Nasehat Ilahi Bagi Para “Pembunuh”

Allah berfirman;

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.”. (An Nuur; 4)

Ayat ini berisi peringatan yang sangat keras terhadap mereka atau pihak-pihak yang mengentengkan kehormatan orang lain dan suka menyebarkan isu negative terkait dengan kehormatan orang-orang yang secara fisik adalah orang-orang baik.

Ayat ini berisi penjelasan bahwa tuduhan zina kepada wanita baik dan terhormat hanya dapat dinyatakan sah jika ada empat orang saksi yang melihat adanya persetubuhan yang jelas antara laki-laki dan wanita (bukan suami istri). Disebutkan dalam hadits bahwa keempatnya menyaksikan bahwa si laki-laki memasukkan kemaluannya ke kelamin wanita.

Syaikh Sayyid Sabiq berkata; bila ada tiga orang bersaksi telah menyaksikan seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita. Tetapi orang keempat tidak memberikan kesaksiannya atau menarik diri, maka ketiga orang saksi tersebut dikenakan hukuman berupa dera sebanyak 80 kali. (Fiqhu As Sunnah, 2/403). 

Sungguh sebuah syarat yang amat sulit untuk terpenuhi. Namun dibalik kesulitan tersebut sesungguhnya ada isyarat akan wajibnya bersungguh-sungguh menjaga kehormatan seseorang.

Barangsiapa yang mengentengkan hal tersebut dan dengan begitu mudahnya menuduh seorang wanita baik telah berzina dengan seorang laki-laki, maka selain hukuman dera yang menantinya, juga persaksiannya akan ditolak untuk selamanya, dan disematkan sifat fasik pada dirinya.

Isyarat akan wajibnya bersungguh-sungguh dalam menjaga kehormatan seorang muslim dari ayat ini akan lebih nampak dengan memperhatikan peletakan ayat tersebut mengawali kisah dari peristiwa ifk, ketika ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha dituduh selingkuh dengan seorang sahabat. 

Kewajiban menjaga kehormatan seorang muslim akan menjadi hal yang sangat urgen untuk ditanamkan dan disosialisasikan secara sungguh-sungguh ke masyarakat di tengah masifnya fitnah saat ini, berupa pembunuhan karakter untuk memuaskan keserakahan dan kepentingan seseorang atau kelompok tertentu.

Dan lebih parah lagi, jika pembunuhan karakter seorang tokoh ditujukan untuk menutupi kesalahan dan perbuatan jahat serta keji yang sesungguhnya dilakukan oleh orang atau kelompok tertentu; Allah berfirman;

 وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”. (Al Ahzaab; 58)

وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.”. (An Nisaa; 112)

 

Wallahul musta’aan.

 

️ Penulis : Ustadz Muh. Irfan Zain, Lc

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *