Iman Kepada Perkara Ghaib

Allah berfirman:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Diantara ciri orang-orang bertakwa adalah menegakkan shalat dan mengeluarkan sebagaian dari rezki yang telah Kami berikan kepada mereka.”. (Al Baqarah; 3)

Diantara ciri orang bertakwa adalah senantiasa melakukan ibadah secara baik. Diantara ibadah wajib yang senantiasa dijaga oleh mereka yang bertakwa adalah shalat dan zakat.

Adakah nilai nominal keduniaan yang akan didapatkan oleh manusia hingga mereka harus senantiasa menjaga shalatnya ?

Adakah penambahan nominal harta yang akan didapatkan dengan infak dan membayar zakat ?

Secara kasat mata, nominal keduaniaan tersebut mustahil didapatkan. Olehnya, tidak jarang dijumpai fenomena pelarangan shalat yang dilakukan oleh perusahaan tertentu kepada karyawannya dengan dalih akan menurunkan produkktifitas kerja dan hasil perusahaan. Sebagaimana dijumpai di tengah masyarakat fenomena kikir dan bakhil untuk sekedar berbagi sedikit harta kepada mereka yang sangat membutuhkannya.

Pada titik inilah, tingkat keimanan seorang diuji oleh Allah; adakah dia tetap akan menjaga shalatnya ?, adakah dia tetap akan membantu saudaranya yang membutuhkan ?, dan seterusnya.

Jawaban, “Ya” dari pertanyaan tersebut tidaklah akan muncul melainkan dari mereka yang beriman kepada perkara ghaib.

Olehnya –wallahu a’lam-, “berimana kepada perkara ghaib” disebutkan pada urutan pertama dari sekian ciri orang-orang bertakwa di dalam surah Al Baqarah tersebut.

 

️ Penulis : Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc

Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *