tua bijak adalah yang selalu berusaha membuat anak-anaknya akur harmonis dan cepat-cepat mengubur segala sesuatu yang bisa merusak kedekatan mereka.

Demikian diantara pelajaran dari pelajaran – pelajaran penting lainnya dalam kisah nabiullah Ya’qub dan nabiullah Yusuf ‘alaihimassalaam. Wallahu A’lam

✍ Penulis : Ustadz Abdusshomad Rifai, Lc
Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *