Sepuluh Wasiat Allah (bag. 3)

Wasiat Pertama

Tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia

 

Syirik adalah sebesar-besar dosa yang seorang hamba lakukan terhadap Zat Yang telah menciptakan dan mengaruniakannya berbagai macam nikmat yang tiada terhingga. (Luqmaan; 13)

Karena besarnya kedzaliman seorang hamba yang berlaku syirik, maka Allah telah menetapkan beberapa konsukwensi yang akan diterima oleh orang tersebut sebagai hukuman atas kejahatan terbesar yang telah ia perbuat; sanksi di dunia dan sanksi di akhirat;

*) Dosa seorang yang melakukan syirik tidak akan diampuni hingga ia bertaubat kepada Allah -ta’ala-. (An-nisaa’; 48)

*) Seorang yang berlaku syirik kepada Allah -ta’ala-, halal darahnya (sesuai dengan mekanisme yang dibenarkan dalam aturan agama). (At-taubah; 5)

*) Seluruh amalan baik yang telah dilakukan oleh seseorang akan musnah, bila ia melakukan perbuatan syirik kepada-Nya. (Az-zumaar; 65)

*) Tidak boleh menikah dengan orang-orang musyrik. (Al-baqarah; 221)

*) Orang musyrik tidak mewarisi seorang muslim, demikian –juga- sebaliknya. Rasulullah –-shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda; “Seorang muslim tidak mewarisi kafir, dan seorang kafir pun tidak mewarisi seorang muslim.”.

*) Seorang yang meninggal dalam keadaan musyrik; tidak dimandikan, tidak diberi kafan,tidak dishalati dan tidak pula dikuburkan pada pekuburan kaum muslimin.

*) Orang musyrik tidak akan masuk kedalam syurga untuk selamanya. (Al-maidah; 72)

Demikianlah hukuman yang Allah -ta’ala- siapkan bagi orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang menduakan Allah –ta’ala- dalam segala hal yang menjadi keberhakan-Nya sendiri; baik berupa hak rububiyah-Nya (pengaturan terhadap seluruh makhluk Nya), uluhiyyah-Nya (keberhakanNya untuk dijadikan satu-satunya sembahan yang benar) atau nama dan sifat-Nya.

Diantara contoh perbuatan menduakan Allah -ta’ala- dalam rububiyyah-Nya adalah perbuatan mengkultuskan orang atau tokoh tertentu secara berlebihan hingga menyelisihi ketetuan Allah -ta’ala-. Disebutkan dalam ‘Kitab Tauhid’, sebuah judul bab;

من أطاع العلماء والأمراء في تحريم ما أحل الله أو تحليل ما حرمه فقد اتخذهم أربابا من دون الله

“Barangsiapa taat kepada para ulama dan para pemimpin dalam mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah atau dalam menghalalkan sesuatu yang diharamkan-Nya, maka sungguh ia telah mengangkatnya sebagai tuhan-tuhan tandingan selain Allah.”. Judul bab ini tidak lain merupakan salah satu dari penafsiran firman Allah -ta’ala-;

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ [التوبة/31]

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.”. 

Olehnya itu, berkaitan dengan ketaatan kepada pemimpin atau tokoh tertentu, hanyalah diperbolehkan pada hal-hal ma’ruf (yang baik dan bukan kemaksiatan). Adapun bila yang diperintahkan itu adalah sebuah kemaksiatan, maka tidak boleh diikuti, -bahkan- yang memerintah dan yang diperintah –keduanya- wajib tunduk –hanya- kepada Allah. 

Mempertegas hal ini adalah riwayat yang disebutkan oleh Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu-;

بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – سَرِيَّةً ، وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يُطِيعُوهُ ، فَغَضِبَ عَلَيْهِمْ وَقَالَ أَلَيْسَ قَدْ أَمَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ تُطِيعُونِى قَالُوا بَلَى . قَالَ عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ لَمَا جَمَعْتُمْ حَطَبًا وَأَوْقَدْتُمْ نَارًا ، ثُمَّ دَخَلْتُمْ فِيهَا ، فَجَمَعُوا حَطَبًا فَأَوْقَدُوا ، فَلَمَّا هَمُّوا بِالدُّخُولِ فَقَامَ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ ، قَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّمَا تَبِعْنَا النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فِرَارًا مِنَ النَّارِ ، أَفَنَدْخُلُهَا ، فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ خَمَدَتِ النَّارُ ، وَسَكَنَ غَضَبُهُ ، فَذُكِرَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « لَوْ دَخَلُوهَا مَا خَرَجُوا مِنْهَا أَبَدًا ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ »

“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah mengutus sebuah pasukan, dan Beliau menunjuk seorang dari Anshar sebagai pemimpin bagi mereka, dan menyuruh mereka untuk taat kepada sang pemimpin itu. Maka suatu waktu, sang pemimpin itu marah kepada pasukannya. Ia berkata; bukankah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- telah memerintahkan kalian untuk taat kepadaku ?!. Mereka menjawab; ya. Sang pemimpin berkata –dalam keadaan yang sangat marah-; kalau demikian kumpulkanlah kayu bakar, sulutlah apinya dan masuklah kedalamnya !. Maka mereka pun mengumpulkan kayu bakar dan menyulutnya. Namun ketika mereka akan membakar diri mereka, sebagian mereka berkata; bukankah kita mengikuti ajaran Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- agar kita selamat dari panasnya api ?!. Lantas, haruskah kita sekarang membakar diri-diri kita ?!!. Maka ketika mereka berada dalam kebimbangan tersebut, api pun berangsur padam, seiring dengan redamnya kemarahan sang pemimpin. Akhirnya, kabar ini pun diceritakan kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan Beliau bersabda; “Jika seandainya mereka masuk ke dalam api tersebut, niscaya mereka tidak akan pernah keluar darinya untuk selamanya. Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah ditujukan kepada perintah yang baik.”.

(Bersambung in sya Allah)

 

Penulis : Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *