LAKSANAKAN SESUAI TUNTUNAN, DAN JANGAN MENGADA-ADA

image_pdfimage_print

Hukum asal sebuah ibadah adalah haram hingga ada dalil yang menjelaskan syariátnya.

Bertolak dari kaidah ini, ulama menetapkan dua syarat sah ibadah, yaitu; ikhlas dan sesuai tuntunan.

Dikatakan bahwa sebuah ibadah itu sesuai dengan tuntunan agama ketika memenuhi enam kriteria, yaitu;

1. Sebab ibadah yang dilakukan adalah sebab yang syarí (sebab yang benar menurut agama). Contoh ada seorang yang mengatakan kalimat läiläha illallah. Ketika ditanya, mengapa engkau membaca kalimat itu ?. Ia jawab, “karena saya baru saja keluar dari tempat buang hajat”. Tentu ibadah seperti ini tidaklah diperbolehkan karena ia dikaitkan dengan sebuah sebab yang tidak semestinya.

2. Jenis ibadah yang dilakukan harus sesuai dengan dalil atau keterangan agama yang valid. Contoh; ibadah dzikir dengan mengucapkan kata “hu hu hu”, sebagai singkatan dari kata “läiläha illa huwa” (tidak ada Tuhan selain Dia). Bolehkah jenis ibadah demikian dilakukan ?. Jawabanya tentu, “tidak”. Mengapa ? … karena jenis ibadah seperti ini tidaklah dicontohkan.

3. Takaran atau kadar ibadah yang dilakukan tidak boleh menyimpang dari ketentuan syará. Contoh; membaca surah al Fatihah dalam satu rakaat ketika shalat diperintahkan sekali. Maka tidak boleh seorang membaca surah yang mulia tersebut berulang-ulang dalam satu rakaat dengan dalih bahwa surah itu adalah surah termulia dalam al Quran, hingga semakin banyak diulangi, maka akan semakin banyak perolehan pahala orang yang membacanya.

4. Ibadah yang pelaksanaannya terkait dengan waktu tertentu, harus dilakukan pada waktunya itu. Misalnya shalat Ashar adalah jenis shalat yang terikat dengan waktu. Maka tidak dibenarkan bagi seorang melaksanakannya diluar ketentuan waktunya.

5. Ibadah yang pelaksanaannya terikat dengan tempat tertentu, tidak boleh dilakukan kecuali di tempat itu. Contoh; ibadah haji, pelaksanaannya terikat dengan tempat tertentu. Maka seorang yang melaksanakan ritual haji di selain tempat itu, tentu tidaklah benar.

6. Tata cara ibadah yang dilakukan harus sesuai tuntunan. Contoh; berthaharah seusai buang angin dilakukan dengan wudhu. Jika ada yang melakukannya dengan mencuci tempat keluarnya angin itu (dubur), maka tentu cara pelaksanaan ini tidaklah dinyatakan benar karena tidak sesuai dengan tuntunan.

Demikian kriteria yang harus diperhatikan dalam ibadah. Semoga Allah menerima ibadah-ibadah yang kita lakukan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *