Sepuluh Wasiat Allah (bag. 4)

Wasiat Pertama

Tidak berlaku syirik (mempersekutukan sesuatu dengan Dia)

Syirik adalah menduakan Allah dalam suatu hal yang menjadi kekhususuan Nya, baik dalam hak rububiyah Nya, uluhiyyah Nya atau asmaa dan sifat Nya.

Diantara contoh syirik dalam uluhiyyah Allah adalah perbuatan seorang yang mengangkat perantara –dari orang-orang yang telah wafat dan diklaim sebagai wali Allah- untuk menyampaikan doa yang ia panjatkan kepada Allah. Misalnya dengan mengatakan; “Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan perantaraan Syaikh Fulan atau dengan perantaraan rasul-Mu, Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam- agar diberi kelapangan rezki dan kesehatan.”. Hal ini adalah satu diantara contoh perbuatan syirik kepada Allah, karena doa itu adalah ibadah yang merupakan hak prerogative Allah, tidak boleh disimpangkan kepada siapapun dari makhluk-Nya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa itu adalah ibadah.”. Allah berfirman;

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِي [الفاتحة/5]

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”. (al Faatihah; 5). Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه

“Apabila engkau memohon, maka mohonlah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka minta tolonglah kepada Allah.”.

Salah satu contoh syirik kepada Allah dalam kekhususan nama dan sifat Nya adalah perbuatan seorang menyamakan Allah dalam salah satu dari sifat-Nya. Misalnya; salah satu dari sifat Allah adalah maha mengetahui segala perkara ghaib. Maka bila suatu ketika ada orang yang mengakui bahwa dirinya mengetahui perkara ghaib, atau ia meyakini bahwa ada seorang yang dapat mengetahui perkara ghaib, niscaya orang tersebut telah jatuh dalam kubangan syirik, dalam persoalan nama dan sifat-sifat Allah. Allah berfirman;

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِين [الأنعام/59]

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”. (al An’aam; 59)

Olehnya itu, seorang diharamkan pergi ke dukun atau yang semacamnya, lantas bertanya, -terlebih- membenarkan kabar yang disampaikan oleh dukun atau paranormal tersebut, atau bahkan yang lebih parah adalah meyakini akan adanya seorang yang berserikat dengan Allah –secara mutlak- dalam pengetahuan terhadap perkara-perkara ghaib;  

📌 Barangsiapa yang datang ke dukun atau paranormal untuk bertanya, meski tidak percaya, maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَة

“Barangsiapa mendatangi paranormal, lantas ia menanyakan sesuatu padanya (yang berkenaan dengan perkara ghaib), niscaya tidaklah akan diterima (pahala) shalatnya selama 40 malam.”. 

📌 Dan jika ia bertanya dan percaya akan keterangan yang disampaikan oleh sang dukun atau paranormal tersebut – yaitu selama ia meyakini bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh sang dukun itu semata adalah kemampuan yang diberikan oleh Allah kepadanya-, maka selain tidak diterima pahala shalatnya selama 40 hari, pun ia dikategorikan sebagai orang yang ingkar terhadap syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ يَوْما

“Barangsiapa mendatangi paranormal dan membenarkan informasi darinya, maka tidaklah akan diterima (pahala) shalatnya selama 40 hari.”. 

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau paranormal dan ia mempercayai kabar yang disampaikannya, maka sungguh ia telah kafir (ingkar) terhadap syari’at yang telah diturunkan kepada Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam-.”

📌 Namun jika ia meyakini akan adanya seorang yang berserikat dengan Allah –secara mutlak- dalam pengetahuan terhadap perkara-perkara ghaib, maka tidak diragukan lagi bahwa keyakinan semacam ini adalah keyakinan yang akan menjadikan seorang keluar dari wilayah keislamannya. 

 

Penulis : Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *