Al Hadits Hujjatun Bi Nafsihi Fil Aqaaid wal Ahkaam (*)

Buku ini dikarang oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Baani rahimahullah.

Secara umum buku ini berisi penjelasan tentang kedudukan hadits sebagai satu diantara sumber hukum dalam agama Islam, baik dalam masalah-masalah akidah atau masalah-masalah fiqh.

Mengawali penjelasannya, Beliau mulai dengan memperkenalkan beberapa istilah penting berkaitan dengan pembahasan.

 

📒 Defenisi Beberapa Istilah 📒

 

Defenisi Sunnah 

Secara etimologi, sunnah berarti jalan yang ditempuh oleh seorang dan yang terbiasa dilakukannya dalam kehidupannya.

Adapun secara terminology, sunnah adalah segala yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa perkataan, perbuatan atau diamnya beliau (taqriir) terhadap sesuatu yang berkenaan atau memiliki konsukwensi hukum agama.

Sunnah dalam pembahasan ini adalah sunnah dalam terminology ahli hadits, bukan dalam wilayah pembicaraan masalah fiqh. Dalam pembahasan fiqh, sunnah adalah segala hal yang diperintahkan agama, namun tidak diwajibkan.

 

Defenisi Hadits

Secara etimologi, hadits adalah hal yang diperbincangkan, baik secara lisan maupun secara tulisan.

Berdasarkan pengertian dalam tinjauan Bahasa ini, maka sebagian ulama condong mengaitkan definisi hadits secara terminology hanya pada hal yang berkenaan dengan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun sunnah, maka dikaitkan dengan perbuatan dan taqriir (diamnya beliau terhadap sebuah kejadian yang diketahuinya).

Namun mengingat bahwa hulu dari penyandaran sunnah maupun hadits itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka secara terminology, mayoritas ulama menyamakan saja defenisi keduanya.

 

Defenisi Khabar

Secara etimologi, khabar memiliki defenisi yang sama dengan defenisi hadits. Olehnya, secara peristilahan sebagian ulama ada yang menyamakannya dengan defenisi hadits dan sunnah.

Namun yang lebih tepat pendapat yang menyatakan bahwa istilah khabar memiliki cakupan defenisi yang lebih luas dari istilah hadits dan sunnah.

Jika hulu dari sebuah kejadian disandarkan kepada Rasulullah, maka diistilahkan dengan sebutan hadits atau sunnah. Adapun jika hulu dari kejadian tersebut juga disandarkan kepada yang selainnya, maka diistilahkan dengan sebutan khabar. Bila demikian maka sunnah dan hadits adalah bagian dari khabar.

 

Defenisi Atsar

Defenis atsar secara bahasa adalah segala yang bersumber dari para pendahulu. Defenisi ini sama dengan defenisi khabar.

Namun secara peristilahan, sebagian ulama ada yang membatasi wilayah cakupan dari defenisi atsar ini pada tiga generasi saja, yaitu; generasi sahabat, taabi’ien dan atbaaut taabi’ien. Pembatasan wilayah cakupan dari defenisi ini adalah baik untuk membedakan antara hadits marfu’ (sanadnya bersambung hingga ke Rasulullah) dan hadits mauquuf (hadits yang sanadnya hanya sampai ke sahabat) saja.

 

Sanad dan Matan

Sebuah hadits terdiri dari dua bagian inti, yaitu sanad dan matan.

Sanad adalah kumpulan para perawi hadits yang meriwayatkan sebuah redaksi hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; dimulai dari imam terakhir yang meriwayatkan sebuah hadits hingga ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun yang dimaksud dengan matan adalah redaksi hadits yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya seluruh amal itu terkait dengan niat. Dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkannya. Maka barangsiapa yang hijrah karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya; niscaya hijrahnya tersebut akan dinilai seperti niatnya itu 

 Hadits ini diriwayatkan oleh imam Bukhari yang mendapatkannya dari Al Humaidiy, yang mendapatkannya dari Sufyan, yang mendapatkannya dari Yahya bin Sa’id Al Anshaari, yang mendapatkannya dari Muhammad bin Ibrahim At Taimiy, yang mendapatkannya dari ‘Alqamah bin Waqqash Al Laitsi, yang mendapatkannya dari Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu.

Kumpulan perawi hadits tersebut dari imam Bukhari hingga ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah yang diistilahkan dengan sebutan sanad hadits. Adapun redaksi haditsnya, maka diistilahkan dengan sebutan matan hadits.

Dengan adanya sanad hadits, maka Alhamdulillah para ulama dapat memilah berita-berita yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; banar atau dusta.

Jika sebuah berita disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka para ulama akan memeriksa jalur sanadnya hingga ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ternyata sanad berita tersebut tidak memenuhi kriteria sanad yang harus dimiliki oleh sebuah hadits shahih; maka bisa diprediksi bahwa penyandaran berita itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak valid. Demikian juga jika ternyata salah seorang perawi hadits tersebut adalah seorang yang terkenal suka berbohong, maka validitas informasi itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam patut untuk diragukan.

Mengetahui sanad hadits adalah satu diantara pilar agama yang melindunginya dari kedustaan orang-orang yang gemar memanipulasi informasi untuk memuluskan agenda jahatnya. Muhammad bin Sirin berkata;

 لمْ يَكُونُوا يَسْألونَ عَنِ الإِسْنَادِ. فَلمَّا وَقَعَتِ الفِتْنَةُ، قَالوا: سَمُّوا لنَا رِجَالكُمْ. فَيُنْظَرُ إِلى أَهْلِ السُّنَةِ فَيُؤُخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلى أَهْلِ البِدَعِ فَلا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

 Dahulu tidaklah para ulama menanyakan sanad sebuah hadits. Namun ketika fitnah telah merebak, mereka lantas menanyakannya, “Sebutkan sanad hadits itu !”. Setelah itu, mereka pelajari para perawi hadits yang disebutkan. Jika para perawi itu adalah ahlus sunnah, maka mereka menerima haditsnya. Tetapi jika para perawi itu adalah ahlul bid’ah, maka mereka tolak haditsnya.”. Imam Abdullah bin Mubarak berkata

 الإِسْنَادُ مِنَ الدِينِ، وَلوْلا الإِسْنَادُ لقَال مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

 Isnad (penyebutan sanad) adalah bagian dari agama. Jika saja tidak ada sanad, niscaya setiap orang akan berkata sesuka hatinya

Mengingat pentingnya memastikan validitas sebuah informasi yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka para ulama telah menetapkan kaidah dan pokok-pokok pikiran dalam menentukan shahih-tidaknya sebuah hadits; baik dari sisi sanad maupun matannya. Kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar itu mereka khususkan dalam sebuah bahasan disiplin ilmu tersendiri, yang diistilahkan dengan ilmu musthalah hadits.

 

Jenis-Jenis Hadits

Dari sudut pandang jalan periwayatannya, ulama membagi hadits menjadi dua bagian, yaitu: hadits mutawatir dan hadits ahad

 

A. Hadits Mutawatir

Secara istilah, hadits mutawatir adalah kabar atau berita tentang sebuah perkara yang dilihat atau didengar (mahsuus). Kabar itu bersumber dari sekumpulan orang terpercaya yang jumlahnya banyak hingga mustahil secara adat maupun akal berkumpulnya mereka untuk menyepakati sebuah kabar dusta. Demikianlah keadaan kabar atau informasi ini dari satu tingkat ke tingkatan berikutnya hingga sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; berupa kabar tentang perkataan, perbuatan atau taqriir beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari uraian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ada empat syarat yang harus terpenuhi dari sebuah hadits agar masuk dalam kategori hadits mutawatir:

1.       Masing-masing perawi hadits harus meyakini secara benar keabsahan hadits yang diriwayatkannya (pengetahuan itu tidak dibangun di atas praduga atau persepsi).

2.       Keyakinan tersebut harus bersandarkan kepada sesuatu yang dapat disaksikan atau didengarkan.

3.       Hadits tersebut bersumber dari banyak orang, yang tidak memungkinkan mereka untuk bersepakat dalam sebuah kedustaan.

4.       Hendaknya para perawi ber jumlah constant (tetap) pada setiap tingkatan periwayatannya.

Demikianlah empat syarat yang harus terpenuhi dari sebuah hadits agar masuk dalam kategori hadits mutawatir. Adapun kesamaan redaksional, maka tidaklah menjadi syarat. Meski sebuah hadits diriwayatkan dengan susunan redaksi yang berbeda-beda, tetaplah hadits tersebut dinyatakan mutawatir, jika mengandung makna yang sama dan memenuhi empat syarat yang telah disebutkan.

Status sebuah hadits mutawatir adalah valid secara yakin (yufiidul ‘ilm).

 

B. Hadits Ahad

Hadits ahad adalah hadits yang tidak memiliki kriteria yang dimiliki oleh hadits mutawatir. Hadits ini terbagi menjadi 3 kategori, yaitu;

1. Hadits gharib; yaitu hadits yang diriwayatkan oleh satu orang perawi pada seluruh atau satu dari tingkatan periwayatannya.

2. Hadits aziz; yaitu hadits yang diriwayatkan oleh dua orang perawi pada seluruh atau satu dari tingkatan periwayatannya.

3. Hadits masyhur atau mustafiidh; yaitu hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari dua orang perawi namun tidak mencapai jumlah mutawatir pada seluruh atau satu dari tingkatan periwayatannya.

Diantara hadits ahad ada yang masuk dalam kategori hadits shahih, ada juga yang masuk dalam kategori hadits hasan dan ada juga yang masuk dalam kategori hadits lemah.

Status sebuah hadits ahad adalah valid secara yakin, jika disepakati keshahihannya. Tetapi jika ada sebahagian yang tidak menyatakannya shahih, maka statusnya bagi yang menyatakannya shahih adalah valid menurut prediksi yang kuat (yufiidu ad dzhann al ghaalib).

 

_______________

(*) Tulisan ini adalah materi berlanjut kajian albinaamenyapa, “ngaji kitab Al Hadits Hujjatun Bi Nafsihi Fil Aqaaid wal Ahkaam”. Setiap ada tambahan rubrik, in sya Allah akan diupdate di link ini.