Lailatul Qadr

Allah berfirman;

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”. (al Qadr; 1-3)

Satu diantara waktu yang dimuliakan Allah adalah lailatul qadr, dan Allah lah Zat yang memiliki kewenangan untuk memuliakan satu waktu diantara sekian waktu yang Ia ciptakan. Allah berfirman;

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.”. (al Qashshash; 68)

Lailalatul qadr adalah satu diantara nikmat yang Allah berikan bagi ummat ini. Tatkala usia ummat Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bila dibandingkan dengan usia ummat-ummat sebelum Beliau terbilang sangatlah singkat, maka Allah menganugrahkan sebuah nikmat-Nya kepada ummat ini berupa lailatul qadr, yang dinyatakan oleh Allah lebih baik dari 1000 bulan di luar bulan Ramadhan, yaitu bagi orang-orang yang menghidupkannya dengan pelaksanaan ibadah.

Lailatul qadr, mengapa malam ini dinamakan malam (lailatul) qadr?. Penjelasan ulama dalam hal ini adalah beragam;

a. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa kata ”al qadr” berarti takdir atau ketetapan. Malam ini dinamakan malam qadr (lailatul qadr) karena didalamnya Allah menetapkan takdir atau ketetapan tahunan sekalian makhluk. Allah berfirman;

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang ‘hakim’.”. (ad Dukhaan; 4). Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata menafsirkan ayat ini;

في ليلة القدر يفصل من اللوح المحفوظ إلى الكتبة أمر السنة، وما يكون فيها من الآجال والأرزاق، وما يكون فيها إلى آخرها. وهكذا روي عن ابن عمر، وأبي مالك، ومجاهد، والضحاك، وغير واحد من السلف. وقوله: { حكيم } أي: محكم لا يبدل ولا يغير.

“Pada malam qadr, seluruh persoalan yang akan terjadi pada tahun tersebut, berupa ajal sekalian makhluk, rezki, dan perkara-perkara mereka yang lainnya, diserahkan dari al lauh al mahfuudzh kepada para malaikat pencatat. Demikianlah penafsiran dari Ibnu Umar, Abi Malik, Mujahid, Dhahhak, dan lain-lain ulama salaf. Adapun makna dari firman-Nya ‘hakiim’ maksudnya adalah ‘muhkam’, bahwa seluruh perkara setahun ke depan, yang telah diserahkan ke para malaikat pencatat akanlah tetap dan tidak berubah.”(Tafsir al Quran al ‘Adzhiim, 7/246)

b. Pendapat lain menyatakan bahwa kata “al qadr” berarti kemuliaan. Malam ini dinamakan malam qadr karena kemuliaannya di sisi Allah, kemuliaan ibadah didalamnya dan kemuliaan orang-orang yang memakmurkannya dengan ibadah kepada Allah. Allah berfirman;

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkan al Quran pada suatu malam yang diberkahi.”. (ad Dukhaan; 3)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”. (al Qadr; 1-3)

c. Pendapat lain menyatakan bahwa kata “al qadr” berarti sempit. Malam ini dinamakan malam qadr karena ketika itu bumi menjadi sempit dengan berdesakannya para malaikat yang turun ke muka bumi untuk memberikan rahmat kepada seluruh yang menghidupkan malam tersebut dengan ibadah kepada Allah. Dan tidaklah malaikat turun ke suatu tempat melainkan dengan rahmat yang dibawanya. Sebaliknya tidaklah malaikat enggan untuk masuk ke sebuah tempat melainkan karena adanya hal yang menghalanginya berupa kemaksiatan, seperti adanya gambar makhluk bernyawa dan anjing. Allah berfirman tentang turunnya malaikat ke bumi pada malam itu dengan membawa rahmat serta kebaikan hingga fajar menyingsing;

تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ، سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”. (al Qadr; 4-5). Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِينَ ، إِنَّ الْمَلائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى

“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata bahwa lailatul qadr itu akan datang pada malam ke-27 atau ke-29. Sesungguhnya –ketika itu- jumlah malaikat yang ada di bumi lebih banyak dari jumlah bebatuan kerikil.”(HR. Ahmad)

Hadits-Hadits Berkenaan Dengan Waktu Datangnya Lailatul Qadr

Keterangan-keterangan yang berkenaan dengan kedatangan lailatul qadr ada tiga jenis, yaitu;

a. Keterangan yang berisi anjuran untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Diantaranya adalah riwayat Ubadah bin Shamit –radhiyallahu ‘anhu;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يُخْبِرُ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ إِنِّي خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ وَإِنَّهُ تَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ وَالتِّسْعِ وَالْخَمْسِ

“Pernah Rasulullah –shallallahu ’alaihi wa sallam- keluar untuk memberitakan waktu datangnya lailatul qadr. Ketika itu dua orang kaum muslimin bertengkar. Maka Rasulullah –shallallahu ’alaihi wa sallam- berkata; sesungguhnya saya keluar hendak mengabari kalian tentang waktu datangnya lailatul qadr. Namun tersebab karena pertengkaran si Fulan dan si Fulan, maka diangkatlah kabar tersebut (saya dilupakan). Namun saya berharap hal itu adalah baik. Carilah malam tersebut pada malam ke-27, atau ke-29, atau ke-25.”.[HR. Bukhari]. An Nu’maan bin Basyiir –radhiyallahu ’anhu- berkata;

قُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ لَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ لَا نُدْرِكَ الْفَلَاحَ وَكَانُوا يُسَمُّونَهُ السُّحُورَ

“Kami pernah berdiri melaksanakan shalat di bulan Ramadhan pada malam ke-23 hingga sepertiga awal dari malam. Kemudian kami kembali berdiri melaksanakannya pada malam ke-25 hingga setengah malam. Kemudian kami kembali berdiri melaksanakannya pada malam ke-27 hingga hampir-hampir saja kami menyangka bahwa kami tidak akan mendapati waktu sahur (karena shalat yang begitu lama).”(HR. Nasaa’i)

b. Keterangan yang berisi anjuran untuk mencarinya pada malam-malam genap. Diantaranya adalah hadits Bilal –radhiyallahu ‘anhu-;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ

“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda bahwa malam qadr itu jatuh pada malam ke-24.”( HR. Ahmad. Syaikh Syuaib al Arnauth berkata; “Sanad hadits ini lemah karena lemahnya hafalan seorang rawinya yang bernama Abdullah bin Luhai’ah”). Abu Said al Khudry –radhiyallahu ‘anhu- berkata, dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang malam qadr;

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ الْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَا سَعِيدٍ إِنَّكُمْ أَعْلَمُ بِالْعَدَدِ مِنَّا قَالَ أَجَلْ نَحْنُ أَحَقُّ بِذَلِكَ مِنْكُمْ قَالَ قُلْتُ مَا التَّاسِعَةُ وَالسَّابِعَةُ وَالْخَامِسَةُ قَالَ إِذَا مَضَتْ وَاحِدَةٌ وَعِشْرُونَ فَالَّتِي تَلِيهَا ثِنْتَيْنِ وَعِشْرِينَ وَهِيَ التَّاسِعَةُ فَإِذَا مَضَتْ ثَلَاثٌ وَعِشْرُونَ فَالَّتِي تَلِيهَا السَّابِعَةُ فَإِذَا مَضَى خَمْسٌ وَعِشْرُونَ فَالَّتِي تَلِيهَا الْخَامِسَةُ

“Carilah malam tersebut pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan. Carilah malam tersebut pada malam ke-9, 7, dan ke-5. (Abu Nadhrah) berkata; wahai Abu Sa’id; engkaulah yang lebih mengetahui tentang bilangan-bilangan hari daripada kami. Abu Said berkata; tentu, kamilah yang lebih mengetahuinya daripada kalian. (Abu Nadhrah) berkata; kalau demikian, apakah yang dimaksud dengan malam ke-29, 27, dan ke-25 ?. Abu Sa’id berkata; apabila telah berlalu malam ke-21, maka yang setelahnya adalah malam ke-22 dan itulah yang dimaksud dengan malam ke-9. Apabila telah berlalu malam ke-23, maka yang setelahnya adalah malam ke-7. Dan apabila telah berlalu malam ke-25, maka yang setelahnya adalah malam ke-5.”(HR. Muslim). Faidah dari hadits ini bahwa didalamnya ada perintah untuk mencari malam tersebut pada malam-malam genap, yaitu malam ke-22, 24, dan 26 karena malam-malam itulah yang dimaksud dengan malam ke-9, 7 dan 5 (terakhir dari bulan Ramadhan), sebagaimana penafsiran dari Abu Sa’id al Khudri yang telah disebutkan.

c. Keterangan yang berisi anjuran untuk mendapatkannya pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan secara keseluruhan tanpa memilah antara malam-malam genap atau ganjil. Diantara keterangan tentang ini adalah riwayat Aisyah –radhiyallahu ’anha-, dari Rasulullah –shallallahu ’alaihi wa sallam;

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah malam qadr tersebut pada sepuluh malam terahir dari bulan Ramadhan.”(HR. Bukhari).

Maka dari ketiga keterangan ini –wallahu a’lam- yang lebih tepat dan lebih membuka peluang bagi seorang muslim untuk mendapatinya adalah pendapat yang ke-3.

Menguatkan hal ini bahwa Rasulullah –shallallahu ’alaihi wa sallam- mensyari’atkan ibadah i’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan tersebut tanpa memilah antara malam genap dan malam ganjil.

Namun diantara malam-malam tersebut terdapat satu malam yang oleh banyak ulama dinyatakan sebagai waktu yang paling besar peluang datangnya lailatul qadr padanya. Malam tersebut adalah malam ke-27. Abdullah bin Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- berkata;

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنِّي شَيْخٌ كَبِيرٌ عَلِيلٌ يَشُقُّ عَلَيَّ الْقِيَامُ فَأْمُرْنِي بِلَيْلَةٍ لَعَلَّ اللَّهَ يُوَفِّقُنِي فِيهَا لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ عَلَيْكَ بِالسَّابِعَةِ

“Pernah seorang laki-laki mendatangi Rasulullah –shallallahu ’alaihi wa sallam- dan berkata kepadanya; wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sudah berat untuk berdiri (melaksanakan shalat), usia saya telah lanjut dan sayapun sakit-sakitan. (Mendengarnya) Rasulullah –shallallahu ’alaihi wa sallam- memerintahkanku untuk menjaga satu malam, semoga di malam itulah lailatul qadr akan turun. Beliau bersabda; jagalah malam ke-27.” (HR. Ahmad). Ibnu Umar –radhiyallahu ‘anhuma- berkata, dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-tentang perkiraan waktu datangnya lailatul qadr;

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

“Barangsiapa mencari malam tersebut, maka carilah malam itu pada malam ke-27.”.(HR. Ahmad)

Tanda-Tanda Lailalatul Qadr

Terdapat beberapa keterangan dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang menyebutkan beberapa tanda telah datangnya malam qadr. Beberapa riwayat itu adalah;

a. Riwayat Ubay bin Ka’ab –radhiyallahu ‘anhu- ketika Beliau bersumpah bahwa malam qadr itu –betul-betul- terjadi pada malam ke-27. Maka Beliau pun ditanya akan keyakinannya itu. Beliau menjawab bahwa Beliau mengetahui hal tersebut dengan beberapa tanda yang telah disebutkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Beliau berkata;

أَخْبَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لَا شُعَاعَ لَهَا

“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengabari kami bahwa (diantara tanda telah hadirnya malam itu) bahwa matahari (keesokan harinya) terbit tidak menyengat (terbit dengan cahaya sejuk dan tidak menyengat).”(HR. Muslim). Ubadah bin Shamit –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا سَاطِعًا سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ لَا بَرْدَ فِيهَا وَلَا حَرَّ وَلَا يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ فِيهَا حَتَّى تُصْبِحَ

“Sesungguhnya tanda turunnya malam qadr bahwa malam tersebut adalah malam yang terang, seakan padanya bulan purnama yang bercahaya dengan cuaca yang tidak dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu, tidak ada bintang untuk melempar syaithan (bintang jatuh) hingga terbitnya fajar.”(HR. Ahmad).

Doa pada malam qadr

Bagi seorang yang diberi kemuliaan oleh Allah untuk mendapati malam tersebut, maka dianjurkan untuk membaca doa, sebagaimana yang dikabarkan oleh Aisyah –radhiyallahu ’anha-, Beliau berkata;

أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي

“Bagaimana pendapatmu wahai Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- jika seandainya saya mendapati malam qadr, apakah yang harus saya katakan ketika itu ?. Rasulullah bersabda; katakanlah,

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Zat yang maha pemaaf lagi dermawan, dan Engkau suka memaafkan; karenanya maafkanlah segala dosa dan kesalahanku.”. (HR. Tirmidzi).

Demikian beberapa hal berkenaan dengan lailalatul qadr, semoga Allah memasukkan kita semua kedalam golongan orang-orang yang menjumpainya. Wallahu al musta’aan wa huwa hasbuna wa ni’mal wakiil.

 

✍️ Penulis : Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc
Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *