Beberapa Kekeliruan Ketika Ramadhan

Setiap kali Ramadhan tiba, sejuta harapan –tentu- ada dalam benak seorang mukmin. Ingin menjadi lebih baik dari Ramadhan yang telah lalu, demikianlah satu diantara harapan tersebut. Ramadhan memang menjanjikan berjuta harapan. Olehnya akan sangat mirislah orang yang membuang kesempatan itu, menyia-nyiakannya, dan melakukan amalan yang justru akan mengurangi bagian yang seharusnya ia dulang atau bahkan memusnahkannya. Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

“Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan berapa banyak orang yang berdiri melaksanakan shalat di malam hari (tapi) tak memperoleh apa-apa melainkan (kantuk dan lelah) akibat begadang”[1]. Seluruh kesia-siaan yang didapatnya itu, tak lain karena perbuatannya sendiri, menodai Ramadhan dengan melakukan hal yang sia-sia atau bahkan yang diharamkan; karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Nah, beberapa hal yang merupakan kesalahan umum yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin –khususnya di Indonesia-, pada saat Ramadhan adalah;

1. Menyambut dan mengisi Ramadhan dengan petasan, mengganggu orang dan kepentingan serta kenyamanan umum.

Khususnya jika petasan itu diledakkan pada waktu-waktu istirahat, terlebih pada waktu-waktu shalat dimana orang-orang memerlukan keheningan agar dapat khusyu’ dalam melaksanakan ibadah (shalat malam, baca al Quran, dll).

2. Merasa sedih, malas, loyo dan tidak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan.

Acapkali perasaan malas datang menghantui mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya; sehingga ini berpengaruh pada produktifitas kerjanya yang cenderung menurun.

Asumsi ini adalah salah, karena sesungguhnya puasa –justru- mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat, serta memiliki amanah dan kesadaran akan pegawasan Allah dalam sekecil apapun tindakan kita.

Sejarah mencatat betapa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, tercapai di tengah bulan Ramadhan.

Ketika berpuasa, peluang untuk korupsi air tatkala wudhu amatlah terbuka (berwudhu sambil minum sedikit), bahkan orang disampingpun tidak akan tahu. Namun ternyata hal tersebut tidak dilakukan karena adanya kesadaran akan pengawasan Allah (muraqabatullah); dan tertanamnya rasa demikian itu pun adalah satu diantara kemenangan besar seorang muslim di bulan Ramadhan.

3. Berpuasa terlebih dahulu dari waktu yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai langkah berjaga-jaga, seandainya ada kekeliruan dalam penetapan awal Ramadhan.

Hal demikian tidaklah dibolehkan, karena seorang dalam melaksanakan puasa Ramadhan haruslah dengan niat yang tegas (yakin), yang tidak disertai dengan keraguan. Olehnya itu, Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;

لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

“Janganlah sekalipun seorang dari kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika hari itu bertepatan dengan puasa sunnah yang telah dijalankannya secara rutin, maka tidak mengapa ia berpuasa ketika itu.”[3].

4. Berpuasa tapi tidak melaksanakan shalat fardhu lima waktu.

Ini penyakit yang -diakui atau tidak- menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah, alias satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “mukmin” dari dirinya. Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَر

“Ikatan yang membedakan kami (kaum muslimin) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Maka barangsiapa meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.”[4].

5. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur.

Kebiasaan ini biasanya menimpa sebagian umat yang tidak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan. Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang membatasi mereka selama 12 jam sebelumnya. Tingkah mereka tidak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa kemarin sore. Mereka tidak juga dewasa dan memahami bahwa esensi dari puasa adalah latihan pengendalian diri. Lantas jika pada akhirnya mereka menjadikan waktu berbuka sebagai ajang balas dendam, maka mungkinkah dinyatakan bahwa mereka itu berhak meyandang predikat lulus dalam ajang latihan pengendalian diri ?!.

6. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat.

Esensi puasa sebagaimana yang telah dipahami adalah latihan menahan diri. Tidak hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari. Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang.

Maka hasil yang ingin dicapai selama masa training ini sesungguhnya adalah munculnya generasi yang mampu menahan pandangan liarnya, mampu menahan lisan, dan mampu menahan diri dari sesuatu yag tidak halal dilakukannya.

Olehnya itu, maka Allah mengingatkan seorang yang berpuasa tetapi tidak juga mau meninggalkan perbuatan maksiat yang dilakukannya. Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

“Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah, namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala puasanya tertolak).”[5].

7. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka sehingga melupakan shalat maghrib.

Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin 5, sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari ; “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”.

Hal lain yang biasanya menyebabkan seorang lalai dari shalat subuh adalah jadwal makan sahur mereka yang terlalu cepat, yang menyebabkan panjangnya rentang waktu antara usainya mereka dari sahur dan awal waktu subuh. Lamanya rentang waktu inilah yang biasanya digunakan oleh orang-orang untuk tidur kembali, dan akhirnya terlelap hingga tidak melaksanakan shalat subuh pada waktunya. Padahal waktu terbaik bersantap sahur adalah di akhir waktu. Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa rentang waktu akhir sahur Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- dengan awal pelaksanaan shalat subuh adalah kurang lebih selama bacaan 50 ayat al Quran[6]. Riwayat ini setidaknya mengisyaratkan dua hal, yaitu; kadar makanan mereka disaat sahur tidak banyak dan waktu sahur mereka adalah di akhir waktu malam. Dan waktu inilah sebenarnya yang sesuai dengan makna “sahar” secara bahasa, yaitu; waktu menjelang subuh.

Membahas masalah sahur, hal yang juga perlu dikritisi adalah kebiasaan membangunkan sahur ala Indonesia. Gubrak-gabruk jam 02.00 … laahaula wa laa quwwata illa billah …. Sungguh memprihatinkan keadaan mereka yang lagi sakit dan butuh istirahat, bayi yang tiba-tiba saja terkaget dari tidur mereka, orang-orang yang lagi beribadah dan sangat membutuhkan keheningan malam. Belum lagi jika yang dijadikan sarana untuk membagunkan ala mereka itu adalah speaker masjid … innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Hal-hal demikian, di luar Ramadhan –tentu- tidak akan ditolelir, karena mengganggu kepentingan umum. Olehnya, janganlah kita menjadikan Ramadhan sebagai mediasi atau tameng untuk melegalkan hal-hal yang mengganggu kepentingan umum tersebut. Dan sesungguhnya Islam yang merupakan rahmat bagi seluruh alam berlepas diri sejauh-jauhnya dari seluruh hal yang dapat mendatangkan dampak buruk bagi alam atau bahkan sebagian kecil dari alam semesta ini.

Hal lain yang juga unik di Negara kita ini adalah kalau dahulu orang-orang memanfaatkan waktu mereka setelah usai bersantap sahur dengan membaca al Quran, -yang dengannya para sahabat mengetahui rentang waktu antara akhir sahur mereka bersama Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- dan awal waktu subuh, yaitu kurang lebih 50 ayat bacaan al Quran-; maka generasi sekarang memanfaatkan rentang waktu itu dengan menonton hiburan khas bersantap sahur, baik berupa tayangan music, gossip selebrity, lawak, dan berbagai tayangan konyol lainnya yang sangat kontra dengan nilai-nilai puasa yang hendak mereka jalankan –wal ‘iyaadzu billah-. Itulah dzikir generasi sekarang mengawali hari-hari puasa mereka. Lantas apa lagi yah dzikir mereka menjelang petang ?. Ternyata dzikir mereka lagi-lagi adalah hiburan menanti buka puasa. Demikianlah generasi kita dicekoki oleh racun pemikiran yang sagat mematikan, wa hasbunallahu wa ni’ma al wakiil.

Masih seputar sahur, kebanyakan orang –khususnya di Negara ini- masih saja memahami waktu imsak –sebagaimana yang diistilahkan secara populer- sebagai waktu awal diharamkannya makan dan minum. Pemahaman ini adalah pemahaman yang salah, karena awal waktu diwajibkannya puasa –sesungguhnya- adalah ketika fajar telah terbit dan bersamaan dengan masuknya waktu shalat subuh. Allah berfirman;

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْر [البقرة : 187]

“Dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar.”. (al Baqarah; 187)

8. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah).

Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, istiqamah dan tekad kuat untuk melakukan reformasi diri, diharapkan dapat menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang.

Menutup aurat bagi wanita, misalnya, akan lebih mudah direalisasikan di bulan Ramadhan daripada di luar bulan tersebut. Maka hendaknya setiap kita menjadikan Ramadhan ini sebagai momentum perubahan. Mari hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah; Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah) dan tidak utuh.

9. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan

Salah satu faktor yang mendasari munculnya fenomena ini adalah merebaknya sebuah hadits lemah yang disandarkan pada Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- yang artinya adalah “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”[7]. Hadits ini tidak saja tertolak dari sisi jalur periwayatan, pun -bila dicermati- tertolak dari sisi matannya atau makna redaksinya. Seluruh aktifitas manusia sesungguhnya bisa bernilai ibadah, kapanpun dilaksanakan. Termasuk tidur, jika dilakukan sesuai dengan adab yang diajarkan oleh Islam dan diniatkan untuk memperkuat diri dan memperbaharui semangat dalam beribadah kepada Allah. Tetapi, jangan pula terlupakan, bahwa seluruh aktifitas mereka, pun dapat bernilai dosa, jika dilakukan secara tidak proporsional menurut kacamata syari’at. Nah bagaimanakah jika seorang tidur dari semenjak lepas sahur hingga dekat dzhuhur, bangun sejenak, dan lantas lanjut lagi hingga dekat waktu berbuka puasa; akankah tidur model ini dinilai sebagai sebuah ibadah ?!.

10. Menjadikan shalat tarwih sebagai alasan keluar rumah dan mejeng dengan atau mencari pasangan.

Shalat tarwih secara berjama’ah adalah salah satu dari syi’ar Ramadhan. Maka sungguh sangatlah naïf jika moment yang berkah ini justru dimanfaatkan untuk melakukan maksiat kepada Allah. Ingat bahwa salah satu yang menjadikan dosa seorang itu menjadi lebih besar di sisi Allah, yaitu ketika dilakukan pada momen-momen, atau tempat-tempat, atau berkenaan dengan benda-benda yang disucikan oleh agama. Sebagai contoh; penistaan al Quran, tidaklah akan sama dosanya dengan penistaan terhadap literature-literatur buatan manusia, meskipun keduanya adalah tindak kejahatan.

Khusus bagi saudariku para muslimah, Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda tentang sebaik-baik tempat shalat buat anda;

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian larang para wanita untuk turut menghadiri jama’ah di masjid. Namun rumah-rumah mereka adalah tempat yang lebih baik bagi mereka untuk melaksanakan shalat.”[8]. Hadits tentang bolehnya wanita keluar untuk melaksanakan shalat di masjid ini berlaku bagi para wanita yang keluar dari rumah-rumahnya dalam keadaan aman dari fitnah, baik yang bersumber dari mereka dan yang dikhawatirkan akan menimpa mereka. Namun bagi mereka yang keluar dengan memakai mukena yang siap untuk ditanggalkan dan digantikan dengan busana mejeng dengan segala asesorisnya, lengkap dengan wangi parfum yang sangat memikat; maka bagi mereka, -tentu- hadits di atas tidak berlaku, bahkan Allah peringatkan mereka;

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى [الأحزاب : 33]

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.”. (al Ahzaab; 33). Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;

أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ

“Siapa saja wanita yang memakai parfum, maka janganlah ia melaksanakan shalat berjama’ah bersama kami (para lelaki).”[9]. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata;

لَوْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ الْمَسْجِدَ كَمَا مُنِعَتْ نِسَاءُ بَنِى إِسْرَائِيلَ

“Sekiranya saja Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- menyaksikan perilaku wanita-wanita saat ini ketika keluar dari rumah-rumah mereka, niscaya Beliau akanlah melarang mereka untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid sebagaimana dahulu para wanita bani Israil dilarang untuk menghadirinya.”[10]. Demikian yang Beliau deskripsikan tentang wanita-wanita di zaman Beliau, maka bagaimana dengan wanita-wanita di zaman sekarang?!.

11. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan (bagi laki-laki muslim).

Sebuah fenomena yang sangat menggembirakan di awal Ramadhan adalah penuh sesaknya masjid dengan para jama’ah. Namun hal yang sangat disayangkan bahwa ternyata feomena baik ini biasanya hanya bertahan hingga 10 hari awal di bulan mulia itu. Selanjutnya mengalami penyusutan hingga pada 10 akhir Ramadhan, dan masjid pun seakan kembali seperti asalnya, kosong melompong, ditinggal para jama’ahnya, yang tengah hijrah ke berbagai pusat-pusat belanja dan pertokoan. Sekali lagi, fenomena ini membuktikan betapa banyak orang yang masih saja memahami agama ini secara parsial (setengah-setengah), dan tidak utuh, sedangkan Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّة [البقرة : 208]

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.”. (al Baqarah; 208). 13. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, membuat cemilan dan masak-memasak untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, padahal pada hari-hari itulah seorang seharusnya lebih giat dalam beribadah dan berburu pahala.

Demikian beberapa contoh dari hal-hal keliru yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin berkenaan dengan Ramadhan. Semoga dengan mengetahuinya akan menjadikan kita lebih mawas diri dan lebih baik dalam memanfaatkan setiap waktu di bulan mulia tersebut. Dan tidak malah menjadikan Ramadhan ibarat fatamorgana, begitu menggiurkan dan membawa harapan, namun seketika akan menjadi hampa dan buyar tatkala ada di hadapan mata. Wallahul musta’an wahuwa waliyyu at taufiq.

________________________________________
[1] (HR. Ahmad, 15 / 428)
[3] HR. Bukhari, (4 / 595)
[4] HR. Ahmad, (38 / 20)
[5] HR. Abu Daud, (2 / 279)
[6] HR. Bukhari, (5 / 6)
[7] Lihat Silsilah al ahaadiits ad dhaifah, syaikh Muhammad Nashiruddin al Baani, no. 4696
[8] HR. Abu Daud, (1 / 222)
[9] HR. Muslim, (2 / 33)
[10] HR. Muslim, (2 / 34)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *