Ikutilah Ajaran Ibrahim Alaihimassalam

Dalam surat An-Nahl  ayat 120-122,  Allah berfirman memuji  Nabi Ibrahim Alaihissalam :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ . شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ . وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (Tetapi Beliau termasuk golongan yang) mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.”.

 

Sungguh yang dikandung oleh ayat tersebut adalah pujian luhur dari Allah kepada sosok nabi Ibrahim Alaihissalam. Digambarkan dalam ayat-ayat tersebut bahwa Nabi Ibrahim –alaihissalam-  memiliki beberapa karakter mulia. Nabi Ibrahim adalah “Ummat” yang diartikan oleh para ulama dengan pengajar kebaikan.

Nabi Ibrahim, dari perjalanan hidup dan perjuangan beliau, sangatlah jelas bahwa beliau adalah seorang pendidik dan pengajar yang handal. Beliau ajarkan kepada umat bagaimana cara mengesakan Allah Sang Pencipta. Beliau ajarkan umat ini bahwa bintang, bulan, matahari, patung dan lain sebagainya tidaklah pantas disembah dan dijadikan tuhan. Ini semua beliau sampaikan kepada umat dengan menggunakan ilmu yang kokoh dan hujjah yang sangat kuat. Allah berfirman :

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (Al An’aam; 83)

Nabi Ibrahim adalah sosok yang “qonit” yaitu sangat patuh kepada Allah. Semua ujian dan perintah Allah, beliau jalani dengan penuh keridhoan. Dengan ketaatan dan keridhoan inilah, Nabi Ibrahim dipilih oleh Allah untuk dijadikan sebagai pemimpin.

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. (Al Baqarah; 124)

 Ketaatan Nabi Ibrahim kepada perintah Allah sangatlah besar dan tidak diragukan lagi. Beliau diperintahkan untuk menempatkan dan meninggalkan keluarga beliau, Hajar dan Ismail yang masih bayi di lembah yang tandus, gersang dan belum dihuni oleh satu manusiapun. Dengan penuh keridhoan, beliau laksanakan perintah tersebut.

Di kala anak satu-satunya yang beliau miliki, Ismail beranjak dewasa dan mulai mengisi hati Nabi Ibrahim, beliau diperintahkan untuk menyembelih buah hatinya tersebut. Lagi-lagi dengan keridhoan atas ketentuan Allah, beliau bersegera untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Yang mana dari ketaatan, keridhoan dan pengorbanan Nabi Ibrahim tersebut lahirlah syariat yang sampai saat ini masih kita rasakan manis dan hikmahnya, yaitu syariat berkurban.

Maka tidaklah mengherankan apabila Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim. Allah berfirman ;

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. [Surat An-Nahl ayat; 123]

Ayat ini berisi perintah kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk mengikuti ajaran bapaknya para Nabi, yaitu Nabi Ibrahim Alaihissalam. Dan sekaligus ayat ini menunjukkan pujian yang sangat luhur kepada sosok Nabi Ibrahim, di mana Nabi terbaik yang diutus untuk seluruh umat, yaitu Nabi Muhammad diperintahkan secara khusus oleh Allah untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim. Dan ditambahkan oleh Allah satu rekomendasi yang paling penting dalam kehidupan, yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wata’aala :

وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan bukanlah Ibrahim itu  termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”

Di dalam Al-Quran, sosok Nabi Ibrahim banyak disebutkan dalam bentuk pujian. Kisah- kisah tentang suka duka perjalanan hidup dan perjuangan dakwah beliau yang penuh dengan lika-liku  dan pengorbanan pun disebutkan secara mendetail.

Mulai dari bagaimana beliau  berdialog dengan argumen-argumen yang tepat tak terbantahkan  dengan kaumnya tentang Tuhan sebenarnya. Beliau mengalahkan  debat dengan raja yang dzalim tentang Tuhan yang hak, dilanjutkan bagaimana beliau hancurkan berhala-berhala yang berakibat dibakarnya beliau dalam api yang berkobar, bagaimana beliau diperintahkan untuk meninggalkan keluarga beliau, Hajar dan Ismail yg masih bayi di tempat yang tandus lagi gersang.

Semua itu dijalankan oleh beliau dengan penuh keikhlasan, ketulusan, ketabahan, ketegaran dan hati yang besar.

Dan marilah kita lihat, bagaimana beliau diperintahkan untuk menyembelih anak beliau sendiri, Ismail. Anak yang sudah sekian lama beliau impikan, yang beliau harapkan menemani kesendirian dalam berdakwah di jalan Allah. Di kala anak yang diimpikan tersebut beranjak dewasa dan  mulai mengisi hati dan bagian hidup beliau, beliau diperintahkan untuk menyembelihnya. Sungguh ujian yang sangat berat. Namun itu semua dijalani oleh Nabi Ibrahim dengan penuh ketegaran. Yang mana ketegaran dan keikhlasan beliau tersebut menjadikan beliau sebagai Khalilullah, kekasih Allah. Allah berfirman;

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih kesayangan-Nya” [Surat An-Nisa’ ayat 125]

Potongan ayat ini (surah An Nisa’, ayat 125) menunjukkan betapa mulia dan tingginya derajat sosok Nabi Allah Ibrahim di sisi Allah Subhanahu Wa ta’aala. Allah telah menjadikan beliau sebagai “Al-Kholil” yaitu sebagai kekasih Allah, tingkatan tertinggi yang dicapai seorang hamba dalam mendapatkan cinta Allah.

Dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa datang seseorang menemui Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan mengatakan kepada beliau : “Salam jumpa wahai manusia terbaik !” Nabipun menjawab :

ذَاكَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام

“Manusia terbaik itu adalah Ibrahim Alaihis Salam.”. Sungguh pujian dari Allah dan RasulNya yang sangat mulia nan luhur.

Mulia dan hinanya seorang hamba di sisi Allah Subhanahu Wa ta’aala adalah tergantung pada sejauh mana pengorbanannya untuk Allah. Bila pengorbanannya besar dan penuh ketulusan maka mulialah derajatnya di sisi Allah Subhanahu Wa ta’aala. Namun bila yang dikorbankan hanyalah sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali, maka sejauh itulah nilainya di hadapan Allah.

Nabi Ibrahim menjadi mulia dan tinggi derajatnya di sisi Allah karena pengorbanan Beliau yang tiada tara. Seluruh yang Beliau punya, baik jiwa, harta, tenaga, waktu, bahkan keluarga,  Beliau korbankan seluruhnya untuk Allah Subhanahu Wa ta’aala. Nabi Ibrahim mengorbankan semua waktu dan jiwanya adalah untuk menjalankan dan mentaati perintah Allah. Tidak ada perintah dari Allah, seberat apapun perintah tersebut, kecuali Beliau laksanakan dengan sempurna dan penuh dengan keridhoan.

Perintah Allah untuk khitan di kala umur Beliau mencapai delapan puluhan, Beliau laksanakan dengan sempurna. Perintah Allah yang sangat berat, yang sangat menguji perasaan Beliau untuk meninggalkan keluarganya di lembah tak bertuan dan gersang Beliau lalui dengan penuh keridhoan. Dan puncaknya adalah perintah untuk menyembelih anak semata wayang dan buah hatinya sendiri. Dengan tekad yang bulat penuh dengan keikhlasan, Beliau bersegera melaksanakan perintah Allah tersebut, yang sampai hari ini, buah dari pengorbanan tersebut sekali lagi masih kita rasakan manisnya melalui syariat qurban di hari Idul Adha.

Dengan ketaatan yang luar biasa ini, Nabi Ibrahim dipuji dan dan dijadikan sebagai pemimpin nilai kebaikan bagi manusia. Allah berfirman :

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. [Surat Al-Baqarah 124]

Beliau juga korbankan jiwa dan raga  untuk mentauhidkan Allah dan menegakkan tauhid di bumi Allah, hingga kemudian beliau disematkan oleh Allah :

وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan Ibrahim bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”. [Surat An-Nahl 123]

Maka pantaslah bahwa Nabi Ibrahim adalah “Kekasih Allah” dan bahwa Nabi Muhammad diperintahkan untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim karena pengorbanan Beliau yang tiada tara.

 

Wallahu A’lam

 

️ Penulis : Ustadz Abdusshomad Rifai, Lc

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *