Jangan Serupa Dengan Mereka

0
201

Dari Anas radhiyallahu ánhu, Beliau berkata; seorang arab badui pernah datang menemui Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- dan bertanya, “Wahai Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- kapankah hari kiamat itu ?.”. Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bertanya; “Apa yang telah engkau siapkan ?.”. Orang itu berkata; “Tiada persiapanku melainkan kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya.”. Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;

إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Sesungguhnya engkau akan bersama orang yang kamu cintai.”[HR. Bukhari].

Cinta adalah bagian dari keimanan. Tetapi cinta bukan sekedar pengakuan. Cinta membutuhkan bukti. Dan salah satu bukti cinta adalah menjadikan sosok yang dicintai sebagai panutan. Olehnya, maka seorang yang mengaku cinta kepada Allah, wajib taat kepada perintah Allah. Dan salah satu bukti ketaatan seorang kepada Allah adalah dengan menjadikan Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- sebagai panutannya dalam menjalani hidup ini. Allah berfirman;

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah wahai Muhmammad kepada ummatmu, jika benar kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku. Jika kalian mengikutiku, niscaya Allah akan cinta kepada kalian dan akan mengampuni dosa-dosa kalian.”. (Ali Imraan; 3)

Allah berfirman;

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh telah ada pada diri Muhammad sosok teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharap perjumpaan dengan Allah dan kebahagiaan di kampung akhirat, dan bagi mereka yang banyak mengingat Allah.”. (Al Ahzaab; 21)

Dan oleh karena itu juga, maka seorang muslim dilarang untuk mencontoh orang-orang kafir dalam adat kebiasaan mereka yang menjadi simbol dari simbol-simbol keberagamaannya.

Suatu ketika, Ummu salamah bercerita kepada Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- tentang gereja di negeri Habasyah yang dipenuhi dengan gambar dan kubur. Mendengar itu, Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda memerintahkan kita untuk tidak menyerupai mereka dengan perbuatannya itu;

أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمْ الْعَبْدُ الصَّالِحُ أَوْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

“Mereka itu adalah sebuah kaum, yang ketika meninggal orang shaleh diantara mereka; maka mereka bangun masjid diatas kuburnya dan mereka membuat patung orang tersebut. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.”[HR. Bukhari].

Diantara kebiasaan orang-orang kafir, penyembah matahari, adalah sujud dan melakukan penghormatan pada setiap terbit dan terbenamnya matahari. Untuk menyelisihinya, Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- melarang kaum muslimin melakukan shalat ketika matahari terbit dan ketika matahari terbenam. Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;

لَا تَحَرَّوْا بِصَلَاتِكُمْ طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلَا غُرُوبَهَا

“Janganlah kalian shalat ketika matahari terbit dan ketika matahari terbenam.”[HR. Bukhari].

Dalam riwayat lain yang disampaikan oleh Ámr bin Ábasah as Sulamiy, tentang sebab pelarangan shalat di waktu itu, Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;

وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ

“Dan ketika itu (pada saat terbit dan terbenamnya matahari), orang-orang kafir bersujud kepada matahari.”[HR. Muslim].

Ketika Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- tiba di kota Madinah, Beliau dapati orang-orang merayakan dan bergembira pada dua hari mereka. Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bertanya; hari apa ini ?. Mereka berkata; dua hari ini adalah hari yang kami rayakan dengan bermain dan bergembira. Maka untuk menyelisihinya, Rasulullah –shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian. Kedua hari itu adalah hari idul fithri dan hari idul adha.”[HR. Abu Daud].

Ketiga contoh yang dipaparkan menunjukkan kepada kita betapa agama ini melarang kita menyerupai kebiasaan dan adat orang-orang kafir yang telah menjadi simbol dari simbol-simbol keberagamaan mereka. Karena menyerupai mereka berarti sama dengan mereka, yang sedikit tidaknya –sadar atau tidak- merupakan satu indikasi cinta. Sedang Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- telah bersabda, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya;

إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Sesungguhnya engkau akan bersama orang-orang yang engkau cintai.”.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda, mencela mereka yang menjadi pengekor orang-orang kafir dengan kebiasaan-kebiasaannya;

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh kalian betul-betul akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang kafir sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga meski mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian akan mengikutinya. Kami berkata, wahai Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam-, apakah yang engkau maksud dengan orang-orang kafir sebelum kami adalah orang-orang yahudi dan nashrani ?. Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda; lantas kalau bukan mereka, siapa lagi ?!.”[HR. Bukhari].

            Maka, adakah kita rela menjadi pengekor-pengekor mereka ?. Atau kita berharap menjadi orang-orang yang dicintai Allah dengan meneladani Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- ?!. Pilihannya ada ditangan kita, dan kebaikan dan keburukannya pun akan kembali kepada kita.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here