Bagaimana Para Salaf Menyambut Ramadhan ?

Tanpa terasa hari demi hari terus bergulir seiring dengan perjalanan zaman. Dan kini, kita pun telah diantar hingga ke pertengahan bulan Sya’ban. Sebentar lagi, kita akan memasuki gerbang Ramadhan yang menjanjikan setumpuk harapan bagi mereka yang merindukannya.

Bagi mereka yang merindukannya;
*) Bulan Ramadhan adalah sarana untuk kembali memuhasabah diri, sejauh mana keberhasilannya dalam melakukan amalan shaleh pada 11 bulan sebelumnya.
*) Bulan Ramadhan adalah sarana untuk kembali me-refresh dan membekali diri dengan iman dan takwa agar kembali bisa melangkah dan berjuang melawan segala tantangan hidup pada 11 bulan setelahnya.
*) Bulan Ramadhan adalah sarana untuk melebur dosa dan mendulang pahala serta rahmat dan karunia-Nya.
*) Bulan Ramadhan adalah kesempatan bagi setiap kita untuk mengkapling sebuah tempat di dalam surga dan meraih pembebasan dari pedihnya siksa neraka.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

أتاكم رمضان شهر مبارك فرض الله عز و جل عليكم صيامه تفتح فيه أبواب السماء وتغلق فيه أبواب الجحيم وتغل فيه مردة الشياطين

“Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, telah datang menaungi kalian. Allah ta’ala wajibkan bagi kalian berpuasa di bulan tersebut. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka; ditutup pintu-pintu neraka; dan para pembesar syaithan-pun dibelenggu.”. (HR. an Nasaai)

إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لِكُلِّ عَبْدٍ مِنْهُمْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَة

“Sesungguhnya Allah ta’ala -di bulan Ramadhan- mempunyai orang-orang yang akan Ia bebaskan dari api neraka pada setiap siang dan malam hari. Pada bulan itu, setiap muslim memiliki do’a yang akan dijawab pada setiap siang dan malam hari.”. (HR. Ahmad).

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, dengan segenap iman dan harapan; niscaya akan diampuni segala dosa-dosanya yang telah lalu.”. (HR. Bukhari)

Mereka yang merindukannya …
Bulan Ramadhan adalah tamu agung dan sangat dinanti oleh seluruh kaum muslimin di seluruh belahan dunia. Merupakan hal yang sangat wajar bagi seorang yang akan kedatangan tamu agung untuk bergegas mempersiapkan diri menyambut kedatangannya. Maka demikianlah keadaan orang-orang beriman; rasa rindu untuk kembali berjumpa dengan Ramadhan, -tentu- menjadikan mereka –jauh-jauh hari- telah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut kedatangannya. Mu’alla bin Al Fadhl berkata;

كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم رمضان، ثم يدعونه ستة أشهر أن يتقبله منهم

“Para salaf, enam bulan sebelum Ramadhan berdoa agar mereka kembali dapat berjumpa dengannya; dan enam bulan setelahnya, mereka berdoa agar diterima segala ibadah mereka di bulan Ramadhan.”.

Diantara persiapan itu adalah kembali membuka lembaran-lembaran pena para ulama tentang hukum-hukum berkenaan dengan Ramadhan. Menikmati setiap uraian, penjelasan dan untaian nasehat mereka dalam menghadapi tamu agung tersebut. Disebutkan dalam sebuah riwayat;

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، وَعَرَفَ حُدُودَهُ، وَتَحَفَّظَ مِمَّا كَانَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَتَحَفَّظَ فِيهِ، كَفَّرَ مَا قَبْلَهُ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, ia tahu batasan-batasannya dan berusaha menjaga hal-hal yang wajib dijaganya dalam bulan tersebut, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.”. (HR. Ahmad)

Diantara persiapan itu adalah berpuasa di bulan sya’ban, yang mungkin diibaratkan sebagai “geladi” sebelum pelaksanaan Ramadhan agar dalam pelaksanaannya dapat lebih sempurna dan maksimal.

Diantara persiapan itu adalah dengan mulai menghitung hari dan melihat hilal pada malam ke-30 di bulan Sya’ban. Hal demikian, tentu merupakan satu diantara perwujudan kesungguhan seseorang dalam menyambut Ramadhan. Ibnu Umar –radhiyallahu ’anhuma- berkata;

تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلاَلَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنِّى رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

“Orang-orang bersungguh-sungguh mengamati munculnya hilal bulan Ramadhan. (Ketika telah melihatnya), saya pun mengabari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa saya telah melihatnya. Mengetahui hal itu, Beliaupun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk memulai puasanya.”. (HR. Abu Daud)

Diantara bentuk kegembiraan menyambut bulan Ramadhan yaitu dengan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman akan kedatangannya. Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika Ramadhan telah datang, maka Beliau berkata kepada para sahabtnya;

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Ramadhan telah datang menghampirimu. Allah mewajibkan kalian berpuasa di bulan itu. Pintu-pintu langit akan dibuka ketika itu, pintu-pintu neraka akan ditutup, dan para pembesar syaithan akan dibelenggu. Di bulan itu, terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang diharamkan kebaikannya, sungguh ia telah diharamkan (dari kebaikan yang melimpah).”. (HR an-Nasaa’i)

Demikianlah para salaf dalam menyambut Ramadhan. Betapa tidak, kembali berjumpa dengan Ramadhan adalah sebuah nikmat dan keutamaan yang tidak akan diraih oleh mereka yang tidak lagi berkesempatan menjumpainya. Olehnya, di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua orang sahabat. Satu dari keduanya sangat rajin beribadah, dan akhirnya wafat sebagai syahid. Adapun yang kedua, maka Beliau wafat setahun setelahnya (tidak sebagai syahid). Setelah wafat, Thalhah melihat dalam mimpinya bahwa sahabat yang wafat belakangan ternyata masuk lebih dahulu ke surga, kemudian barulah setelah itu sahabat yang wafat sebagai syahid tersebut. Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda;

أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ هَذَا بَعْدَهُ سَنَةً؟» قَالُوا: بَلَى، قَالَ: «وَأَدْرَكَ رَمَضَانَ فَصَامَ، وَصَلَّى كَذَا وَكَذَا مِنْ سَجْدَةٍ فِي السَّنَةِ؟» قَالُوا: بَلَى، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Bukankah orang kedua itu masih hidup setelahnya selama setahun ?.”. Mereka berkata; “Ia”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Bukanlah orang kedua itu masih mendapati ramadhan dan berpuasa ?. Dan bukankah ia masih mendapati shalat dan kemudian sujud selama setahun ?”. Mereka berkata; “Ia”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sungguh perbedaan antara keduanya lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi.”. (HR. Ibnu Majah)

Olehnya, tiada doa kita jelang Ramadhan ini, melainkan sebagaimana yang dinyatakan oleh imam Yahya bin Abi Katsir rohimahullah adalah:

كان من دعائهم : اللهمّ سلّمني إلى رمضان, و سلّم لي رمضان, و تسلّمه منّي متقبلاً

“Diantara doa-doa mereka (para ulama sholeh terdahulu): “ Ya Allah sampaikan lah aku ke bulan Ramadhan, dan serahkanlah Ramadhan untuk ku (sehingga Engkau Memberikan kemudahan kepadaku untuk bisa maksimal dalam beribadah di bulan Ramadhan), dan terimalah amal ibadahku di bulan Ramadhan ini di sisi Mu.”. (Lathoiful Maaarif, hal.264)

Semoga Allah Ta`ala mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, dan memudahkan kita untuk bisa maksimal dalam melaksanakan segala amal ibadah di bulan Ramadhan ini, serta menerima segala amal ibadah kita, lalu memasukkan kita ke dalam surga dan menjauhkan kita dari api neraka. Aamiin.

✍️ Penulis : Ustadz Abul Mauludi dan Muhammad Irfan Zain, Lc
Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *