Fiqh Qurban

Diantara wujud kemurahan Allah kepada hamba-Nya adalah syari’at kurban. Dengannya Allah membuka pintu bagi hamba-Nya untuk mendulang pahala yang sungguh teramat besar dan banyak bila dibandingkan dengan usia mereka yang sungguh sangat terbatas. Di sisi lain, Allah memberi keluasan bagi hamba-Nya yang tidak berkecukupan untuk turut merasakan kegembiraan di hari yang agung dan mulia, yaitu hari-hari awal di bulan Dzulhijjah.

Kurban yang dilaksanakan dengan ikhlas merupakan simbol ketakwaan seorang hamba dan kecintaannya kepada Allah. Allah berfirman;

لَن يَنَالَ اللهَ لحُوُمُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَناَلُهُ التَّقْوَى مٍنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”. (Al-hajj; 37). Mengingat hal tersebut, maka Allah sangat mencintai ibadah itu -bahkan- lebih dari kecintaan-Nya kepada ibadah apapun selainnya, yang dilakukan pada hari ke-10 di bulan Dzulhijjah tersebut, sedangakan –dikesempatan lain- Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyatakan bahwa sekecil apapun amal shaleh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, maka nilainya disisi Allah akanlah lebih mulia dibandingkan dengan jihad –sekalipun- yang dikerjakan diluar hari-hari itu.
Maka bila demikian keutamaan beramal pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, lantas bagaimanakah pahala yang Allah Subhanahu wa ta’ala siapkan bagi orang-orang yang berkurban pada hari ke-10 di bulan tersebut ?. Disebutkan dalam sebuah riwayat, tentang keutamaan berkurban;

ما عمل ابن آدم يوم النحر عملا هو أعظم عند الله -أو أحب إلى الله- من إراقة الدم وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع على الأرض

“Tiada satupun amalan seorang manusia yang lebih mulia atau lebih dicintai oleh Allah -ketika itu- daripada mengalirkan darah kurban. Sesungguhnya tetesan darah kurban itu akan tiba pada sebuah tempat di sisi Allah, sebelum jatuh kepermukaan bumi.”.[Hadits ini diriwayatkan oleh imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya. Syaikh al Baani –rahimahullah- menyatakannya sebagai hadits yang lemah (Silsilah Dha’ifah, 2/14). Imam al Mubarakfuuri –rahimahullah- berkata mengomentari pernyataan Ibnu al ‘Arabi bahwa tidak ada satupun hadits shahih yang berkenaan dengan keutamaan ibadah qurban; “Pernyataan Ibnu al ‘Arabi adalah tepat. Adapun hadits dalam bab ini (hadits tentang keutamaan qurban sebagaimana yang telah disebutkan), maka yang nampak bahwa derajatnya adalah hasan, dan tidak sampai pada derajat shahih.”. (Tuhfatu al Ahwadzi, 5/63)]

Hukum Pelaksanaan Ibadah Qurban

Kebanyakan ulama menilai bahwa hukum melakukan ibadah kurban adalah sunnah mu’akkadah [Bidaayatu al Mujtahid, 1/597]. Bagi orang-orang yang memiliki kesanggupan, sangat tidak disenangi jika mereka tidak melaksanakannya. Allah berfirman;

فصل لربك وانحر

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (Al-kautsar; 2). Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

من وجد سعة لأن يضحي فلم يضح فلا يحضر مصلانا

“Barangsiapa memiliki kesanggupan (untuk berkurban) lantas ia tidak berkurban, maka janganlah ia menghadiri lapangan tempat shalat kami ini.”.[Syaikh al Baani –rahimahullah- berkata dalam “Shahih at Targhiib wa at Tarhiib, 1/264” bahwa hadits ini shahih secara mauquuf kepada Abu Hurairah]
Namun demikian kerasnya kecaman terhadap orang-orang yang memiliki keluasan rezki lantas tidak berkurban, tetaplah ibadah ini bukan merupakan sebuah hal yang wajib. Karenanya, beberapa orang sahabat pernah meninggalkannya sebagai penerangan kepada ummat bahwa hukum ibadah ini bukan wajib. Diantara sahabat yang dimaksud adalah Abu Bakar, Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum jami’an [Dinukil dari ceramah as Syaikh Shaaleh Alu as Syaikh yang disalin ulang oleh Salim al Jazaairi, Maktabah as Syaikh Shaaleh Alu as Syaikh].

Jenis Hewan Yang Dikurbankan

Jenis hewan yang boleh dikurbankan adalah unta, sapi, kambing, dan domba. Hewan-hewan inilah yang masuk dalam kategori “Bahimatu Al-an’am”. Allah berfirman;

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa “bahimatu al-an’am.” (Al-hajj; 28)
Imam Ibnu al Qayyim -rahimahullah- berkata; “Tidak dikenal dari kebiasaan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan tidak juga dari para sahabatnya, bahwa mereka pernah menyembelih selain hewan-hewan itu ketika melakukan kurban, hady dan tidak pula ketika akikah.”. (Zaadul Ma’aad, 2/285)].

Syarat-syarat Hewan Sembelihan

Dipersyaratkan bagi sahnya hewan sembelihan yaitu umurnya telah mencapai usia tertentu;
1. Usia unta yang sah dijadikan hewan kurban adalah 5 tahun.
2. Usia sapi yang sah dijadikan hewan kurban adalah 2 tahun.
3. Usia kambing yang sah dijadikan hewan kurban adalah 1 tahun.
4. Usia domba yang sah dijadikan hewan kurban adalah 6 bulan.
Usia ketiga jenis hewan yang pertama disebut musinnah, maka jika seorang sulit mendapatkan hewan dengan kategori usia tersebut, bolehlah ketika itu berkurban dengan domba yang berusia 6 bulan (jadza’ah). Rasulullah shallallahu ‘alaiahi wasallam bersabda;

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْن

“Janganlah kalian menyembelih melainkan hewan-hewan “musinnah”. Namun jika kalian sulit mendapatkan hewan semacam itu, maka bolehlah kalian menyembelih jadza’ah dari hewan jenis domba [HR. Muslim, 1/142].”

Dipersyaratkan pula bagi sahnya hewan kurban yaitu selamatnya hewan tersebut dari cacat yang nyata dan dapat menurunkan kwalitas hewan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaiahi wasallam bersabda;

لا يجوز من الضحايا العوراء البين عورها والعرجاء البين عرجها والمريضة البين مرضها والعجفاء التي لا تنقى

“Empat jenis hewan yang tidak sah dijadikan hewan kurban yaitu; hewan yang buta sebelah matanya dengan kebutaan yang jelas, hewan yang pincang dengan kepincangan yang jelas, hewan yang sakit dengan sakit yang jelas dan hewan yang sangat kurus tidak memiliki sumsum.”.[HR. Nasaa’I, 7/215]

Diikutkan pula dalam kategori cacat yang telah disebutkan adalah cacat yang lebih parah dari yang telah disebutkan dan hewan yang telah dipotong kemaluan dan testisnya. Syaikh Shaleh bin Abdul Aziz Aalu as Syaikh berkata; “Apabila hewan sembelihan itu terpotong kemaluan dan testisnya, maka jenis ini tidak sah untuh dijadikan hewan kurban menurut kesepakatan para ulama. Namun jika hewan itu dikebiri dengan –hanya- mengikat kedua testisnya dan tidak memotong kemaluannya, maka jenis ini tidak mengapa untuk dijadikan hewan sembelihan.”. (Ceramah Beliau berjudul ‘Ahkaam al hadyi wa al Adhaahi’ yang disalin oleh Saalim al Jazaairi).

Adapun hewan-hewan yang terpotong setengah atau lebih dari tanduk atau telinganya, maka hewan demikian oleh sebagian ulama dinyatakan makruh untuk dijadikan sebagai hewan kurban. Olehnya maka Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam memerintahkan seseorang yang akan menyembelih kurban untuk memeriksa mata, telinga dan giginya. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata;

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَسْتَشْرِفَ الْعَيْنَ وَالْأُذُنَ وَلَا نُضَحِّيَ بِشَرْقَاءَ وَلَا خَرْقَاءَ وَلَا مُقَابَلَةٍ وَلَا مُدَابَرَةٍ

“Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam memerintahkan kami memeriksa mata dan telinga hewan kurban; dan agar kami tidak berkurban dengan hewan yang terpotong sebagian daun telinganya dan yang lubang telinganya, yang terpotong pinggir bawah atau pinggir atas daun telinganya.”[HR. Ahmad, 2/316]. Abu Adh-dhahhak (Ubaid bin Fairuuz) pernah berkata kepada Al-baraa’ –radhiyallahu ‘anhu- perihal cacat yang terdapat pada hewan sembelihan;

إني أكره أن يكون في القرن نقص وأن يكون في السن نقص قال ما كرهته فدعه ولا تحرمه على أحد

“Sesungguhnya saya tidak senang kepada hewan yang cacat tanduk dan giginya. Al-baraa’ berkata; jika engkau tidak senang pada sesuatu maka tinggalkanlah, namun janganlah engkau mengharamkannya atas seorangpun.”[HR. ahmad, 4/284].

Adapun hewan yang hanya diperas testisnya, maka sah dijadikan hewan kurban. Bahkan ada keterangan yang menyebutkan tentang disenanginya memilih domba yang telah dikebiri sebagai hewan kurban, karena mempunyai daging yang lebih banyak. Aisyah dan Abi Hurairah -radhiyallahu ‘anhuma- berkata;

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان إذا أراد أن يضحي اشترى كبشين عظيمين أقرنين أملحين موجوءين

“Ketika Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ingin menyembelih hewan kurban maka Beliau membeli dua ekor domba besar yang bertanduk, berwarna putih yang berpadu dengan sedikit warna hitam, dan telah dikebiri (diperas testisnya).”. (HR. Ibnu Majah, 2 /1043)

Demikian pula hewan cacat dengan cacat yang ringan, yang tidak terlalu berpengaruh terhadap harga dan kualitas daging; tidak -pula- mengapa untuk dijadikan hewan kurban. Disebutkan dalam al Bidayah, (1/601);

أجمعوا على أن ما كان من هذه الأربع –المذكور في حديث؛ لا يجوز من الضحايا العوراء البين عورها- خفيفا فلا تأثير له في منع الإجزاء

“Para ulama telah sepakat menyatakan bahwa keempat cacat yang tidak sah dengannya hewan sembelihan, bilamana kadarnya hanya sedikit, maka yang demikian itu bukanlah merupakan sebab tidak sahnya hewan itu dijadikan sebagai hewan sembelihan.”.

Jika cacat pada hewan timbul setelah hewan tersebut dibeli dan siap untuk dikurbankan, maka hendaklah dilihat pada orang yang menyimapan hewan itu. Bila orang tersebut telah melakukan penjagaan dan pemeliharaan yang sesuai dengan prosudur, maka tidaklah mengapa. Tetapi bila ia tidak melakukan hal tersebut menurut prosudur yang semestinya, maka hendaklah ia menggantinya.

Beberapa Ketentuan Bagi Orang Yang Menyembelih

Bagi seorang yang akan menyembelih, maka Rasulullah shallallahu ‘alaiahi wasallam bersabda;

إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظفاره

“Apabila kalian telah melihat hilal Dzulhijjah, dan salah seorang dari kalian berkehendak untuk melakukan kurban, maka janganlah ia memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.[HR. Muslim, 6 / 1563]”.

Ketentuan ini hanya berlaku bagi seorang yang akan menyembelih untuk dirinya. Adapun bagi tukang sembelih (orang-orang yang akan menyembelih bagi orang lain dan bukan untuk dirinya) atau orang-orang yang diikutkan oleh mereka yang menyembelih dalam sembelihan, maka tidaklah berlaku ketentuan ini atas mereka.

Beberapa Ketentuan Bagi Orang Yang Menyembelih

Diantara hukum yang berkenaan dengan penyembelih adalah hendaklah yang menyembelih binatang kurban adalah orang yang hendak melaksanakan kurban. Meski demikian, tidak mengapa diwakilkan kepada seorang yang mahir dalam penyembelihan. Dan bila ia mewakilkannya kepada seorang, disunnahkan baginya untuk menyaksikan proses penyembelihan dan turut mengucapkan basmalah serta takbir bersama orang yang diwakilkan untuk menyembelih itu. Disebutkan dalam “al Mughni”, (11/117), bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda kepada Fathimah -radhiyallahu ‘anha- ;

احضري أضحيتك يغفر لك بأول قطرة من دمها

“Hadirilah hewan sembelihanmu ketika disembelih oleh yang engkau wakilkan, karena sesungguhnya dosamu akan dihapuskan pada tetes pertama dari darah hewan itu.”. Namun hadits ini dinyatakan oleh syaikh Nashiruddin al Baani -rahimahullah- sebagai hadits munkar. (as Silsilah ad Dha’ifah, 2/15)
Disaat menyembelih, seorang yang menyembelih disunnahkan berkata;

بسم الله الله أكبر اللهم هذا منك و لك اللهم هذا عن فلان و عن آل فلان

“Dengan nama Allah, Allah maha besar. Ya Allah sembelihan ini merupakan nikmat dari-Mu dan hanya untuk-Mu. Ya Allah, sembelihan ini adalah dari Fulan (disebutkan nama orang yang memiliki sembelihan) dan juga dari keluarga Fulan.[Lihat al Mughni, 3/462]”.

Mengucapkan basmalah tatkala menyembelih oleh sebagian ulama adalah sebuah perkara yang wajib, karenanya hal ini perlu diperhatikan. Maka bila seorang lupa mengucapkannya tatkala menyembelih, hendaklah ia mengucapkannya tatkala ingat. Aisyah berkata;

إِنَّ هَا هُنَا أَقْوَامًا حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ بِشِرْكٍ يَأْتُونَا بِلُحْمَانٍ لَا نَدْرِي يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا أَمْ لَا قَالَ اذْكُرُوا أَنْتُمْ اسْمَ اللَّهِ وَكُلُوا

“Sesungguhnya beberapa orang (yang baru memeluk Islam) biasanya datang menghadiahkan daging dari hewan sembelihan, sedangkan kami ragu; apakah mereka membaca “bismillah” atau tidak ?!. Rasulullah shallallahu ‘alaiahi wasallam bersabda; “Kalau demikian, bacalah oleh kalian bismillah, setelah itu makanlah hewan tersebut”.”[HR. Bukhari, 18/410].

Diantara hukum-hukum berkenaan dengan penyembelihan, hendaklah seorang yang menyembelih membagi daging kurban menjadi tiga bagian; sepertiga bagian untuk dirinya, sepertiga bagian untuk dihadiahkan dan sepertiga bagian untuk disedekahkan kepada orang-orang miskin. Menyedekahkan hewan kurban kepada orang miskin -oleh sebagian ulama- adalah perkara wajib, karena maksud dari kurban adalah mengalirkan darah dan bersedekah. Allah berfirman;

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا القَانِعَ وَالمُعْتَرَّ

“Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-hajj; 36). Olehnya, tidaklah pantas bagi seorang muslim menggugurkan pahala ibadahnya dengan melakukan hal yang dimurkai Allah, diantaranya adalah menghalangi seorang miskin untuk mendapatkan haknya di hari yang mulia tersebut.

Dipersyaratkan pula dalam proses penyembelihan yaitu; memotong empat urat di leher binatang sembelihan. Keempat urat itu adalah dua buah urat yang berada di sisi kiri dan kanan leher hewan, saluran makanan dan saluran pernafasan hewan tersebut.

Tatkala menyembelih, hendaklah menajamkan pisau dan tidak menyiksa hewan itu. Rasulullah shallallahu ‘alaiahi wasallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kewajiban berbuat baik atas segala sesuatu. Apabila kalian menyembelih, maka hendaklah kalian berlaku baik ketika menyembelih; dan apabila kalian membunuh, maka hendaklah kalian berlaku baik dalam melakukannya. Hendaklah seorang yang hendak menyembelih menajamkan pisau dan berlaku baik terhadap hewan sembelihan sebelum menyembelihnya.[HR. Ahmad, 28/ 337]”.

Interval Waktu Penyembelihan

Waktu penyembelihan dimulai setelah khutbah shalat I’ed dan berakhir setelah masuknya waktu maghrib pada hari ke-3 setelah hari raya. Rasulullah shallallahu ‘alaiahi wasallam bersabda;

أيام مِنَى أيام أكل وشرب وذكر لله تعالى

“Hari-hari Mina itu (hari ke-11, 12 dan 13 dari bulan Dzulhijjah) adalah hari-hari makan, minum dan hari-hari berdzikir”, dan masuk dalam kategori berdzikir adalah menyembelih.[HR Ibnu Majah, 1/ 548]”.

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى وَمَنْ كَانَ لَمْ يَذْبَحْ حَتَّى صَلَّيْنَا فَلْيَذْبَحْ عَلَى اسْمِ اللَّه

“Barangsiapa menyembelih sebelum shalat I’ed, maka hendaklah dia mengulanginya setelah pelaksanaan shalat I’ed. Adapun bagi seorang yang belum menyembelih hingga usai shalat, maka hendaklah ia menyembelih setelah shalat dengan membaca basmalah.[HR. Bukhari, 14/ 29] ”.

Menyertakan Orang Lain Dalam Ibadah Qurban

Dalam pelaksanaan ibadah qurban, boleh bersyarikat (kongsi) antara tujuh orang untuk menyembelih seekor unta atau sapi. Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata;

نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

“Kami pernah berserikat (kongsi) sebanyak tujuh orang bersama Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk menyembelih seekor unta dan seekor sapi.”[HR. Muslim, 4/ 87]. Namun hal demikian tidaklah berlaku bila hewan kurban itu adalah kambing atau domba.

Bila hewan kurban berupa kambing atau domba; maka boleh menyertakan keluarga atau siapa saja dalam kurban yang dilakukan. Disebutkan dalam sebuah riwayat, pernah Rasulullah shallallahu ‘alaiahi wasallam menyembelih dua ekor domba. Lantas Beliau berkata pada salah satu dari domba yang disembelihnya;

اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ مُحَمَّدٍ وَعَنْ آلِ مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, kurban ini adalah untuk Muhammad dan untuk keluarga Muhammad.” Kemudian, pada hewan yang kedua Beliau berkata;

اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ أُمَّتِي لِمَنْ شَهِدَ لَكَ بِالتَّوْحِيدِ ، وَشَهِدَ لِي بِالْبَلاغِ

“Ya Allah, kurban ini adalah untuk ummatku yang mentauhidkan-Mu dan mempersaksikan kerasulanku.[HR. Thabraani, 3/302]”.

Demikian juga bila hewan kurban itu berupa sapi atau unta; bila tujuh orang berserikat menyembelih satu ekor sapi, maka kurban masing-masing dari ketujuh orang tersebut telah mewakili dia dan keluarganya. [http://www.binbaz.org.sa/noor/2803]

Kurban Bertepatan Dengan Aqiqah

Diantara hukum lainnya adalah bila hari korban bertepatan dengan hari aqiqah, bolehkah menggabungkan ibadah qurban ke dalam ibadah aqiqah ?.
Beberapa ulama menyatakan bahwa hal itu boleh saja dilakukan, karena esensi dari aqiqah adalah mengalirkan darah hewan sebagai rasa syukur, dan esensi ini pun telah ada pada ibadah qurban.

Disamping itu, hukum pelaksanaan qurban lebih ditekankan (lebih besar) dari hukum pelaksanaan aqiqah; olehnya boleh memasukkan (menggabungkan) pelaksanaan ibadah yang lebih kecil ke dalam pelaksanaan ibadah yang lebih besar. Namun jika masing-masing ibadah tersebut dilakukan secara terpisah, maka -tentulah- hal itu akan lebih utama.

Utang Untuk Kurban & Arisan Kurban

Berkurban adalah salah satu hal yang sangat di anjurkan dalam islam, dan menyembelih kurban termasuk amal shaleh yang paling utama. Ummul Mu’minin Aisyah Radiyallahu ‘anha menceritakan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah anak adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (idul adha) yang lebih dicintai Allah melebihi mengalirkan darah (qurban) maka hendaklah kalian senang karenanya.( HR Tirmizi dan ibnu majah).
Melihat begitu agungnya amalan berkurban maka ada dari beberapa kaum muslimin yang berusaha untuk bisa berkurban setiap tahun dan mereka mengadakan arisan kurban. Maka bagaimanakah hukum arisan kurban ini?.

Berbicara mengenai arisan maka akadnya adalah qardh (pinjam-meminjam) yang didalamnya tidak ada persyaratan pertambahan nominal hutang yang diberikan. Jadi hakikat arisan adalah hutang. Sekelompok orang sepakat untuk mengeluarkan uang dengan nominal yang sama, kemudian salah seorang dari mereka berhak menerima uang yang terkumpul berdasarkan undian dan semua anggota menerima nominal yang sama. Maka hal ini diperbolehkan secara syariah. Dalilnya adalah bahwa hukum asal mu’amalah adalah boleh kecuali bila terdapat hal-hal yang diharamkan.

Adapun mengenai hukum berkurban dengan berhutang;
*) Sebagian ulama ada yang menganjurkannya meskipun dengan berhutang. Diantaranya adalah imam abu hatim sebagaimana dijelaskan ibnu katsir dalam kitabnya tafsir Al Quran Al ‘Azhim ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala dalam surah Al Hajj ayat yang ke 36. Beliau menukil perkataan sufyan at Tsauri rahimahullah yang mengatakan : “Dulu Abu Hatim pernah berhutang agar dapat membeli unta untuk kurban. Beliau ditanya, “Apakah kamu berhutang untuk membeli unta kurban? “ kemudian beliau menjawab, “ saya mendengar firman Allah Ta’ala :

وَالبُدْنَ جَعَلْنها لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللّه لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌ

Dan unta – unta itu kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. (Q.S Al Hajj : 36 ). Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksud kebaikan dalam ayat tersebut adalah balasan pahala kelak di akhirat. Sedangkan Mujahid, seorang tabi’in, murid sahabat yang bernama Ibnu abbas radiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa yang dimaksud kebaikan dalam ayat tersebut adalah pahala dan kemanfaatan.(Tafsir Al Quran Al ‘Azhim 5 hal 415-416).

*) Sebagian ulama ada yang menyarankan untuk melunasi hutang terlebih dahulu dari pada berkurban. Diantaranya adalah syaikh Ibnu Utsaimin. Beliau mengatakan, “jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutangnya dari pada berkurban”.( syarhu al mumti’, 7/ 455).

Adapun pendapat yang paling tepat adalah dengan menjama’ (menggabungkan pendapat keduanya). Pendapat ‘ulama yang menyarankan untuk berkurban meskipun harus berhutang adalah untuk orang yang keadaannya mudah/mampu dalam melunasi hutang atau memang untuk mereka yang hutangnya memiliki interval jatuh tempo yang masih panjang.
Sedangkan pendapat ‘ulama yang menganjurkan untuk melunasi hutang terlebih dahulu dari pada berkurban adalah bagi mereka yang kesulitan/ tidak mampu melunasi hutangnya atau hutangnya telah jatuh tempo, atau pemiliknya meminta kepadanya untuk segera melunasi hutangnya.
Maka jika arisan kurban itu termasuk sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau mudah untuk melunasinya, hukum arisan kurban ini adalah baik, diperbolehkan dan dapat menolong kaum muslimin untuk bisa melaksanakan perintah Allah dan menghidupkan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu berkurban pada hari ‘idul adha.

Upah Pemotong

Tidak boleh memberi upah berupa daging atau bagian tubuh yang lain dari hewan kurban kepada seorang yang ditugaskan untuk menyembelih hewan. Sebab hal ini karena qurban adalah ibadah, dagingnya tidak diperjualbelikan, demikian pula anggota tubuhnya yang lain. Maka seorang yang mengupah tukang potong dengan anggota tubuh tertentu dari hewan kurban berarti telah memperjualbelikannya. Ali –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أُقَسِّمَ لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلَالَهَا عَلَى الْمَسَاكِينِ وَلَا أُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا شَيْئًا مِنْهَا

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan kepadaku untuk mengurusi kurban-kurbannya; membagi-bagikan daging, kulit dan pakaiannya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi suatu apapun dari kurban kepada penyembelihnya.”. [Muttafaq ‘alaihi. Lihat Buluughul Maraam, no. 1353]”.

Meski demikian, tidak mengapa mengupah mereka dengan mengambil dari sumber selain dari hewan kurban. Demikian juga tidak mengapa menghadiahkan daging atau anggota tubuh lain dari hewan kurban kepada mereka, selama berupa hadiah dan bukan sebagai upah. [Taysiir al ‘Allaam, 1/ 381].

 

✍️ Penulis : Ustadz Muhammad Mukhtar, Lc & Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc
Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *