PANDUAN BERHARI RAYA

MEMAKNAI HAKIKAT BERHARI RAYA

Allah berfirman;

وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan puasamu dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (takbir hari raya) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”. (Al Baqarah; 127)

Idul fithri merupakan salah satu diantara dua hari raya yang senantiasa dirayakan oleh ummat Islam pada setiap tahunnya, selain hari raya idul adha. Bagi ummat Islam tiada hari yang patut dirayakan kecuali kedua hari tersebut. Selain kedua hari tersebut maka bukanlah hari yang pantas untuk dirayakan oleh ummat Islam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat bernama Anas Ibn Malik :

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأَضْحَى، وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Artinya : ”Ketika Rasulullah sampai di Madinah, dimana pada saat itu penduduk Madinah sedang merayakan dua hari raya, yang mana mereka bersenang-senang di hari tersebut. Lalu Rasulullah pun bertanya : ”hari apakah ini?”. Penduduk Madinah pun menjawab : “Kedua hari tersebut adalah hari dimana kami terbiasa bermain-main/bersenang-senang ketika jahiliyah dahulu”. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Seseungguhnya Allah telah memberikan pengganti dua hari raya yang lebih baik dari kedua hari (yang kalian peringati tersebut), yaitu idul fithri dan idul adha”.

Kata ‘Iedul Fithri terdiri dari 2 suku kata. Pertama ‘Ied yang berarti perayaan yang dirayakan secara rutin dalam setiap tahunnya. Sedangkan fithri berarti berbuka. Artinya Idul Fithri ialah hari raya yang setiap tahunnya dirayakan oleh ummat islam disaat mereka diperintahkan untuk berbuka setelah berpuasa selama 29 atau 30 hari lamanya pada bulan Ramadhan. Dan seluruh ulama bersepakat diharamkannya berpuasa pada hari tersebut.

Sebagaimana lazimnya hari raya, tentu semua orang merayakan hari raya idul fithri dengan penuh suka cita. Namun, bukan dengan cara-cara yang salah sebagaimana yang banyak kita temukan di tengah masyarakat kita saat ini. Dimana hari raya dijadikan sebagai ajang untuk memenuhi kebutuhan lahiriah saja serta melupakan pemenuhan aspek ruhiyah dan bathiniahnya. Mereka memaknai hari raya dengan keharusan berburu pakaian baru sehingga mereka pun rela mengorbankan keutamaan 10 hari terakhir dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Tentunya hal ini merupakan kelalaian dan jauh dari hakikat berhari raya yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana cara memaknai hakikat berhari raya?. Berikut kami sampaikan beberapa riwayat dari para salafus shalih :

√ Ibnu Rajab Al Hanbaliy memberikan nasehat kepada kita tentang hakikat sebenarnya dari perayaan hari raya. Beliau berkata :

ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب

“Hari raya itu bukanlah bagi mereka yang mengenakan pakaian baru, namun hari raya itu bagi mereka yang ketaatannya senantiasa bertambah. Hari raya bukanlah untuk mereka yang mempercantik diri dengan pakaian dan kendaraannya, namun hari raya yang sesungguhnya ialah untuk mereka yang diampuni dosa-dosanya”.
√ Sebuah riwayat yang mengisahkan tentang cara Ali Ibn Abi Thalib ketika memaknai hakikat berhari raya :

دخل رجل على أمير المؤمنين علي بن أبي طالب – رضي الله عنه – يوم عيد الفطر ،فوجده يتناول خبزا فيه خشونة، فقال : يا أمير المؤمنين ، يوم عيد وخبز خشن ! فقال علي : اليوم عيد من قبل صيامه وقيامه ، عيد من من غفر ذنبه وشكر سعيه وقبل عمله ، اليوم لنا عيد وغدا لنا عيد وكل يوم لا يعصى الله فيه فهو لنا عيد

Artinya : “Seorang laki-laki mendatangi Khalifah Ali Ibn Abi Thalib-radhiyallahu anhu- pada hari raya idul fithri,. Ketika itu laki-laki tersebut mendapati sang Khalifah tengah menyantap roti yang keras. Lalu laki-laki tersebut berkata kepada Ali ibn Abi Thalib : Wahai Amirul Mukminin, roti kering/keras di hari raya?. Lalu Ali pun berkata : “Hari ini adalah hari raya bagi orang-orang diterima amalan puasa dan shalatnya, hari raya bagi orang-orang yang diampuni dosa-dosanya, dibalas usahanya (dalam melakukan kebaikan) dan diterima amalannya. Hari ini adalah hari raya, esok pun adalah hari raya dan setiap hari ketika kita tidak bermaksiat kepada Allah dihari-hari tersebut maka sesungguhnya itulah hakikat hari raya bagi kita (ummat islam)”.

Ikhwati, berhari raya bukan tentang gaya-gayaan dengan pakaian baru yang dikenakan, kendaraan baru yang ditunggangi. Tidak juga dengan banyaknya perhiasan yang kita pertontonkan. Namun, hakikat sebenarnya dari berhari raya ialah :

√ Diterimanya amal ibadah selama Bulan Ramadhan
√ Keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala
√ Bertambahnya ketaatan dan menjaga amal ibadah selama Ramadhan agar terus dapat dipraktekkan di luar Ramadhan.

SUNNAH – SUNNAH KETIKA BERHARI RAYA

1. MANDI SEBELUM BERHARI RAYA
Meskipun tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mandi sebelum berangkat melaksanakan shalat ied, namun ada beberapa atsar dari para sahabat dan tabi’in yang menjelaskan tentang sunnahnya mandi sebelum berangkat berhari raya. Diantara riwayat tersebut :

عن نافع أن عبد الله بن عمر كان يغتسل يوم الفطر قبل أن يغدو إلى المُصلى

Artinya : “Diriwayatkan dari Nafi’ bahwasanya Abdullah Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma mandi pada saat hari raya idul fithri sebelum berangkat ke tempat shalat.”. Sa’id Ibn Musayyib (Salah seorang pembesar di kalangan Tabi’in) berkata : Sunnah hari raya idul fithri ada tiga, yaitu : pergi ke tempat shalat dengan berjalan kaki, makan sebelum keluar ke tempat shalat dan mandi sebelum berangkat ke tempat shalat. (Irwaul Ghalil : 2/104). Dan sunnah yang dimaksudkan oleh beliau (sa’id Ibn Musayyib) adalah sunnah yang dilakukan oleh para sahabat dan bukan sunnah yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

2. MENGENAKAN PAKAIAN TERBAIK PADA SAAT HARI RAYA
Imam As Sanadi berkata : “Berhias diri dan mengenakan pakaian pada hari raya adalah kebiasaan yang sering berulang di tengah-tengah para sahabat dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari hal tersebut, maka dapat dipahami bahwa kebiasaan tersebut masih terus tetap terjaga”.

Imam Ibnu Hajar Al Asqolani berkata : diriwayatkan oleh Ibnu Abi dunya dengan sanad shahih bahwa Ibnu Umar mengenakan pakaian terbaiknya di dua hari raya ummat islam (idul fitri dan idul adha) (Fathul Baari : 2/439)

3. MAKAN SEBELUM BERANGKAT

عن بُريدة رضي الله عنه قال: كان النبي – صلى الله عليه وسلم – لا يخرج يوم الفطر حتى يَطْعَم، ويوم النحر: لا يأكل حتى يرجع فيأكل من نسيكته

Artinya :”Dari Buraidah radhiyallahu anhu,beliau berkata : Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak keluar menuju ke tempat shalat pada saat hari raya idul fitri hingga beliau makan terlebih dahulu. Adapun pada hari raya idul adha maka beliau tidak makan hingga selesai pelaksanaan shalat idul adha, lalu beliau kemudian memakan binatang sembelihannya”. (HR. At Tirmidzi)

Adapun hikmah disyariatkannya makan terlebih dahulu sebelum keluar shalat pada hari raya idul fitri ialah agar tidak ada orang yang menyangka bahwa dihari tersebut (hari raya idul fitri) masih diharuskan untuk berpuasa hingga shalat ied telah selesai dilaksanakan.

4. SHALAT DI TANAH LAPANG
Imam Ibnu Qudamah berkata : Sunnah pelaksanaan shalat ied adalah di tanah lapang. Barangsiapa yang tidak sanggup untuk berangkat dan shalat di tanah lapang dikarenakan sakit atau usia yang sudah tua, maka tak mengapa baginya untuk shalat di Masjid. (Kitab Al Mughni : juz 2, hal.229)

Dan perlu menjadi perhatian bersama bahwa tujuan shalat di tanah lapang ialah agar ummat Islam berkumpul di satu tempat sehingga terlihat dengan jelas syiar dari agama Islam ditengah-tengah ummat lainnya.

5. BERJALAN MELALUI JALAN YANG BERBEDA KETIKA BERANGKAT DAN PULANG

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال: كان النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا كان يوم عيدٍ خالَفَ الطريقَ

Artinya : “ Dari Jabir Ibn Abdillah radhiyallahu anhu beliau berkata : Nabi shallallahu alaihi wasallam pada saat hari raya menempuh jalan yang berbeda (ketika berangkat dan pulangnya). (H.R.Bukhari)

Imam Ibnul Qayyim berkata : “Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menempuh jalan yang berbeda pada hari raya, maka beliau berangkat melalui suatu jalan dan pulang melalui jalan yang lainnya. (Adapun hikmahnya) ada yang mengatakan : agar Rasulullah dapat member salam kepada penghuni/penduduk di kedua jalan yang dialalauinya. Adapula yang mengatakan : agar penghuni kedua jalan tersebut mendapatkan barokah nabi shallallahu alaihi wasallam. Adapula yang mengatakan : agar tampak syiar-syiar Islam. (Zaadul Ma’aad : 1/449)

Imam An Nawawi berkata setelah beliau menyebutkan pendapat-pendapat (tentang hikmah menempuh jalan yang berbeda ketika pergi dan pulang hari raya) di atas : “Apabila tidak diketahu sebab/hikmahnya maka pastinya kita tetap dianjurkan untuk meneladani (sunnah Beliau).”. Wallahua’lam. (Raudhotut Tholibin : 2/77)

Imam Baghowi berkata dalam kitabnya “Syarhus Sunnah” (juz 4, hal.202-203) : “Dan dianjurkan untuk keluar menuju ke tempat shalat setelah selesai melaksanakan shalat subuh untuk mengambil tempat duduk mereka dan bertakbir. Adapun waktu keluar bagi seorang Imam ialah di waktu yang bertepatan dengan akan didirikannya shalat.”.

Diriwayatkan oleh imam At Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Ali radhiyallahu anhu beliau berkata : “Termasuk perkara sunnah ialah keluar menuju ke tempat shalat dengan berjalan kaki.”.

6. BERTAKBIR KETIKA BERANGKAT DARI RUMAH SAMPAI MENJELANG DILAKSANAKANNYA SHALAT

Allah Ta’ala berfirman :

وَلِتُكْملوا العِدَّةَ ولِتُكَبِّروا اللهَ على ما هداكم ولعلّكم تَشْكُرون

Artinya :”Dan agar kalian menyempurnakan bilangan dan mengagungkan Allah atas petunjuk yang telah Allah berikan kepada kalian dan agar kalian bersyukur”. (Q.S. Al Baqarah : 185). Dalam sebuah hadits dinyatakan:

كان يخرج يوم الفطر فَيُكَبِّر حتى يأتي المُصلى، وحتى يقضيَ الصلاة، فإذا قضى الصلاةَ قطع التكبير

Artinya : “Bahwasanya Rasulullah shalllahu alaihi wasallam keluar dari rumahnya pada hari raya dalam keadan bertakbir hingga beliau sampai di tempat shalat (beliau masih bertakbir) dan hingga selesai shalat. Maka apabila shalat telah selesai ditunaikan, beliau pun menghentikan takbirnya.” (H.R. Ibnu Abi Syaibah dan dishahihkan oleh Syekh Albani)

Syekh Albani berkata : hadits tersebut (diatas) menjadi dalil disyariatkannya apa yang telah diamalkan oleh kaum muslimin yakni bertakbir dengan suara yang lantang ketika berada di jalan menuju ke tempat shalat. Meskipun banyak orang yang mulai meremehkan sunnah ini.

Tata cara shalat I’ed

A_ Shalat I’ed terdiri dari dua rakaat. Disyariatkan bertakbir sebanyak tujuh kali di rakaat pertama selain takbiratul ihram dan lima kali di rakaat kedua selain takbir peralihan (takbir intiqaal). Takbir-takbir tersebut diistilahkan dengan sebutan takbiiraat az zawaaid (takbir-takbir tambahan)
Aisyah -radhiyallahu ‘anha- berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُكَبِّرُ فِى الْفِطْرِ وَالأَضْحَى فِى الأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ وَفِى الثَّانِيَةِ خَمْسًا

“Sesungguhnya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bertakbir pada rakaat pertama dari shalat I’edul fithri dan I’edul adha sebanyak tujuh kali, dan pada rakaat kedua sebanyak lima kali (yaitu sebelum membaca surah).”[HR. Abu Daud]. Hukum takbir tersebut adalah sunnah. Barangsiapa meninggalkannya –baik sengaja atau tidak- maka tidak batal shalatnya.

B_ Mengangkat tangan setiap kali takbir.

Disebutkan dalam sebuah keterangan umum tentang shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengangkat tangannya pada setiap kali takbir sebelum ruku, sebagaimana riwayat Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhuma-;

وَيَرْفَعُهُمَا فِى كُلِّ تَكْبِيرَةٍ يُكَبِّرُهَا قَبْلَ الرُّكُوعِ حَتَّى تَنْقَضِىَ صَلاَتُهُ

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengangkat kedua tangannya pada setiap kali takbir sebelum ruku hingga usai shalatnya.”[HR. Abu Daud].

Adapun keterangan khusus dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang menyebutkan adanya syari’at mengangkat tangan pada takbir-takbir zawaaid atau tambahan tersebut (takbir tujuh kali dan lima kali), maka tidaklah ada. Namun demikian, Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhuma- senantiasa melakukannya. Ibnu Qayyim -rahimahullah- berkata;

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ مَعَ تَحَرّيهِ لِلِاتّبَاعِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ كُلّ تَكْبِيرَة

“Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhuma- adalah seorang yang terkenal sangat banyak mengikuti segala perbuatan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan Beliau sanantiasa mengangkat kedua tangannya pada setiap kali takbir (pada saat shalat I’ed).”[Zaadul Ma’ad, 1/425]. Malik bin Anas -radhiyallahu ‘anhu- berkata ketika ditanya, apakah seorang mengangkat tangan pada takbir-takbir zawaaid tersebut ?, Beliau berkata;

نعم ارفع يديك مع كل تكبيرة ولم أسمع فيه شيئا

“Ya, angkatlah kedua tanganmu pada setiap kali takbir itu, meski saya tidak mendengar satupun keterangan (khusus) tentang itu.”[Irwaaul Ghaliil, 3/113].

C_ Mengucapkan takbir dan tahmid di sela-sela takbir

Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata;

بين كل تكبيرتين حمدٌ لله عز وجل، وثناء على الله

“Hendaknya seorang membaca pujian dan sanjungan kepada Allah pada setiap takbir.”[ Irwaa’ al Ghaliil, 3/ 115]. Dalam riwayat lain ada tambahan;

ويصلي على النبي صلى الله عليه وسلم

“Dan hendaklah pula ia bershalawat atas Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”[Mukhtashar Irwaa al Ghaliil, hal. 129].

Barangsiapa tidak sempat melaksanakan shalat I’ed secara berjama’ah, apakah ia mengqadhanya atau tidak?.

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama, namun yang pasti bahwa tidak ada keterangan jelas dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkenaan dengan hal tersebut. Olehnya itu maka pendapat yang –kiranya- lebih tepat –wallahu a’lam- adalah pendapat yang menyatakan bahwa tidak ada qadha bagi seorang yang tidak mendapati shalat I’ed. Beberapa alasannya adalah;

1. Karena tidak adanya dalil tegas dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang menyatakan kewajiban qadha.
2. Karena ibadah shalat I’ed adalah ibadah yang disyari’atkan dilakukan secara berjama’ah. Olehnya, barangsiapa yang tidak lagi mendapati jama’ah, maka gugurlah kewajibannya dan tidak wajib baginya menqadha. Keadaan ini sama dengan seorang yang tidak mendapati shalat Jum’at. Gugurlah kewajiban itu atasnya dan tidak ada kewajiban mengqadhanya. Hanya saja ia tetap berkewajiban melaksanakan shalat dzhuhur karena shalat itu adalah kewajiban bagi orang yang tidak melaksanakan shalat Jum’at pada waktu itu. Adapun orang yang luput melaksanakan shalat I’ed, maka tidak ada kewajiban shalat atasnya karena pada waktu itu tidak ada jenis shalat yang wajib ia kerjakan melainkan shalat I’ed itu sendiri.

Adapun bagi mereka yang ketinggalan serakaat dari pelaksanaan shalat I’ed, maka hendaklah ia menyempurnakan serakaat lagi sebagaimana shalatnya imam.

Khutbah shalat I’ed

Khutbah shalat I’ed dilaksanakan setelah shalat berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-;

شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

“Saya telah menyaksikan I’ed bersama Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Abu bakar, Umar dan Utsman -radhiyallahu ‘anhum-; mereka semua melaksanakan shalat I’ed sebelum khutbah.”[HR. Bukhari].

Khutbah dimulai dengan hamdalah sebagaimana sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Ibnu Qayyim -rahimahullah- berkata;

وَكَانَ يَفْتَتِحُ خُطَبَهُ كُلّهَا بِالْحَمْدِ لِلّهِ وَلَمْ يُحْفَظْ عَنْهُ فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ أَنّهُ كَانَ يَفْتَتِحُ خُطْبَتَيْ الْعِيدَيْنِ بِالتّكْبِيرِ وَإِنّمَا رَوَى ابْنُ مَاجَهْ فِي ” سُنَنِهِ ” عَنْ سَعْدٍ الْقَرَظِ مُؤَذّنِ النّبِيّ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ أَنّهُ كَانَ يُكْثِرُ التّكْبِيرَ بَيْنَ أَضْعَافِ الْخُطْبَةِ وَيُكْثِرُ التّكْبِيرَ فِي خُطْبَتَيْ الْعِيدَيْنِ . وَهَذَا لَا يَدُلّ عَلَى أَنّهُ كَانَ يَفْتَتِحُهَا بِهِ . وَقَدْ اخْتَلَفَ النّاسُ فِي افْتِتَاحِ خُطْبَةِ الْعِيدَيْنِ وَالِاسْتِسْقَاءِ فَقِيلَ يُفْتَتَحَانِ بِالتّكْبِيرِ وَقِيلَ تُفْتَتَحُ خُطْبَةُ الِاسْتِسْقَاءِ بِالِاسْتِغْفَارِ وَقِيلَ يُفْتَتَحَانِ بِالْحَمْدِ . قَالَ شَيْخُ [ ص 432 ] ابْنُ تَيْمِيّةَ : وَهُوَ الصّوَابُ لِأَنّ النّبِيّ صَلّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ كَلّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِحَمْدِ اللّهِ فَهُوَ أَجْذَمُ وَكَانَ يَفْتَتِحُ خُطَبَهُ كُلّهَا بِالْحَمْدِ لِلّهِ

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- senantiasa memulai setiap khutbahnya dengan mengucapkan alhamdulillah. Tidak satupun keterangan yang menyebutkan bahwa Beliau memulai khutbah dua hari rayanya dengan mengucapkan takbir. Riwayat yang ada dari Ibnu Majah, dari Sa’ad al Qaradzh, salah seorang muaddzin Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, hanyalah menyebutkan bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memperbanyak takbir pada sela-sela khutbahnya pada dua hari raya. Dan riwayat ini –tentu- tidaklah menunjukkan bahwa Beliau memulai khutbahnya tersebut dengan takbir. Secara umum, ada perbedaan pandang dikalangan ulama tentang lafadz pembuka khutbah dua hari raya dan shalat istisqa’ (meminta hujan). Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa khutbah shalat dua hari raya dan khutbah shalat istisqaa’ dibuka dengan lafadz takbir. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa khutbah shalat istisqa’ dibuka dengan istighfar. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa khutbah kedua shalat tersebut dibuka dengan lafadz hamdalah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata; pedapat ketiga itulah yang benar karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengatakan bahwa setiap persoalan penting yang tidak dimulai dengan hamdalah akanlah terputus berkahnya. Olehnya Beliau senantiasa memulai seluruh khutbahnya dengan mengucapkan lafadz hamdalah.”[Zaadul Ma’ad, 1/425].

Khutbah shalat I’ed hanya terdiri dari satu khutbah saja dan bukan dua khutbah sebagaimana khutbah Jum’at. Adapun riwayat dari Sa’ad bin Abi Waqqash -radhiyallahu ‘anhu- yang menyatakan bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan dua kali khutbah yang dipisah dengan duduk sesaat ketika usai shalat I’ed, maka riwayat itu adalah riwayat yang lemah karena di dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama Abdullah bin Syabiib, yang merupakan perawi yang waahin (lemah)[Tamaamul Minnah, hal. 348].

Hari I’ed Jatuh Pada Hari Jum’at

Bila waktu I’ed bertepatan dengan hari Jum’at, maka diberi keringanan bagi orang-orang yang telah menghadiri I’ed untuk tidak melaksanakan shalat Jum’at, tetapi wajib bagi mereka yang tidak menghadirinya untuk melaksanakan shalat Dzhuhur. Zaid bin Arqam -radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya oleh Mu’awiyah bin abi Sufyan -radhiyallahu ‘anhu- tentang perbuatan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika hari I’ed jatuh pada hari Jum’at. Beliau berkata;

صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ ؛ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melaksanakan shalat I’ed. Setalahnya Beliau memberi keringanan bagi mereka berkenaan dengan shalat Jum’at. Beliau berkata; siapa yang ingin melaksanakan shalat Jum’at, maka silahkan; (dan barangsiapa yang tidak ingin melaksanakannya, maka tidak mengapa).”[HR. Abu Daud]. Dalam riwayat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ

“Pada hari ini telah berkumpul bagi kalian dua buah hari raya. Maka barangsiapa ingin meninggalkan shalat Jum’at, maka shalat I’ed telah mencukupinya. Namun sesungguhnya kami tetap melaksanakannya (shalat Jum’at).”[HR. Abu Daud]. Atha’ bin abi Rabaah -rahimahullah- berkata;

صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِى يَوْمِ عِيدٍ فِى يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ أَصَابَ السُّنَّةَ

“Ibnu Zubair -radhiyallahu ‘anhu- pernah mengimami kami pada shalat I’ed di hari Jum’at. Ketika tiba waktu Jum’at, kami pun pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat Jum’at, tetapi Ibnu Zubair tidak keluar mengimami kami. Karena itu kami pun melaksanakan shalat (dzhuhur) sendiri-sendiri. Saat itu, Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- tengah berada di Tha’if. Maka ketika Beliau tiba, kami pun mengadukan hal itu kepada Beliau. Kemudian Beliau berkata bahwa perbuatan Ibnu Zubair itu telah sesuai dengan sunnah.”[HR. Abu Daud]. Keterangan ini sekaligus mengisyaratkan bahwa kewajiban melaksanakan shalat Dzhuhur ketika itu tidaklah gugur dengan gugurnya kewajiban melaksanakan shalat Jum’at.

Kebiasaan-kebiasaan hari raya dan hukumnya

1. Mengucapkan selamat hari raya

Mengucapkan selamat hari raya kepada keluarga dan rekan ketika hari raya adalah merupakan hal yang baik. Jubair bin Nufail berkata;

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

“Para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika bertemu di hari I’ed biasanya saling mendoakan dengan mengucapkan “taqabbalallahu minna wa minka” (semoga Allah menerima segala amalan kami dan engkau di bulan Ramadhan).”. [Fathul Baari, 3 /372].

Adapun menggunakan ucapan-ucapan selamat lainnya, sesuai dengan kebiasaan masing-masing orang dalam komunitasnya, maka in sya Allah tidaklah mengapa.

Syekh Muhammad Ibn Shalih Al Utsaimin – Rahimahullah – ketika ditanya tentang hukum mengucapkan selamat pada momen hari raya idul fitri/idul adha, maka beliau pun mengatakan : “Mengucapkan selamat pada momen hari raya adalah sesuatu yang diperbolehkan, dan tidak ada kalimat atau ucapan-ucapan yang dikhususkan, akan tetapi segala bentuk ucapan selamat yang sudah menjadi kebiasaan atau tradisi orang-orang (pada saat hari raya) maka diperbolehkan selama ucapan tersebut bukan ucapan yang mengandung dosa”. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al Utsaimin : Juz 16 , hal.210 )

2. Berjabat tangan antara lawan jenis yang bukan mahram

Hari raya adalah hari ketaatan dan dipenuhi dengan dzikir kepada Allah Ta’ala. Maka tentunya tidak layak di hari yang agung tersebut ada pelanggaran-pelanggaran syar’i yang kemudian kita tolerir begitu saja dengan dalih merayakan hari raya. Diantara pelanggaran yang kita temukan di tengah-tengah masyarakat pada saat berhari raya ialah berjabat tangan dengan yang bukan mahram.

Dalam syariat Islam, berjabat tangan antara dua orang muslim pada saat mereka bertemu tentunya merupakan perkara yang terpuji. Bahkan merupakan sebab diampunkannya dosa. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Al Bara’ Ibn ‘Aazib, Rasulullah shallallahu aklaihi wasallam bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ، فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Artinya : “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu mereka berjabat tangan melainkan dosa-dosa keduanya akan diampuni sebelum mereka berpisah”. (H.R.Abu Dawud dan dishahihkan oleh syekh Albani)

Namun, tidak semua jabat tangan akan mendapatkan ampunan. Karena konteks hadits di atas tidak berlaku bagi yang berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan menjadi mahramnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam banyak sabdanya telah memperingatkan laki-laki untuk tidak berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Diantara dalil-dalil keharaman berjabat tangan dengan yang bukan mahram adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ma’qil Ibn Yasar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

لأن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لا تحل له

Artinya : “Adalah lebih baik salah seorang diantara kalian ditusuk kepalanya dengan jarum dari besi dibandingkan jika ia menyentuh tangan wanita yang tidak halal untuknya”. (H.R. At Thabrani dan Al Baihaqi)

Dalil diatas dengan tegas menyatakan keharaman berjabat tangan dengan yang bukan mahramnya. Olehnya maka berhati-hatilah ketika berjabat tangan, agar anda tidak jatuh dalam dosa di hari raya, hari yang dipenuhi dengan ketaatan dan dzikir memuji Allah Ta’ala.

3. Ziarah kubur setalah selesai shalat ied

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan ummat Islam untuk memperbanyak mengingat kematian. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّات

Artinya : “Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan (kematian)”. (H.R.Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Syekh Albani dan Syekh Al Arnauth)

Salah satu amalan yang dapat mengantarkan seseorang untuk memperbanyak mengingat kematian ialah dengan berziarah kubur. Karena salah satu tujuan dari disyariatkannya ziarah kubur ialah agar kita sebagai hamba Allah dapat memperbanyak mengingat kematian. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat bernama Abu Hurairah –radhiyallahu anhu-:

زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ، فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: «اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Artinya : “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengunjungi kuburan ibundanya, maka beliau pun menangis dan membuat orang-orang yang berada disekitarnya ikut larut dalam tangisan. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “ Aku telah meminta izin kepada Rabbku (Allah) agar aku diperkenankan untuk memintakan ampunan kepada ibuku, maka Allah tidak memperkenankanku. Dan aku kemudian meminta izin kepadaNya agar aku diperkenankan untuk menziarahi kuburan ibu, maka Allah pun mengizinkanku (untuk menziarahi kuburan ibuku). Maka sekarang ziarahilah kuburan karena sesungguhnya ia dapat mengingatkan tentang kematian”. (H.R.Muslim)

Hadits di atas merupakan dalil tentang dianjurkannya menziarahi kuburan. Dan ziarah kubur boleh dilakukan kapan saja tanpa mengkhususkan hari-hari atau momen-momen tertentu untuk melakukannya. Karena mengkhususkan amalan-amalan tertentu untuk dilakukan pada waktu-waktu tertentu haruslah mengacu kepada dalil yang jelas. Dan tidak ada sumber dalil yang menganjurkan kita untuk mengkhususkan ziarah kubur pada hari idul fitri.

Wallahua’lam wa baarakallahufiikum

✍️ Penulis : Ustadz Rafael Afrianto, Lc dan Muh. Irfan Zain, Lc
Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *