Musuh Allah

Allah berfirman;

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”. (Al Baqarah; 98)

“Singkat dan padat”, demikianlah diantara ciri mendasar dari sebuah pernyataan baik dan bagus dalam bahasa Arab. Sifat dasar inilah yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segenap pernyataannya, hingga Beliau digelari “Jawaami’e al kalim” (seorang yang mampu mengutarakan makna yang sangat banyak degan kata-kata yang singkat”.

Satu diantara instrument yang dimiliki oleh bahasa Arab untuk menyingkat beberapa kata yang panjang adalah “Dhamir” (kata ganti).

Al Quran sebagai mukjizat, tentu memiliki sifat dasar tersebut. Jika dapat diringkas, maka tentu Allah akan meringkas sebuah ayat yang diturunkannya. Misalnya, Allah berfirman: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah”, menyatakan balasan mereka Allah berfirman;

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Allah telah menyediakan untuk mereka _(hum)_ ampunan dan pahala yang besar.”. Dalam ayat ini, Allah menggunakan dhomir _hum_ (mereka) sebagai ganti dari pengulangan kata berderet yang disebutkan sebelumnya (sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, dst)

Namun dalam beberapa tempat, ternyata disebutkan beberapa ayat yang tidak mengikuti ketentuan asal tersebut. Contohnya adalah ayat yang disebutkan mengawali rubric hari ini. Allah berfirman;

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”. (Al Baqarah; 98). Dalam ayat ini, Allah tidak menggunakan “dhomir” (kata ganti) _hum_ (mereka) untuk menyatakan kalimat yang lebih panjang, yaitu “orang-orang kafir”. Penggunaan sistimatika berbahasa yang tidak biasa ini pasti memiliki sebab. Lantas apakah sebab itu ?.

Syaikh ‘Utsaimiin rahimahullah berkata bahwa tidak digunakannya “dhamiir” _hum_ (mereka) sebagai ganti dari kata “orang-orang kafir” dalam ayat ini untuk memberi pelajaran yang lebih dari sekedar bahwa orang-orang yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail adalah musuh Allah. Tambahan dan penegasan makna yang dimaksud adalah;
1. Orang-orang yang memusuhi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail adalah orang-orang kafir
2. Orang-orang kafir adalah musuh-musuh Allah

Bila hal ini telah dipahami maka diketahui bahwa ;
1. Memusuhi malaikat, rasul, jibril dan mikail adalah sama dengan memusuhi Allah
2. Memusuhi mereka adalah sebab masuknya seorang dalam wilayah kafir
3. Orang-orang kafir adalah musuh Allah
4. Malaikat, rasul, Jibril dan mikail adalah orang dan makhluk yang dicintai Allah karena ketaatannya
5. Diantara makhluk yang dicintai Allah adalah orang-orang shaleh karena keshalehannya
6. Jika demikian maka memusuhi orang-orang yang dicintai Allah karena keshalehannya sama dengan memusuhi Allah
7. Memusuhi orang-orang shaleh karena keshalehannya adalah sebab masuknya seorang dalam wilayah kafir.
8. Orang-orang kafir adalah musuh Allah

Semoga menjadi bahan renungan bagi kita semua dalam segenap interaksi social kita bersama orang-orang sekitar, rekan-rekan kita; baik yang sehaluan maupun yang bersebrangan dalam hal-hal keduniaan, bisnis, politik dan yang lainnya.

Wallahu a’lam bis shawaab

✍️ Penulis : Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc
Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *