Catatan Mahasantri : Kunjungan Ke STID Muhammad Natsir

image_pdfimage_print

Senin, 22 April 2019, segarnya udara subuh masih membaluti bumi pebayuran. Usai shalat subuh, di saat mentari masih enggan menampakkan dirinya untuk menyapa embun pagi, waktu menunjukkan pukul 05.30 WIB, para Mahasantri bergegas menyiapkan diri untuk melaksanakan agenda kegiatan hari itu. Sesuai dengan apa yang sudah direncana oleh Mudir Ma’had Aly Al Binaa di tengah kesibukkan kami setelah melewati Penilaian Tengan Semester dan pengabdian mengajar di SDIT Al Binaa, kali ini kami dari Mahasantri Ma’had Aly Al Binaa berkesempatan untuk berkunjung sekaligus studi banding ke STID (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah) Mohammad Natsir, lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Dewan Dakwah Islam Indonesia.
Jam menunjukkan pukul 06.00 WIB, rombongan yang diikuti oleh 36 mahasantri dan empat orang ustadz (Ustadz Abdusshomad Lc, Ustadz Saifuddin Alhak, S.Ag, MA, Ustadz Hairul Qiram, S.sos, dan Ustadz Abdul Rauf) dengan mengendarai bus Al Binaa melaju menuju STID Mohammad Natsir yang berlokasi di daerah Tambun Bekasi Jawan Barat, yang berjarak kurang lebih 60 KM dari Pondok Pesantren Al Binaa.
Bus kendaraan yang kami tumpangi berjalan santai namun pasti. Menelusuri jalan beraspal Kota Cikarang. Bus melaju sangat pelan sebab disepanjang perjalanan kami diwarnai dengan kemacetan lalu lintas yang amat padat oleh kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.
Jalan sangat macet, rekan-rekan kami pun banyak yang tertidur lelap ditengah perjalanan. Waktu tempuh pun serasa sangat lama. Prediksi waktu tempuh sekitar satu jam, molor hingga tiga jam. Dan akhirnya, kami tiba di tempat tujuan, tepat pada pukul 09.30 WIB.
Setibanya di lokasi, kami mendapat sambutan yang begitu hangat oleh para Ustadz kampus STID yang telah menunggu kedatangan kami. Satu persatu kami menghampiri dan menyalami para ustadz, dan kami pun segera diarahkam menuju ruangan meeting yang ada di lantai dua gedung kampus STID Mohammad Natsir.
Perasaan sangat bahagia menggelayut di hati kami, dapat kesempatan bertatap muka dengan para alim dan mengambil banyak pelajaran dari mereka.
Dalam kunjungan ini, ada dua paparan yang disampaikan oleh pihak STID;
Pemaparan pertama seputar sejarah berdirinya Dewan Dakwah Islam Indonesia. Disampaikan dalam pemaparannya bahwa dewan dakwah merupakan media perjuangan yang digagas oleh tokoh ulama Indonesia, yaitu Dr. Mohammad Natsir. Dewan Dakwah Islam Indonesia didirikan untuk membentengi dan membela aqidah dan meningkatkan kefahaman ummat terhadap nilai-nilai Islam dalam segala aspek kehidupan : aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalah, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan sebagai sumbangan dan partisipasi mereka yang cerdas dalam membangun kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, melanggengkan NKRI untuk Indonesia seutuhnya. Dewan Dakwah Islam Indonesia mendirikan lembaga pendidikan dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi, masjid-masjid dan mushalla termasuk masjid kampus, islamic centre di daerah pedalaman dan terpencil, serta menerima amanah waqaf dari masyarakat untuk membangun serta mengelola masjid atau mushallah (musholla) di perkotaan, pedesaan dan daerah terpencil.”
Pemaparan kedua, tidak kalah menarik dari yang pertama. Pada pemaparan ini, kami mendapat cerita sebuah pengalaman salah seorang ustadz yang baru pulang dari perjalanan panjang beliau selama berdakwah di salah satu pelosok negeri yang berada di daerah Sulawesi Barat.
Beliau menceritakan betapa sulitnya akses ke tempat tersebut, dan betapa muslim yang minoritas di tempat itu sangat membutuhkan perhatian dari saudara-saudaranya. Untuk sampai ke tempat tersebut, beliau diantar oleh salah seorang warga setempat dengan mengendarai motor trail karena jalan yang begitu curam dan berbatu.
Kata Beliau inilah pengalaman pertamanya mabuk darat saat menumpang di atas motor. Dan akhirnya, beliau lanjutkan perjalanan melalui jalur sungai dengan arus yang sangat deras. Hingga beliaupun sampai di tujuan setelah menempuh waktu perjalanan selama dua hari dari Jakarta.
Sesampainya di sana, beliau dapati hanya sebuah masjid yang tidak terawat. “Pak ustadz kami di sini ingin sekali belajar Islam, tetapi tidak ada yang mengajari kami”, demikian penuturan salah seorang warga yang seakan memberi kepada saya sebuah energi dan semangat baru untuk terus berada dalam jalur dakwah ini.
Kata beliau, cerita dan pengalaman demikian sangat penting bagi para da’i, agar tertanam dalam diri mereka rasa tanggungjawab dan kepedulian untuk turut andil memperhatikan saudara semuslim yang saat ini tengah berdomisili di berbagai pelosok daerah yang sangat sulit akses keluar masuknya.
Beberapa menit berlalu, banyak manfaat yang kami dapatkan dari kunjungan silaturrahim ini. Kami juga diajak untuk mengelilingi area Dewan Dakwah (DDII). Di tanah yang begitu luas ini kami melihat banyak terdapat bangunan yang berdiri kokoh. Terdapat sekolah-sekolah dari tingkat TK sampai Perguruan tinggi dan terdapat juga Masjid.
Di tengah perjalanan kami menelusuri lokasi, berkumandang lantunan adzan sangat merdu (tanda datangnya waktu shalat dzuhur), kami pun bergegas segera menuju masjid.
Seusai shalat dzuhur kami di arahkan untuk kembali menuju gedung tempat awal kami dan para ustadz berkumpul. Sesampainya di sana kami pun dijamu dengan sebuah hidangan nasi kotak. Suasana jamuan yang hangat yang diselingi dengan perbincangan antar ustadz.
Usai mencicipi hidangan jamuan, selesailah rangkaian acara kunjungan hari ini. Dan atas seluruh pelajaran dan kehangatan sambutan serta jamuannya, segenap civitas Ma’had ‘Aly Al Binaa menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada Ketua STID M Natsir, Ustadz Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I, Kepala LPjM (Lembaga Penjaminan Mutu) STID M Natsir, Dr. Ujang Habibi, M.Pd.I dan kepada segenap jajaran STID Muhammad Natsir. Semoga ke depan ada kerjasama yang terjalin untuk dapat menyukseskan dan meramaikan program-program dakwah Islam di seluruh pelosok negeri.

 

Oleh : Helmi Yahya (Mahasantri Semester IV Ma’had Ali Al Binaa)