Hadits Qullatain

image_pdfimage_print

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ»، وَفِي لَفْظٍ: «لَمْ يَنْجُسْ» أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Jika banyaknya air telah mencapai dua kullah, maka ia tidak mengandung kotoran.”. Dalam redaksi lain, “maka ia tidak najis”.

 

Penjelasan

Telah dijelaskan pada hadits sebelumnya bahwa para ulama telah sepakat menyatakan jika air terkena najis yang menyebabkan perubahan pada salah satu sifat air tersebut, maka air tersebut secara otomatis akan menjadi air najis, tidak boleh digunakan untuk bersuci (berwudhu / mandi junub).

Namun masalahnya timbul ketika air yang terkena najis itu tidak berubah satu dari tiga sifatnya; adakah air tersebut tetap dapat digunakan untuk berwudhu ?, atau air tersebut telah menjadi najis ?.

Diantara ulama ada yang berpendapat bahwa air tersebut tetap dapat digunakan untuk bersuci jika kadarnya mencapai dua kullah (kurang lebih 190 liter) atau lebih. Diantara dalil mereka adalah hadits yang dikemukakan di awal ulasan ini, yang oleh ulama diistilahkan dengan nama hadits qullataan. Mereka menyatakan bahwa dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika banyaknya air telah mencapai dua kullah, maka ia tidak najis” mengandung makna tersirat bahwa jika kadar air kurang dari dua kullah dan terkena najis, maka secara otomatis air tersebut akan berubah menjadi najis, bahkan meski tidak berubah satu dari tiga sifatnya. Adapun jika kadar air itu mencapai dua kullah atau lebih, maka air tersebut baru dinyatakan sebagai air najis jika terjadi perubahan pada satu dari tiga sifat air karena sebab bercampur dengan najis.

Bagaimana penjelasan detail masalah ini ?. In sya Allah akan disendirikan dalam bahasan khusus terkait masalah “Status hukum air dalam wadah yang bercampur dengan najis, namun tidak berubah salah satu dari sifat air tersebut ?.”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *