Mengagungkan Syiar Allah

Dalam rangkaian ayat-ayat tentang syiar dan ibadah haji, Allah Subhanahu Wa ta’aala berfirman :

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

 “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya” (QS. Al-Hajj ayat 30). Di ayat berikutnya Allah juga berfirman :  

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. ” (QS. Al-Hajj ayat 32)

Dua ayat ini menjelaskan tentang keagungan Allah dan segala sesuatu yang berporos kepada Allah berupa syiar, hukum dan syariatNya. Dan bahwa mengagungkan Hurumatillah (segala yang terhormat dan mulia di sisi Allah) adalah jauh lebih baik hasilnya bagi seorang hamba berupa pahala dan balasan di sisi Allah Subhanahu wata’aala. Di samping itu, hasil besar yang didapatkan dari mengagungkan hurumatillah adalah ketakwaan hati kepada Allah. 

Diantara nama Allah Subhanahu Wata’aala adalah Al-Adziim yang bermakna yang Maha Agung. Keagungan Allah adalah sifat permanen bagiNya dan keagunganNya adalah keagungan yang sempurna,  yang tidak akan berubah dan  tidak akan berkurang sedikitpun.  

Para makhlukNya yang terpilih sangat sadar akan keagungan dan kemuliaan Allah. Lihatlah para malaikat, para hamba pilihan Allah, makhluk mulia, makhluk yang paling dekat denganNya, tidak pernah bermaksiat kepadaNya , mereka adalah para hamba yang sangatlah mengagungkan Allah Subhanahu Wa ta’aala. Sebagian mereka, hidupnya hanya untuk terus bertasbih, mensucikan dan mengagungkan Allah. Sebagian mereka hidup hanya untuk sujud kepada Allah Subhanahu Wa ta’aala.  

Begitu pula para Nabi dan Rasul, manusia terbaik pilihan Allah, mereka adalah hamba – hambaNya yang sangat mengagungkan Allah Subhanahu Wa ta’aala. Tentang para Nabi, Allah Subhanahu Wata’aala  berfirman : 

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”. (QS. Al-Anbiyaa ayat 90) 

Pada ibadah fisik yang paling agung yaitu sholat dan pada  posisi yang menunjukkan kerendahan dan kehinaan diri seorang hamba, yaitu pada waktu ruku, Nabi memerintahkan agar kita, para hamba Allah mengagungkan Allah Subhanahu Wa ta’aala. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : 

فأما الركوع فعظموا فيه الرب

“Adapun dalam posisi ruku, maka agungkanlah Rabb kalian”  (HR. Muslim)

Itulah keadaan hamba-hamba pilihan Allah, jiwanya selalu mengagungkan Allah Subhanahu Wa ta’aala.  Bila kita ingin menjadi hamba yang mulia, maka agungkanlah Allah dan semua syiar dariNya. 

Diantara bentuk dan  kensekuensi mengagungkan Allah adalah mengagungkan apa yang dimuliakan dan diistimewakan oleh Allah baik tempat,  waktu atau syariatNya. Itu semua dengan meyakini keagungannya dan menunaikan segala haknya. 

Mengagungkan Al-Quran dengan meyakini keutamaannya lalu menunaikan segala haknya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangan yang ada di dalamnya adalah termasuk mengagungkan Allah.

Meyakini keistimewaan yang dimiliki bulan Ramadhan lalu mengagungkan dan memuliakan segala apa yang menjadi syariat dan amal sholih di bulan Ramadhan adalah termasuk bagian mengagungkan Allah. 

Meyakini di hati tanpa keraguan akan syariat puasa, meyakini segala hikmahnya dan menjalani puasa dengan memperhatikan adab dan etika di dalamnya adalah termasuk dari mengagungkan syiar-syiar Allah; seluruhnya menjadikan kita hamba yang bertakwa kepada Allah.

Wallahu A’lam

  

️ Penulis : Ustadz Abdusshomad Rifa’i, Lc

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *