Kepentinganmu, Janganlah Menggerus Sikap Adilmu

Saudara-saudara Yusuf ketika memiliki kepentingan dengan ayahnya (nabiullah Ya’quub) berkenan dengan saudara mereka, Bunyamin, mereka panggil saudaranya itu dengan panggilan kesayangan. Mereka berkata, “Izinkanlah kami pergi bersama akhaana (panggilan sayang untuk saudara)”. (Yusuf; 63)

Namun ketika hajat mereka telah selesai, seketika berubalah panggilan itu menjadi panggilan yang mengisyaratkan kebencian dan permusuhan. Mereka berkata kepada ayahnya, “Sesungguhnya anakmu itu telah mencuri”. (Yusuf; 81)Demikianlah manusia dengan sikap yang ditunjukkannya. Spontan sikapnya itu dapat saja berbuah seiring dengan kepentingan yang menyertainya.
Ketika orang yang disayangi sakit, mereka yang sayang berkata, “ia tengah diuji”. Namun jika yang sakit itu adalah orang yang tidak disenangi, orang yang bencipun berkata, “Orang itu tengah disiksa.”.

Ketika seorang yang dicintai tertimpa musibah, spontan orang yang cinta berkata, “Ia diuji karena kebaikannya.”. Namun jika yang tertimpa musibah itu adalah orang yang tidak disenangi, maka spontan lisan akan berkata, “Ia diazab karena kedzhalimannya.”.

Berhati-hatilah menyandangkan takdir Allah kepada hamba berdasarkan hawa nafsu dan kepentingan pribadi atau kelompok anda sendiri.
Seluruh manusia tidak lepas dari banyak kesalahan dan aib. Andai saja bukan karena penghalang yang Allah bentangkan untuk menutupi aib-aib kita, niscaya leher-leher ini akan terus tertunduk menahan beban malu yang telah bertumpuk.

 

✍️ Penulis : Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc
Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *