Memilih Ringannya Sakit Dunia Daripada Pedihnya Adzab Akhirat

Dalam surat Yusuf, ayat 33, Allah berfirman tentang perkataan Yusuf :

 قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ  فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

 “Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh. Maka Tuhan memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (Surat Yusuf ayat 33 – 34)

 Ini adalah merupakan bagian dari penggalan kisah Nabi Yusuf Alaihissalam. Beliau digoda dan dirayu oleh seorang wanita cantik,  yang mana wanita itu adalah istri dari majikan Nabi Yusuf sendiri. Beliau pun bahkan dipaksa untuk melayani keinginan wanita tersebut dan bila menolak, beliau diancam akan dijebloskan ke dalam penjara. 

 Nabi Allah Yusuf dengan godaan dan fitnah wanita dihadapkan pada dua pilihan berat :

 Pertama,  beliau memilih untuk melayani keinginan wanita tersebut. Ini artinya terjerumus kepada kehinaan dan maksiat yang kemudian menyebabkan kemurkaan Allah subhanahu wata’ala. Ancaman siksa pedih pun diakhirat menunggu.

 Kedua,  Memilih masuk penjara untuk menyelamatkan agama dan menghindari maksiat dengan tidak melayani keinginan wanita yang menggodanya.

 Namun dengan keimanan beliau, Nabi Yusuf lebih memilih adzab yang ringan di dunia. Beliau rela dipenjara daripada jatuh kepada maksiat yang kemudian mengakibatkan murka dan azab Allah yang sangat berat di akhirat. 

 Demikianlah hamba yang beriman, selalu menjauh dari perbuatan maksiat walaupun harus menerima ujian dan musibah yang berat.  Karena dia lebih mengutamakan keridhoan Allah subhanahu wata’ala. Dia lebih baik dipenjara atau bahkan dibunuh agar tidak terjatuh kepada maksiat. Itu bukti dari tulusnya Iman seseorang,  bahwa dia akan menyelamatkan agamanya walaupun siksa menjadi resikonya. Wallahu A’lam

 

 ️ Penulis : Ustadz Abdusshomad Rifai, Lc.

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *