Kisah Yusuf dan para Saudaranya Tanda Kekuasaan Allah

Kisah Nabi Yusuf adalah kisah yang sangat indah. Di dalamnya banyak sekali nasihat dan pelajaran hidup yang bisa dipetik. Dalam surat Yusuf ayat Allah berfirman tentang kisah ini :

لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ. إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya. Ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata” (Surat Yusuf ayat 7dan 8)

Dalam ayat ini kita bisa mengambil banyak pelajaran, diantaranya :

1. Kisah dalam Al-Qur’an tujuan utamanya adalah untuk diambil pelajarannya dan agar seorang hamba memahami dan meresapi tanda kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala. Bukan hanya sebagai penghibur, bahan refreshing yang dinikmati ala dongeng sebelum tidur.

2. Bertanya adalah salah satu metode dalam usaha mendapatkan ilmu.

3. Nilai Al-Quran yang sangat agung akan bisa diambil bagi orang yang mau dan tertarik mengambil ilmu dan pelajaran dari Al-Qur’an tersebut. Adapun orang yang tidak butuh kepada Al-Qur’an tidak akan pernah mendapatkan manfaat dan nilai agung dari Al-Qur’an

4. Banyaknya keturunan adalah diantara kebiasaan para Nabi. Ini ditunjukkan bahwa Yusuf memiliki banyak saudara

5. Dampak negatif dari hasad akan bertambah besar efeknya bila yang memiliki sifat hasad memiliki kekuatan seperti jumlah yang banyak. Para saudara Yusuf telah mendzolimi Yusuf dan orang tua beliau, Ya’kub. Diantara sebabnya adalah mereka berjumlah banyak.

6. Banyak kejahatan dan perbuatan dzalim terjadi, sebab awalnya hanyalah prasangka buruk yang belum tentu benar sesuai fakta. Para saudara Yusuf telah mendzolimi beliau, karena menyangka bahwa sang ayah lebih mencintai Yusuf dan saudaranya Bunyamin lebih dari pada yg lain. Ini hanyalah pransangka buruk mereka yang jauh dari kenyataan.

7. Sifat durhaka anak kepada orang tua bisa dari perbuatan dan bisa juga dari ucapan. Tatkala para saudara Yusuf mengatakan : “..Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata”, ini dianggap sebagai ucapan yang durhaka kepada orang tua.

Wallahu A’lam

✍ Penulis : Ustadz Abdusshomad Rifai, Lc
Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *