Sepuluh Wasiat Allah (bag. 5)

Wasiat ke-2

Berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, ibu dan bapak

Berbuat baik kepada ke-2 orang tua adalah suatu hal yang wajib dilakukan oleh setiap orang, terkhusus bagi kaum muslimin. 

Kewajiban untuk berbuat baik ini, tidak saja ditujukan kepada orang tua yang seagama, bahkan wajib pula bagi segenap muslim berbuat baik kepada ke-2 orang tuanya yang tidak seagama. Allah -ta’ala- berfirman;

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ [لقمان/14]

“Dan Kami perintahkan kepada manusia  (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya;  ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun  . Bersyukurlah  kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Lukman; 14)

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [لقمان/15]

“Dan jika keduanya memaksamu untuk  mempersekutukan  dengan  Aku  sesuatu yang  tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan  baik,  dan  ikutilah jalan   orang   yang  kembali  kepada-Ku,  kemudian  hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Lukman; 15). Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah -ta’ala- (kepada seseorang) tergantung pada keridhaan ke-2 orang tuanya, dan kemarahan Allah -ta’ala- (kepada seseorang) tergantung pada kemarahan ke-2 orang tuanya.”[HR. Tirmidzi].

أَلَا أُحَدِّثُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ قَالَ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَوْ قَوْلُ الزُّورِ فَمَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

“Maukah kalian aku kabari tentang sebesar-besarnya dosa kepada Allah -ta’ala-?. Para sahabat berkata; kami mau wahai Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-bersabda; syirik kepada Allah -ta’ala-, dan durhaka kepada ke-2 orang tua. (Abu bakrah –radhiyallahu ‘anhu-) berkata; ketika itu Beliau duduk dalam keadaan bertelekan, lantas Beliau bersabda; demikian pula sumpah palsu, demikian pula sumpah palsu; demikianlah, Beliau terus mengulangi perkataan tersebut, hingga kami (merasa iba) dan berkata; kalau saja Beliau berhenti.”[HR. Tirmidzi]. 

Berbuat baik kepada kedua orang tua dapat diwujudkan dengan berbagai macam cara, yaitu;  

1. Diwujudkan dalam bentuk perbuatan, misalnya dengan berkhidmat (membantu) mereka menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya, melaksanakan perintahnya ketika mereka memintanya, dan contoh-contoh yang semisal dengan itu.

2. Selain itu, perbuatan baik ini –juga- wajib diwujudkan dalam bentuk perkataan, yaitu dengan menjaga adab ketika berbicara dengan mereka berdua, tidak menghardik, tidak membesarkan suara dihadapan mereka, dan contoh-contoh yang semisal dengan itu. Allah -ta’ala- berfirman;

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24) [الإسراء/23، 24]

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”. (al Israa; 23-24). 

Masuk pula dalam adab berbicara kepada kedua orang tua yaitu tidak memanggil mereka berdua dengan menyebut namanya. Dan adab ini telah dicontohkan oleh nabiullah Ibrahim alaihissalam, di mana Beliau memanggil ayahnya yang kafir dengan panggilan yang sangat santun, sebagaimana diberitakan oleh Allah;

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (44) يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا [مريم/44، 45]

“Wahai ayahandaku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai ayahandaku, sesungguhnya Aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. Demikianlah adab yang ditunjukkan oleh nabiullah Ibrahim kepada ayahnya yang kafir, maka –tentu- terhadap orang tua yang muslim, adab ini lebih utama untuk ditujukan kepada mereka.

3. Perbuatan baik kepada keduanya wajib juga diwujudkan dengan harta, yaitu seorang anak tidak boleh berlaku bakhil kepada mereka dengan harta yang ia miliki. Kalau ia memiliki kelebihan harta, maka merupakan hal yang sangat pantas baginya untuk memberikan sebagian dari kelebihan hartanya tersebut kepada orang tua yang selama ini telah bersusah payah membesarkan dan mengurusinya.

Demikian beberapa bentuk bakti (birr) yang wajib untuk diberikan oleh seorang anak kepada kedua orang tuanya.

 

Penulis : Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *