Dengki Membutakan dan Mengeraskan Hati

Allah berfirman;

لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ (7) إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (8) اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ} [9]

“Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf; 7-9)

Nabiullah Yusuf ‘alaihissalam adalah satu diantara mereka yang dikaruniai kenabian oleh Allah Ta’ala. Tanda kenabian ini telah diketahui sedari awal oleh ayahnya, yaitu nabiullah Ya’kub ‘aaihissalam. Olehnya, Beliau memberi perhatian lebih kepada Yusuf ‘alaihissalam.

Dalam ayat ini, Allah berfirman, menceritakan keheranan saudara-saudara Yusuf ‘alaihissalam terhadap perhatian ayahnya kepada Yusuf. Mereka berkata ;

وَنَحْنُ عُصْبَةٌ

“Padahal kita ini adalah satu golongan yang kuat.”, kita adalah lebih kuat, lebih kokoh dan lebih bermanfaat bagi ayah kita daripada sang anak kecil itu ?. Praduga ini adalah satu kesalahan.

Selanjutnya, mereka berkata;

إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.”. Keliru yang dimaksud bukanlah keliru dalam masalah agama. Karena mereka semua mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang nabi; sedang jika mereka menyangka bahwa ayah mereka itu telah keliru dalam masalah agama (sesat), tentu keyakinan mereka itu akan menyebabkannya keluar dari Islam (kafir). Namun demikian, praduga tersebut lagi-lagi merupakan kesalahan yang timbul dari prasangka tidak baik dan rasa iri (hasad).

Dua kekesalan mereka itu lantas melahirkan niatan buruk. Mereka berkata;

اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا

“Bunuhlah Yusuf dan buanglah dia ke suatu daerah (yang tidak dikenal)!”.
Hati mereka mengeras hingga mencapai level keinginan membunuh dan menghilangkan nyawa saudaranya sendiri.

Demikianlah dampak negative yang ditimbulkan oleh penyakit hasad dan dengki ini –wal ‘iyaadzu billah-. Bila penyakit ini telah menguasai diri seseorang, niscaya akan membutakan pikiran dan mengeraskan hati hingga ia tidak dapat lagi melihat jalan yang lurus untuk selamanya.

Wallahu a’lam bis shawaab dan semoga Allah senatiasa melindungi hati kita dari sifat keji tersebut dan melindungi kita dari kejahatan orang-orang dengki manakala ia dengki.

✍️ Penulis : Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc
Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *